Pesona Napal Licin

Pada suatu masa terdapat sekelompok masyarakat di daerah hulu sungai Rawas yang tidak menetap di satu tempat, mereka selalu berpindah-pindah untuk membuka lahan dan ladang yang baru, terus begitu sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mulai tinggal di satu tempat yang sama, selamanya, setelah melalui kesepakatan, mereka memilih satu tempat dan mulai melakukan pembersihan, menebangi semua pepohonan yang ada untuk membangun sebuah desa, batang pohon-batang pohon itu mereka biarkan tergeletak di tempatnya sampai satu bulan, menunggu semuanya kering sehingga lebih mudah dibakar.

Satu bulan kemudian mereka kembali datang ke lokasi bakal desa mereka, namun mereka terkejut, batang pohon yang tadinya bergeletakan sekarang telah hilang!, Lokasi bakal desa mereka yang tadinya dipenuhi batang pohon yang berkaparan sekarang telah bersih, licin, mereka tidak tahu apa yang terjadi tapi mereka senang bukan main karena itu meringankan pekerjaan mereka dan desa bisa segera didirikan.

Mereka lalu memberi nama desa mereka dengan nama ‘Kapar Licin’, semua batang yang dikaparkan telah licin.

Pada tahun 1990-an, ada pejabat Kabupaten Musi Rawas yang hendak berkunjung ke Gua di dekat desa Kapar Licin, dia menaiki perahu menghulu sungai lalu mendarat di tepi sungai di dekat desa Kapar Licin, saat akan turun dari perahu, kaki si pejabat menapak di atas batu napal di tepi sungai dan dia terpeleset jatuh, pejabat ini lalu mengatakan “(batu) napal (nya) licin”.

sejak saat itu desa Kapar Licin dikenal sebagai desa Napal Licin.

Setidaknya begitulah cerita yang saya dapat saat berkunjung ke desa Napal Licin bulan april yang lalu, perjalanan kesana sungguh tidak mudah,bukan hanya waktu tempuh yang lama namun juga kondisi jalan dan jembatan yang ada membuat anda berharap telah memiliki asuransi jiwa yang bagus sebelum bepergian kesana.

Tapi seperti kata orang bijak, sesuatu yang hebat itu membutuhkan pengorbanan yang hebat pula, walau saya tidak tahu siapa nama orang bijak itu tapi kalimat bijaknya sesuai sekali untuk menggambarkan perjalanan ke Napal Licin.

Butuh waktu 8 jam dari Palembang untuk sampai ke Lubuk Linggau, dari sana melanjutkan ke simpang Sarolangun sekitar 1 jam dan masuk ke jalan desa menuju Napal Licin selama 3 jam 30 menit.

Jalan aspal antara kota Lubuk Linggau dan kota Muara Rupit mungkin adalah jalan terbagus yang pernah saya lalui selama berkeliling Sumatera Selatan, jalannya mulus dan lurus dan terbentang dari satu bukit ke bukit selanjutnya, diantara hutan dan ladang, senang!

Tapi disarankan untuk berhati-hati selama melalui jalan ini, karena jalannya yang mulus dan sepi cenderung membuat pengendara lalai dan berakhir dengan kecelakaan.

Utamakan keselamatan kawan, mantan menanti di pelaminan.

Jalan dari simpang Sarolangun sampai ke Napal Licin sebagian mulai diaspal ulang tahun 2015, sebagian lagi baru diaspal ulang tahun 2016, cukup mulus walau di beberapa tempat jalan yang diperbaiki tahun 2015 mulai rusak dan ada bagian jalan yang menanjak aspalnya rontok sebagian, tapi semuanya masih bisa dilalui.

Tahun 2017 ini rencananya pemerintah kabupaten Musi Rawas Utara akan memperbaiki beberapa bagian jalan dan sejumlah jembatan batu tanpa pagar dan jembatan besi yang lantainya mulai lepas. Tenang, semuanya masih bisa dilalui sehingga tulisan ini bisa diterbitkan sekarang. Saya yakin saat kawan-kawan nanti ke Napal Licin semua jalan dan jembatan telah bagus dan layak dilalui, karena pemerintah Muratara  serius hendak mengembangkan industri pariwisata mereka. 

Tiba di mulut gua Napal Licin, kawan-kawan akan terdiam sesaat, memerhatikan mulut gua,  melempar pandangan ke sekitar, dan mulai berfikir, setelah semua perjuangan ini, setelah 12 jam 30 menit berkendara, setelah semua jalan bergelombang dan jembatan yang nyaris putus, hanya ini? Hanya ini??!!!

LoL

Tarik nafas dulu dalam-dalam, atur pernafasan, lalu melangkahlah lebih jauh ke dalam gua, melintas di celah sempit diantara bebatuan gua, merunduk-runduk di langit-langit rendah, bernafas diantara bau belerang dari kotoran kelelawar yang mungkin berabad-abad telah ada disana, lalu kawan-kawan akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan, aula besar dengan langit-langit yang tinggi dan lubang di atasnya.

Saya berdiri sambil menatap ke tanaman yang tumbuh di tepi lubang yang menganga sekitar 70 meter di atas kepala saya, lebat tanaman disana. Di sekitar saya ada berbagai tumbuhan hijau, mulai dari lumut sampai sejenis pakis, udaranya lembab, cahayanya cukup, pemandangannya indah.

Saya lalu mendaki batu besar yang ada di hadapan saya, itu batu karst yang kuat dan tajam, lalu berpindah ke batu yang lebih tinggi disebelahnya, terus memanjat sampai tiba di sebuah pelataran sempit berpasir, sekitar 30 meter di atas tempat awal. Untuk naik ke pelataran selanjutnya yang berada sekitar 17 meter diatas sana, saya harus berpegangan pada akar tanaman untuk mendaki dinding 90 derajat di depan saya, saat itulah saya berharap disini ada lift.

Teman saya sampai ke atas, sayangnya dia tidak melanjutkan ke tingkat terakhir gua Napal Licin, tempat dimana kita bisa menikmati keindahan pemandangan sekitar nun jauh disana dari atas bukit karts Napal Licin.

Cakep.

 

DSC02621

Aula Besar Di Dalam Gua Napal Licin

 

 

DSC02659

Lubang Di Atap Gua Napal Licin

 

 

DSC02674

Rekahan Di Antara Bukit Karst Napal Licin

 

 

DSC02715

Akar Itu Adalah Cara Untuk Naik Ke Atas Sana

 

 

DSC02749

Petani Karet Yang Baru Pulang Dari Kebun

 

 

DSC02762

Jembatan Gantung Menuju Desa Napal Licin

 

 

DSC02770

Sungai Kulus di Desa Napal Licin

 

 

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Huis_te_Napal_Litjin_in_het_district_Rawas_Sumatra_1877_1879

Desa Napal Licin Pada Tahun 1877, Courtesy Wikimedia Commons

 

 

DSC02847

Desa Napal Licin Pada Tahun 2017

 

 

DSC02855

Suasana Sore Hari Di Desa Napal Licin

 

 

DSC02791

Anak-Anak Di Sungai Batang Kulus

 

 

DSC02820

Kamerasutera Di Desa Napal Licin

 

Ditemani oleh bapak sekretaris desa, kami yang kelelahan dijamu makan di rumah bapak kepala desa Napal Licin, dan ternyata desa Napal Licin adalah desa yang menyenangkan dengan warga yang ramah. Kami memarkir kendaraan di tepi jalan, lalu melalui jembatan gantung sepanjang lebih dari 100 meter, kami menuju desa Napal Licin yang berada di seberang.

Penerimaannya hangat sekali, bapak-bapak menyapa, ibu-ibu tersenyum, dan anak-anak mengerubungi teman kami yang mengoperasikan drone, namanya, Paramiswari, yang ternyata juga sangat menyukai anak-anak. Klop.

Ini sungguh perjalanan yang tidak disangka sangat menyenangkan.

Gua dan desa Napal Licin adalah satu paket perjalanan yang sangat layak dikunjungi, jika senang petualangan air, kawan-kawan bisa mempergunakan perahu untuk sampai ke desa ini dari Sarolangun, lalu menginap di desa Napal Licin yang masih murni, dan melanjutkan petualangan dengan menjelajahi jaringan gua sepanjang 1500 meter yang dimulai dari gua Napal Licin, sangat layak dicoba bukan?

Ayo kawan, mainlah ke Napal Licin.

Advertisements

Rumah 100 Tiang di Kampung Pangeran

Ini adalah bangunan yang tidak saya kira akan jumpai di daerah suku Komering, yaitu sebuah rumah kayu dengan lantai berjenjang layaknya rumah limas di kota Palembang.

Kurang lebih 100 tahun yang lalu Pangeran Rejed Wiralaksana membangun sebuah rumah besar dengan banyak tiang sebagai hadiah untuk menantu perempuannya yang merupakan warga asli komering, sementara Pangeran Rejed sendiri adalah orang Rambang dari daerah Rambang Senuling.

Rumah ini dibangun dengan menggunakan jasa seorang ahli bangunan bersuku Cina dan menggunakan bahan kayu unglen yang kuat dan tahan lama. Itulah mengapa kita masih bisa menikmati keanggunan rumah ini puluhan tahun setelah ia didirikan.

Menuju ke tempat ini tidaklah sulit, hanya sekitar 15 menit dari pusat kota Kayuagung, ibukota kabupaten Ogan Komering Ilir, bila ditempuh dari palembang akan memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit.

Nama daerahnya adalah Kampung Pangeran, terletak di kecamatan Sugih Waras, kampung ini berada persis di tepi sungai, suasananya tenang dan nyaman, membuat saya betah duduk berlama-lama disana.

Penghuni Kampung Pangeran ini masih satu keluarga besar sehingga bisa dibilang ini adalah kampung keluarga. Ada dua jalan masuk ke Kampung Pangeran yang berupa sebuah jalan lurus tanpa cabang yang berbentuk huruf ‘U’, kedua ujung huruf ‘U’-nya bersambung ke jalan raya antar Kota Kayuagung dan Martapura.

Tidak ada banyak orang di kampung ini, saat saya datang hanya ada penghuni rumah dan beberapa anak-anak sekitar yang riang gembira walau sedang berpuasa, ya, saya datang saat umat Islam sedang menyambut pergantian bulan Hijriah dengan berpuasa, ritual yang biasanya dianggap berat oleh anak-anak perkotaan dijalankan dengan penuh senyum dan riang gembira oleh anak-anak kampung Pangeran.

Ada sekitar 16 rumah lain di Kampung Pangeran ini yang juga sudah berusia tua dan tentu saja memiliki ceritanya masing-masing dan rumah Pangeran Rejed adalah bangunan terbesar di dalam kampung ini. Rumah ini memiliki banyak tiang kayu untuk menunjang struktur rumahnya, dari jumlah penopang kayu inilah datang sebutan ‘Rumah 100 Tiang’, karena memang terdapat 100 buah tonggak kayu penopang rumah.

Memiliki dua tangga untuk naik, hanya salah satu tangga yang dibuka, yaitu yang berada di dekat pintu rumah, ada teras besar memanjang yang menyambut kita saat tiba di anak tangga teratas, disitu kita bisa memotret ke arah halaman dan sungai yang mengalir tenang di seberang jalan.

Masuk ke dalam rumah terdapat dua jenjang rumah, jenjang pertama lebarnya sekitar 2 meter, jenjang kedua jauh lebih lebar, mungkin sekitar 20 meter dan luas tanpa sekat.

Pada jenjang pertama tidak ada perabotan, dinding yang menghadap ke teras terdiri dari ukiran kayu yang membuat kita bisa memandang ke arah teras sementara dinding yang membatasi dengan jenjang kedua terbuat dari kayu tanpa ukiran yang menghalangi pandangan. Dinding yang kedua ini bisa dibuka pasaknya dan diayun ke atas dari bagian bawahnya lalu dipasakkan ke bagian atas dinding pertama, sehingga antara jenjang pertama dan jenjang kedua tidak ada pembatas, biasanya hal ini dilakukan saat ada hajatan yang mengundang orang banyak datang ke dalam rumah.

Jenjang kedua adalah ruangan luas tanpa sekat yang dipenuhi hiasan ukiran di dindingnya. Ada satu set kursi dan meja di tengahnya dan beberapa perabot lain di tepinya, namun jumlahnya tidak banyak, secukupnya saja, menciptakan ruangan yang lega, duduk disana tidak membuat terasa dikepung barang-barang, yang terasa malah adanya sesuatu aura yang agung, dan bagus untuk dipotret.

Lantai kayu di rumah ini terhitung masih baik, terasa kokoh saat diinjak, dan langit-langit yang tinggi membuat udara di dalam rumah tidak panas dan pengap.

Lingkungan di sekitar rumah 100 tiang ini bersih, hampir tidak ada sampah yang terlihat, sungai yang mengalir persis di seberang rumah pun bersih, airnya mengalir tenang,  ada beberapa perahu kecil yang lalu lalang dengan anggun, di tepi sungai ada semacam turab yang bisa diduduki, juga tersedia tangga batu tempat warga turun ke sungai. Semuanya tertata baik, kampung kecil yang bersih dan rapih.

Saat hendak pulang, saya bertemu beberapa anak setempat, mereka mengobrol di bagian bawah teras rumah 100 tiang, saat saya sapa, mereka menjawab ramah, setelah beberapa saat bicara, saya bisa menilai bahwa anak-anak ini sopan dan malu-malu, khas anak kampung, dan hal lain yang penting adalah, tidak ada gawai di tangan mereka.

Ah, saya suka anak kampung.

 

DSC02403

Orang Yang Berani Memasuki Rumah 100 Tiang Akan Menghilang, Hanya Tersisa Sepatunya!

 

 

DSC02404

Kanannya Rumah, Kirinya Sungai, Tengahnya Jalan Dinaungi Pepohonan, Bersih.

 

 

DSC02413

Bagian Terbaik, Pusat Rumah.

 

 

DSC02435

Dinding Pertama Dengan Lantai Yang Licin Cemerlang

 

 

DSC02436

Jenjang Pertama Dan Jenjang Kedua

 

 

DSC02429

Ukiran Berlapis Emas Pada Tiang Rumah

 

Kampung Pangeran sendiri adalah sebuah nama yang menarik, nama yang bisa menggugah rasa ingin tahu orang, yang bisa berujung kepada kunjungan ke Kampung Pangeran. Cerita yang berada dibalik nama Kampung Pangeran akan menjadi pengantar yang bagus saat pelancong berkeliling desa, memasuki satu persatu dari 16 rumah tua yang ada di kampung ini, itu tentu akan menjadi atraksi wisata yang luar biasa dari Kampung Pangeran, sesuatu yang bisa menjadi andalan bagi kabupaten OKI.

Apalagi bila di dalam Kampung Pangeran ini terdapat home stay di salah satu dari 16 rumah tua itu, atau di rumah lain milik warga, akan ada pelancong yang merasakan hal yang sama seperti saya saat berada di Kampung Pangeran, suasana yang unik yang nyaman yang memancing rasa ingin tahu “bagaimanakah pagi hari disini?”, “bagaimana suasananya saat matahari tenggelam?”, “apa kegiatan warga sehari-hari?”, itu akan membuat mereka menginap untuk mencari tahu.

Saya tidak ingin membesar-besarkan, tapi Kampung Pangeran ini adalah tempat yang menarik, layak untuk disinggahi bila teman-teman sedang berada di sekitar kota Kayuagung, jika teman-teman menyukai kampung al-munawwar, maka Kampung Pangeran ini sejenis itu, hanya saja dalam versi yang lebih rendah hati, versi kampung, dengan suasana kampung yang benar-benar kampung, bukan kampung di tengah kota.

Main-mainlah ke Kampung Pangeran.

Surga Hijau Di Lereng Dempo

Sesungguhnya menginap di antara perkebunan teh membuat asupan vitamin hijau untuk saya sudah terpenuhi, tapi ternyata saya belum mendapatkan seluruhnya, ada jenis vitamin hijau lain yang menyempurnakan asupan yang menyehatkan mata dan jiwa itu.

15 menit berkendara dari tempat saya menginap, saya menemukan apa yang saya butuhkan, jenis terbaru vitamin hijau, dalam jumlah yang melimpah. Sangat memuaskan.

Ada sebuah air terjun kecil di pangkal taman, airnya mengalir melalui sebuah sungai kecil mengitari sebuah kolam besar berair jernih, di dasar kolam ini air keluar dari beberapa mata air alami yang gelegaknya sampai ke permukaan air diatasnya. Airnya terasa dingin dan bersih, nampaknya segar sekali, sayangnya tidak bisa diminum karena di dalam kolam ini dipelihara puluhan ekor ikan. Sungguh ikan yang beruntung, bisa hidup di dalam air yang begitu sehat.

Air dari kolam besar ini lalu akan mengalir jatuh ke lembah kecil yang bertingkat-tingkat dibawahnya, membentuk belasan air terjun mini dengan riuh ricik air yang terdengar merdu di telinga.

Pada aliran sungai bertingkat-tingkat inilah hutan selada air tumbuh dengan subur, di atas air segar yang mengalir, di antara bebatuan gunung, membentuk pemandangan yang menyejukkan saat mata.

Sungguh, ini tempat yang baik sekali untuk kesehatan mata, telinga, dan jiwa.

Taman hijau ini dinamai ‘Green paradise’ oleh pemiliknya, dan itu bukanlah nama yang berlebihan, malah sesuai sekali.

Nasturtium officinale atau Selada air adalah tumbuhan yang memenuhi taman air ini, selada air hanya tumbuh dengan baik pada air yang bersih, sehingga keberadaan selada air bisa dijadikan pertanda mengenai kadar polusi pada air.

Selada air sendiri adalah salah satu sayuran tertua yang masih dimakan oleh manusia sampai kini, mengandung zat-zat yang baik bagi kesehatan jantung dan pengendalian kolesterol, juga anti-oksidan, sehingga sayuran ini bukan saja enak dilihat tapi juga sehat bagi tubuh.

DSC01770

DSC01768

DSC01840DSC01783DSC01798DSC01820

DSC01774

Tidak tahan rasanya hanya berdiri memandangi semua ini, ingin langsung terjun bermain air disela-sela selada air,  tapi saya harus menahan diri, saya tidak ingin menyiksa teman-teman saya dengan pemandangan ikan pesut berenang-renang manja diantara selada air.

NO

Jika teman-teman sedang berada di sekitar Pagaralam, tidak ada ruginya sama sekali untuk mampir sejenak ke tempat ini, nikmati kesegarannya, juga tempat yang bagus untuk swafoto, lingkungannya juga bersih dan tersedia cukup tempat duduk dan sebuah pondok untuk leyeh-leyeh.

Silakan.

Taman Batu Yang Menyehatkan

“Semoga tempat yang akan dikunjungi ini setimpal dengan perjalanan ini.” Kata saya kepada teman perjalanan.

Kami sedang melangkah dengan hati-hati di sebuah jalan setapak yang berlumpur di antara kebun kopi di dalam sebuah hutan, 8 jam perjalanan ke arah barat dari kota palembang. Masuk melalui lorong diantara rumah warga, dalam 3 menit kami sudah berada di antara kebun kopi dan hutan, lalu berjalan lagi sekitar 12 menit melintasi jalan becek nan licin, bersyukur sekali tidak ada Cinta Laura Kiehl saat menapak jalan becek ini.

Setelah jalan becek yang terakhir kami bertemu belokan ke arah kanan, saat memasuki belokan itu, terjadilah mukjizat, jalan becek berubah menjadi jalan tanah padat berumput tebal, di kanan-kirinya tanaman tertata rapi, elok sekali, nampaknya ada orang suci yang pernah masuk ke hutan ini lalu menghentakkan tongkatnya ke tanah dan tadaaa, hutan terbuka untuk dilalui.

Saya mulai berjalan diatas rumput yang rapih itu, ada garis bekas perlaluan sepeda di tengahnya, tapi tetap rapih, karena tidak becek, saya mengikuti jalan setapak yang lurus itu, pada sisi kiri, dari balik rimbun tanaman yang menjadi batas jalan setapak saya mulai melihat beberapa batu disusun sampai setinggi orang dewasa, beberapa mulai berlumut, tanda bahwa batu-batu ini telah lama tidak disentuh, mungkin sejak pertama kali batu-batu itu disusun.

Sebuah pondok kayu besar bertingkat dua menyambut rombongan kami, lantainya langsung ke tanah, tanah yang keras tanpa rumput tapi bersih dan tidak becek, di ujung yang lain dari pondok ini saya melihat di atas tanah terdapat perapian kecil dengan teko logam di atasnya, diantara saya dan teko itu terdapat dua tempat duduk panjang dari bambu dan kayu, masing-masing satu di sisi kanan dan kiri.

Dari tempat saya berdiri di pintu masuk pondok, saya bisa melihat sebuah tempat yang unik, bebatuan disusun diantara tanah berumput tebal yang rapih dikelilingi oleh hutan dengan pepohonan tinggi, tempat ini sedikit aneh tapi menarik sekali.

Beberapa teman tidak tahan untuk segera masuk ke taman, namun segera diingatkan oleh pemilik agar melepas alas kaki sebelum masuk ke taman, saya tidak menanyakan gunanya tapi dugaan saya alas kaki harus dilepas agar tidak merusak tanah dan rumput yang sudah rapi itu, dan saya tidak keberatan melepaskan alas kaki saya setelah melihat tamannya memang terjaga dengan baik seperti itu.

Dan, ternyata memang lebih enak melangkahkan kaki tanpa alas di atas rumput dan tanah di taman itu, terasa lebih menyatu, tanpa tabir, ada semacam energi yang mengalir dari bumi masuk melalui kaki, membuat saya yang dalam keadaan normal adalah orang yang rewel mengenai perkara kebersihan tubuh bisa melangkah dengan tenang dan menikmati suasananya bertelanjang kaki.

Saya berkeliling, memasuki setiap bagian taman, dan saya mendapatkan kesan taman ini seperti taman-taman di pura di Bali, bahkan seperti taman-taman jepang yang rapi. Setiap batu diambil sendiri dari perut bumi oleh pak Damsi, pemilik taman ini, beliau menggali sendiri tanah disini, mengeluarkan batunya, lalu menyusun batu-batu itu sampai setinggi manusia dan menyusun sebagian lainnya sebagai pagar taman, itu dilakukan dengan tangannya sendiri dan tanpa bahan perekat  apapun, dan itu sudah dilakukan pak Damsi sejak tahun 1980-an.

Menakjubkan.

Saya makin kagum setelah membayangkan bahwa taman ini adalah milik pribadi, bukan pemerintah, dan dibangun sendiri oleh pemiliknya dengan menggunakan peralatan perkebunan sederhana, tidak ada peralatan berat, tanpa semen, bata, dan truk apalagi traktor utnuk mengeduk tanah dan grader untuk meratakan tanah. Semuanya hanya dengan tangan.

Pak Damsi layak mendapatkan penghargaan dan pujian untuk apa yang telah beliau lakukan selama 30 tahun ini.

Dan salah satu bentuk penghargaan yang bisa teman-teman berikan untuk pak Damsi adalah, dengan datang berkunjung dan membuka alas kaki saat memasuki tamannya.

 

DSC01540

Sebelah Kiri Adalah Hutan, Sebelah Kanan Adalah Kebun Kopi, Satu-satunya Jalan Setapak Yang Kering Yang Kami Lalui.

 

 

DSC01543

10 Meter Terakhir Sebelum Memasuki Taman Batu Organik. Sebelah Kanan Ini Adalah Hutan Bercampur Kebun Kopi.

 

 

DSC01550

Bukan Hanya Rerumputannya Yang Rapih, Batuannya Pun Rapih, Ini Di Tengah Hutan Loh!

 

 

DSC01551

Batuan Ini Sudah Lama Ditumpuk Sehingga Mulai Berlumut,Mungkin Sudah Bertahun-tahun.

 

 

DSC01562

Bebatuan Berbagai Bentuk Dan Ukuran Disusun Rapih Tanpa Alat Perekat Apapun.

 

 

DSC01564

Ada Jalan Dengan Lantai Tanah Yang Padat Tanpa Becek Seperti Ini Di Tengah Hutan Setelah Hujan Turun.

 

 

DSC01569

Bagian Dari Taman Batu Organik Yang Paling Menyegarkan.

 

 

DSC01578

Bukan, Ini Bukan Sebuah Lorong Di Sebuah Pura Di Bali, Ini Lorong Di Taman Batu Organik, Lahat.

 

 

DSC01601

Pondok Di Pintu Masuk Taman Batu Organik, Alas Kaki Dilepas dan Ditinggalkan Disana Sebelum Memasuki Taman.

 

 

DSC01614

Dapur Di bagian Belakang Pondok Taman Batu Organik.

 

Sebenarnya ini bukan perjalanan yang berat, hanya becek saja, tidak disarankan memakai sepatu atau sendal mahal kesini, juga sendal jepit, karena ada kemungkinan sendal jepit akan lengket saat terbenam di lumpur dan percikan-percikannya akan mengotori betis dan celana. Mungkin akan lebih baik bila datang di musim kemarau karena saya datang saat musim hujan.

Dan,

Semua batu disini adalah batu asli dari alam bukan buatan pabrik, karena itu taman ini dinamai ‘Taman Batu Organik’, kalau batu-batuannya buatan pabrik apalagi bila mengandung zat kimia maka taman ini akan disebut ‘Taman Batu non-Organik’.

Dan karena bebatuan disini adalah alami, maka bebatuan disini baik bagi kesehatan pengunjungnya.

Mainlah!

Pangeran Kramajaya dari Palembang

Pada tahun 1852 ada seorang petualang dari Amerika Serikat yang tiba di Palembang, di Palembang dia nampaknya diterima dengan baik oleh warga Palembang, baik yang Melayu maupun yang Cina, bahkan si petualang ini sampai diundang untuk menghadiri resepsi pernikahan anak perempuan seorang saudagar Palembang bernama Oey Tsee Yang.

Resepsi itu tidak hanya dihadiri oleh orang Cina, tapi juga dihadiri oleh orang-orang Melayu dan Arab, suasananya sangat meriah dengan suara musik sepanjang acara.

Dalam resepsi ini si petualang Amerika bertemu dengan seorang saudagar Cina bernama Tchoon Long, yang selama resepsi nampak murung, Tchoon Long akhirnya bercerita mengenai seorang hebat dari Palembang, orang jujur yang setiap hari memberi makan 2.000 orang, yang terkenal di penjuru pulau Sumatera, orang-orang menyanyikan lagu pujian untuknya, dan dia sangat dicintai terutama oleh orang-orang Palembang dan Pasemah, Namanya Pangeran Kramajaya.

Namun yang membuat Tchoon Long muram adalah Pangeran Kramajaya ditangkap Belanda yang tidak suka melihat tokoh setempat menjadi terlalu popular. Belanda lalu membuang Pangeran Kramajaya ke Jawa, membuat ratusan ribu orang Palembang bersedih dan mendoakannya agar dapat kembali ke Palembang.

Tidak hanya itu, para saudagar di Palembang mengumpulkan uang ratusan ribu rupee untuk kebebasan Pangeran Kramajaya dan Tchoon Long yang akan berlayar membawa uang itu ke jawa dan membawa pulang Pangeran Kramajaya.

Sebuah kisah yang mengharukan, seorang hebat yang dicintai ratusan ribu orang, Melayu, Arab, dan Cina, bahu membahu mereka hendak membebaskan orang baik ini, mengagumkan, tapi, siapa sebenarnya Pangeran Krama Jaya ini? Dan apakah cerita mengharukan di atas benar adanya?

Setelah menelusuri berbagai sumber, ternyata, Pangeran Kramajaya adalah seorang tokoh sejarah, benar-benar ada, Wow!

Setelah Sultan Mahmud Badaruddin II dibuang oleh Belanda, warga Palembang benar-benar merasa kehilangan seorang tokoh yang sangat disegani dan dicintai, dan Belanda sebagai penguasa baru Palembang berusaha keras untuk mencuri hati warga Palembang, berusaha membuat warga Palembang hanya patuh kepada Belanda.

Belanda mencoba mengangkat sultan yang bisa mereka kendalikan, namun gagal karena sultan itu memberontak dan akhirnya dibuang keluar sumatera, Belanda lalu membubarkan Kesultanan Palembang pada tanggal 15 oktober 1825 dan membuang ratusan bangsawan Palembang dalam rangka menghilangkan jejak-jejak dan pengaruh kesultanan atas warga Palembang.

Belanda lalu menegakkan sistem administrasinya sendiri, mengangkat residen dan seperangkat pembantu residen. Pada tahun 1838 Belanda membentuk sebuah jabatan baru yang berkantor di Palembang, nama jabatan itu adalah ‘Rijksbestuur’ yang kurang lebih setara dengan bupati, setingkat dibawah Residen, yaitu jabatan yang menguasai seluruh daerah yang dahulu berada dibawah pengaruh Palembang, kurang lebih seukuran provinsi Sumatera Selatan saat ini.

Untuk mengisi jabatan itu maka diangkatlah menantu Sultan Mahmud badaruddin II, yaitu Pangeran Kramajaya. Dengan pengangkatan ini Belanda berharap dapat mengembalikan kepercayaan warga Palembang kepada Belanda, 13 tahun setelah Belanda membubarkan Kesultanan Palembang Darussalam.

Pangeran Kramajaya memiliki nama lengkap Kramajaya Abdul Azim, dia diangkat menjadi ‘Rijksbertuur’ melalui Surat Keputusan Raja Belanda tanggal 2 Januari 1838 dengan gelar yang akan ditulis dalam satu paragraph khusus setelah paragraph ini.

Pangeran Bupati Perdana Menteri Kramajaya Pangeran Mangkunegara Cakrabuana Sultan Agung Alam Kabir Sri Maharaja Mutar Alam Senopati Martapura Ratu Mas  Penembahan Raja Palembang.

Ya, paragraph di atas isinya adalah gelar resmi dalam surat pengangkatan Pangeran Kramajaya sebagai ‘Rijksbertuur’, gelar itu bisa membuat seorang pelajar gagal naik kelas bila hafalan gelar itu dijadikan syarat kenaikan.

Selama menjadi Rijksbertuur, Pangeran Kramajaya menjadi makin popular, baik di Palembang maupun di pedalaman, terutama di Pasemah, menjadi terlalu popular sehingga akhirnya belanda merasa bahwa kepopuleran itu telah menjadi ancaman bagi pemerintah Belanda.

Belanda akhirnya menuduh Pangeran Kramajaya hendak menggalang pemberontakan terhadap pemerintah Belanda, Pangeran Kramajaya lalu ditangkap dan dibuang ke Jawa pada tahun 1851, 13 tahun setelah diangkat menjadi pejabat dalam pemerintahan oleh Belanda sendiri.

Setahun kemudian, Walter Murray Gibson tiba di Palembang, dia adalah seorang petualang dari Amerika Serikat yang berkeliling dunia, adalah Walter yang mengenang kemuraman Tchoon Long atas pembuangan Pangeran Kramajaya dan tekad Tchoon Long untuk membawa pulang Pangeran Kramajaya, Walter kelak akan menuliskan kisah itu dalam bukunya yang diterbitkan di Amerika Serikat.

Pangeran Kramajaya mungkin adalah satu-satunya tokoh sejarah di Palembang yang kepopulerannya diakui bukan hanya oleh warga Palembang dan pihak Belanda yang saling berseteru, tapi juga oleh pihak ketiga yang saat itu sedang berkunjung ke Palembang.

Kemasyhurannya diakui dan dicatat oleh semua orang.

Sungguh luarbiasa.

Hal lain yang menarik adalah, adanya seorang saudagar Cina yang bertekad menemui Belanda untuk membawa pulang Pangeran Kramajaya, bukan hanya ini meneguhkan kepopuleran Pangeran Kramajaya di berbagai kalangan, tapi juga membuktikan kerukunan kehidupan berbagai etnik di Palembang, bahu membahu mereka membangun Palembang, bahu membahu pula mereka hendak mengembalikan tokoh yang mereka sayangi.

Persatuan yang membuat tangguh, yang membuat Palembang bertahan begitu lama, 1335 tahun.

Ini kisah yang membuat saya semakin mencintai Palembang, kota tua yang luarbiasa, kota tua yang selalu berhasil membuat saya jatuh cinta setiap kali saya menelusuri kisah kehidupannya.

Saya berdoa untuk Palembang Jaya.

Kapitan Cina di Palembang

Siang itu saya sedang duduk di ruang tamu di rumah abu di Kampung kapitan, saya sedang mendengarkan pak Mulyadi yang bercerita dengan penuh semangat, banyak yang dia sampaikan tapi saya lebih tertarik mengenai sejarah leluhurnya.
Seperti kebanyakan warga Palembang lainnya, sejarah Palembang yang diketahui oleh pak Mulyadi tidak tertib urutan waktunya dan tertukar tokoh-tokohnya, tapi itu bisa dimaklumi, karena sejak di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas sejarah yang dipelajari oleh warga Palembang adalah sejarah kerajaan-kerajaan di jawa dan hanya sedikit menyinggung sejarah kota kelahiran mereka sendiri, Palembang.

Namun ada dua hal yang sangat menarik perhatian saya dari ‘orasi kebudayaan’ pak Mulyadi itu, pertama, bahwa dia dan keluarganya memiliki buku tua warisan keluarga yang ditulis dalam huruf  Cina yang tidak bisa dibaca pak Mulyadi karena mereka sekeluarga tidak bisa lagi membaca aksara Cina, dan kedua, bahwa kapitan Cina terakhir yang ada di Palembang dimakamkan di daerah Kemang Manis, di sebelah barat daya pemakaman Puncak Sekuning.

Dan, perburuan itu pun dimulai…

Saya bisa dengan segera menemukan makam Kapitan Cina yang terakhir di Palembang, letaknya di dataran tinggi, di daerah perbukitan di barat laut kota Palembang, yang ditunjukkan dalam peta Palembang pada tahun 1947 berikut ini.

peta-dengan-makam-kapitan-crop

Peta Palembang Pada tahun 1947

Pada saat saya pertama kali berkunjung, kondisinya sangat menyedihkan, pelatarannya tergenang, sebagian dilapisi lumpur tipis, dan di sekitarnya becek. makamnya sendiri dinaungi oleh bangunan batu terbuka, dengan tulang plafon yang mulai miring dan atap genteng yang tidak simetris. penilaian singkat atas situasinya adalah, tidak menarik. ini bukan tempat yang akan didatangi oleh turis.

img20160604110404

Makan Kapitan Oey Pada Pertengahan Tahun 2016

Namun di kunjungan terakhir saya kesana, ada yang berubah, bangunan batunya sudah tidak ada, makamnya tidak lagi diselimuti beton, dan ada tanaman di sekitar makam, penilaian singkat atas situasinya adalah, keadaan membaik, namun masih buruk, masih tetap becek dan tergenang. tempat yang mungkin akan dikunjungi turis bila tidak ada lagi yang bisa mereka kunjungi di Palembang.

img20170109112746

img20170109112759

Makam Kapitan Oey

img20170109112823

Makam Yang Lebih Kecil Di Sisi Sebelah Timur Makam Utama

img20170109112921

Pemandangan Ke Arah Sungai Musi Dari Makam Kapitan Oey

Hal yang lebih menyedihkan adalah, di sekitar makam tidak ada keterangan mengenai makam bersejarah ini. tidak ada tulisan dalam aksara latin yang bisa dibaca mengenai penghuni makam, siapa namanya, apa jabatannya, bagaimana perjalanan hidupnya dan bagaimana akhir hidupnya. tidak ada.

Nol.

Padahal kapitan Cina adalah jabatan yang penting, kapitan Cina adalah orang yang ditunjuk oleh penguasa Palembang (saat itu adalah Belanda) untuk mengelola komunitas Cina yang ada di Palembang, dan Palembang di masa itu adalah sama seperti provinsi Sumaera Selatan saat ini.

Nama Kapitan Cina yang terakhir di Palembang adalah Oey Teng Kiang, pekerjaannya pasti sulit, karena sebagai ketua komunitas Cina, dia harus menjaga ketertiban komunitasnya dan bertanggung jawab kepada pemerintah Belanda yang telah menunjuknya.

Berat karena pada masa itu ada berbagai perkumpulan rahasia di kalangan masyarakat Cina di Palembang yang kegiatannya cenderung kepada kejahatan, bahkan di singapura, ada perkumpulan rahasia masyarakat Cina disana yang terkait dengan Triad di Hong Kong dan Cina daratan.

Tidak diketahui apakah ada jaringan Triad di Palembang pada masa itu, Namun pada tahun 1866 Gustave Schlegel menyebut adanya perkumpulan rahasia Cina di Palembang yang bernama ‘Seven Friendly’.

Kapitan Oey sendiri berhadapan dengan perkumpulan rahasia Cina pada masa kepemimpinannya, nama perkumpulan rahasia itu adalah ‘Three Star’, dan ‘Three Star’ ini adalah perkumpulan rahasia yang agresif, mereka hendak merekrut Kapitan Oey menjadi anggota mereka, namun Kapitan Oey menolak, penolakan itu membua ‘Three Star’ kalap, mereka menyerang kapitan secara fisik, mengancam nyawanya, tercatat tiga kali ‘Three Star’ menyerang Kapitan Oey,  dalam serangan-serangan itu jatuh korban jiwa, namun Kapitan Oey selalu selamat.

Lalu pada tanggal 19 september 1924, Kapitan Oey sekali lagi diserang, kali ini kapitan Oey mendapatkan 35 luka tusuk di sekujur tubuhnya, Kapitan Oey tewas.

Berita tewasnya kapitan Oey ini menyebar kemana-mana, bahkan menjadi berita di sebuah koran yang terbit di Singapura.

Kini kapitan Oey terbaring di makamnya, makam megah yang tidak terurus. sebagai tokoh kota Palembang di masa hidupnya, kapitan Oey layak mendapatkan lebih dari ini.

Merawat makam kapitan Oey adalah bagian dari mengenang dan melestarikan kisah mengenai para kapitan yang pernah ada di Palembang.

Kehidupan kapitan Oey layak dikenang dan diceritakan sebagai bagian dari kekayaan budaya kota Palembang, kota tua, yang luarbiasa.

Peta Palembang Tahun 1947

Salam teman-teman,

Semoga teman-teman semua selalu sehat, aamiin.

Ini adalah peta Palembang pada tahun 1947 yang saya buat berdasarkan beberapa peta lama dan sketsa yang terdapat di beberapa sumber yang berbeda.

Tujuan pembuatan peta ini adalah agar saya sendiri bisa lebih memahami situasi dan kondisi pada saat terjadinya perang 5 Hari 5 malam di Palembang dan juga karena saya ingin mengetahui sejarah kota Palembang, bagian mana saja dari kota ini yang telah lama ada, sesuatu yang akan memudahkan saya untuk berburu bangunan tua dan lokasi bersejarah di kota Palembang.

Saya yakin bahwa manfaat yang sama akan dirasakan bagi teman-teman yang gemar sejarah, baik itu sejarah budaya maupun sejarah perkembangan kota, karena itu saya membagikan peta ini agar dapat memudahkan teman-teman sekalian.

peta

Tentu saja pada tahun 1947 kota Palembang belum seuas sekarang tapi ukuran ini sudah termasuk luas untuk masa itu sehingga Palembang dianggap sebagai kota terbesar kedua di pulau Sumatera setelah kota Banda Aceh.

Jalan masuk ke kota Palembang bisa melalui darat, air, dan udara. melalui udara, Palembang bisa dimasuki melalui pelabuhan udara Talang Betutu yang berada di utara kota, dalam peta ini, Talang Betutu dicapai melalui Charitas, terus ke utara kurang lebih 13 kilometer lagi.

Bila hendak ke Palembang melalui jalur air, orang bisa menaiki kapal memasuki muara sungai Musi di selat Bangka, menghulu sampai ke kota dan berlabuh di Boom Baru.

Sementara bila hendak ke Palembang melalui darat, bisa memanfaatkan jalur kereta api dari Bandar Lampung yang akan berhenti di stasiun kereta api Kertapati, dari sana bisa langsung ke bagian ulu kota dengan menyeberangi jembatan Wilhelmina, yang sekarang dikenal dengan nama jembatan Ogan, bila hendak ke bagian ilir maka bisa langsung menyeberang mempergunakan kapal dari dekat stasiun dan akan berlabuh di daerah Tangga Buntung atau Pasar 16.

Bila membawa kendaraan maka bisa masuk ke kota dari beberapa arah, pertama, dari arah utara, orang-orang yang datang dari arah sekayu bisa mengambil jalan yang melalui pelabuhan udara Talang Betutu langsung ke Charitas. Talang Betutu sendiri saat itu berada jauh di luar kota, di sisi kanan dan kiri jalan yang naik turun hanya dipenuhi pepohonan, perbukitan yang tertutup hutan.

Kedua, melalui arah barat, bagi mereka yang datang dari arah Indralaya, Prabumulih, Muara Enim, dan Lahat, mereka akan memasuki Palembang melalui jalan yang terdapat di dekat stasiun kereta api Kertapati.

Ketiga, bagi yang datang dari arah Kayu Agung maka bisa melalui jalan yang dibangun dekat kilang minyak Plaju yang berada di sebelah timur kota. di jalan ini, pemandangannya adalah daerah datar yang berawa-rawa dengan beberapa pulau yang dipenuhi pohon tinggi.

Tidak bisa memasuki kota melalui sisi barat sebelah ilir, karena jalan Tangga Buntung hanya sampai sekitar daerah Karang Anyar dan jalan dari bukit kecil memanjang sampai daerah Bukit Siguntang lalu terus ke jalan Sultan Mas Mansyur berakhir di jalan Tangga Buntung, membentuk suatu lingkaran besar tanpa cabang.

Begitu pula dari arah sebelah timur seberang ilir, jalan yang sekarang dikenal dengan nama jalan M. Isa baru dibangun sampai sekitar daerah taksam, sementara jalan Yos Sudarso hanya sampai sekitar Pasar Lemabang, jalan menuju Pusri belum ada karena Pusri sendiri belum ada.

Inilah luas wilayah Palembang pada tahun 1947, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tulisan lain yang berkaitan dengan peta ini mungkin menyusul dalam waktu dekat.

Terima kasih teman-teman.

 

Tanda Tangan Elektronik yang Menarik

Saya pernah berada di dalam situasi dimana saya harus menandatangani dokumen yang dipegang oleh orang lain dalam waktu secepatnya, masalahnya adalah, saya dan orang itu tidak mungkin bertemu dalam waktu 1 jam.

Jalan keluar yang dipilih saat itu adalah, saya meminta dokumen itu dikirim melalui surel, lalu saya segera membubuhkan tanda tangan saya ke selembar kertas, mengambil gambarnya, lalu mempergunakan perangkat lunak penyunting gambar, saya menempelkan tanda tangan saya ke atas dokumen tersebut.

Selesai.

Sejak itu saya telah melakukan hal yang sama beberapa kali.

Mudah ya, tapi setelahnya saya berfikir, bahwa jika saya bisa melakukannya semudah itu, orang lain juga pasti mudah melakukannya, dan jika ada banyak orang yang bisa melakukannya, berarti ada kemungkinan bagi orang-orang yang memiliki tanda tangan saya di dokumen mereka untuk mempergunakan tanda tangan saya itu tanpa saya ketahui.

Itu artinya, cara yang saya pergunakan itu tidak aman, seseorang di luar sana bisa menandatangani sebuah dokumen memakai tanda tangan saya untuk kepentingan mereka tanpa saya ketahui, bahaya.

Saya memutuskan untuk tidak lagi melakukannya dan memilih menandatangani dokumen menggunakan cara lama, langsung saja memakai tangan saya sendiri, mudah dan cepat, daripada harus menandatangani dokumen memakai tangan orang lain, apalagi bila orang yang punya tangan tidak bisa melakukan tandatangan saya.

Lah…

Namun itu tidak berlangsung lama, beberapa hari yang lalu saya menerima undangan untuk mengikuti seminar mengenai Tanda Tangan Elektronik, wew, nampaknya sangat menarik, Elektronik, seperti ‘Elelktronik’ pada musik elektronik, disko!

Karena itu saya dengan senang hati menghadiri undangan tersebut, saya pergi dengan riang gembira, seperti anak kecil yang pergi ke warung, atau seperti cowok yang mau pergi menjemput gebetannya untuk kencan pertama kali,

badan wangi,

pakaian rapih,

motor bersih,

lalu berangkat,

di jalan,

pecah ban,

lalu hujan,

lalu banjir,

sampai di rumah gebetan,

ternyata dia cowok juga.

 

Tidak, tidak setragis itu,

Seminarnya sesuai dugaan saya, sangat bermanfaat.

Apalagi karena seminar tanda tangan elektronik ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, sebuah lembaga yang memiliki otoritas atas urusan informasi dan dunia digital di Indonesia, sehingga seminarnya sangat bergizi.

Sedari awal diundang saya sudah bertanya-tanya mengenai tanda tangan elektronik ini, bagaimana bentuknya? Bagaimana cara menggunakannya? Bagaimana keamanannya? Dan beberapa pertanyaan lain.

img20161122161554

324

Tanda tangan elektronik ini tidak seperti tanda tangan yang bisa kita lihat ada di dokumen, berupa torehan cepat dari nama atau inisial, yang hasil torehannya kadang bagus sekali, tapi sering juga aneh sekali sampai-sampai kita menduga bahwa itu sekedar coretan asal-asalan.

Tanda tangan elektronik ini lebih menyerupai kode digital yang ditorehkan di atas dokumen digital. Kode digital ini unik untuk setiap orang karena berisi informasi si pemiliknya sendiri.

Tanda tangan elektronik ini hanya bisa digunakan pada dokumen digital, nir kertas, sebagai bukti bahwa kita menyetujui dokumen tersebut.

Mengenai keamanan, tanda tangan elektronik ini sangat aman, karena berada dalam suatu lingkungan kode digital yang setiap bagian penyusunnya diacak jutaan kali, sehingga jika ada orang yang mencuri tanda tangan elektronik lalu ingin menyusun ulang kode-kode didalamnya agar bisa dipergunakan, maka orang itu butuh waktu paling cepat 20 tahun untuk melakukannya, dengan komputer tercanggih saat ini.

Saya tidak akan menghabiskan waktu 20 tahun hanya untuk bermain-main dengan tanda tangan elektronik teman saya.

Selain itu, tanda tangan elektronik yang dibubuhkan ke sebuah dokumen akan hilang dengan sendirinya bila dokumen tersebut disunting oleh pihak lain, dengan begitu, tanda tangan elektronik hanya akan menyertai dokumen yang anda lihat sendiri.

Saya senang sekali bisa dilibatkan dalam seminar tanda tangan elektronik ini, terlebih lagi, saya menjadi salah satu dari 500 orang pertama di provinsi Sumatera Selatan yang memiliki tanda tangan elektronik, yeah, 500 yang pertama dari 10.600.000 warga sumatera selatan, yup, saya bagian dari klub elit itu, tepatnya di urutan ke-324, ya, saya se-elit itu.

Rasanya membanggakan sekali, lur.

Tapi jangan sedih, kami bukan klub elit rahasia semacam illuminati atau NWO, bukan juga klub rahasia  tukang batu bebas, free mason.

Jadi, kami membuka keanggotan bagi setiap putra putri terbaik sumatera selatan untuk bergabung dan memiliki tanda tangan elektroniknya sendiri. Caranya mudah, cukup berkunjung ke tautan ini https://sivion.rootca.or.id/ dan ikuti petunjuk yang terdapat di dalamnya, maka teman-teman akan segera memiliki tanda tangan elektronik.

Jika teman-teman adalah orang yang aktif di dunia digital, sering terlibat dengan dokumen digital, maka sudah saatnya teman-teman memiliki tanda tangan digital.

Saran saya, segeralah miliki benda keren ini.

Kota Dingin Yang Hangat

Itu adalah subuh yang sangat dingin, saya sangat mengantuk karena kelelahan setelah 11 jam mengemudi mobil, tapi udara dingin memaksa saya untuk bangun sejenak dan mencari remot AC, namun saat saya membuka mata segera saya sadar, di ruangan ini tidak ada AC, saya tidak bisa mematikan AC, saya bahkan tidak bisa menurunkan suhu ruangan ini, karena untuk melakukan itu saya harus menurunkan suhu di seluruh kota Pagaralam.

Kota ini dingin sekali.

Tidak lama kemudian saya akhirnya benar-benar bangkit dari tempat tidur, lalu duduk di teras sebuah villa yang terletak di tepi perkebunan teh, pagi yang dingin itu saya disuguhi pemandangan indah dari perkebunan teh dengan kota Pagaralam di kejauhan dan latar belakang Bukit Jempol. Sangat menyegarkan mata.

 

img20161103061915

Pemandangan di Awal Hari yang Menyegarkan, di Kejauhan Ada yang Memberi Jempol, Setuju Kayaknya.

 

Saya menyeduh kopi hangat tanpa gula di ruang makan yang terletak di lantai dua Hotel Besh lalu duduk di teras yang menghadap langsung ke Gunung Dempo, dari depan saya membentang kebun teh yang hijau segar sampai ke lereng gunung dempo, pemetik teh bekerja, beberapa kendaraan kadang lalu lalang di atas sana, pemetik teh dan kendaraan itu seperti miniatur yang muncul diantara kebun teh, pemandangan yang menyegarkan dan menghibur. Saya tidak butuh televisi pagi ini.

 

img20161102070907

Minum Kopi Dengan Pemandangan Seindah Ini

 

 

img20161103071202

Para Pemetik Teh Bekerja di Pagi Hari

 

Makan siangnya saya lewatkan di sebuah tempat yang menyenangkan bernama Green Paradise, lokasinya bisa ditempuh melalui jalan beraspal yang masuk ke dalam hutan, lalu dilanjutkan berjalan kaki sekitar 100 meter melalui sebuah peternakan kuda jenis lokal,  ada dua air terjun disini, tidak terlalu besar tapi cukup membuat suasananya menenangkan, tidak ada kebisingan jalanan, hanya gemerisik air dan pemandangan hijau dari selada air yang menyegarkan, apalagi makanannya enak, perut dan mata kenyang, puas sekali.

 

img20161102130755

Selada Air Memenuhi Aliran Sungai yang Airnya Bersumber Dari Sebuah Air Terjun Kecil

 

 

img20161102131022

Air Terjun, Air Jernih, dan Selada Air

 

 

img20161102125950_1

Anak-Anak Setempat yang Mandi di Kolam Utama Green Paradise

 

img20161102123042

Kuda Asli Pagaralam, Suatu Saat Saya Akan Berkuda Disini

 

 

Sebenarnya masih mau berdiam lebih lama di Green Paradise tapi masih ada beberapa tempat lain yang menarik yang menanti didatangi, baiklah, setelah memotret anak-anak yang berenang di kolam utama, saya akhirnya bergerak menuju tempat selanjutnya, rumah kediaman Depati Kenawas.

Ini adalah rumah tua yang masih cukup utuh, ukurannya jauh lebih besar daripada rumah-rumah di sekitarnya. Terbuat dari kayu, rumah Depati Kenawas ini menyimpan beberapa benda-benda antik, seperti hiasan kepala hewan.

Saat ini rumah Depati Kenawas tidak dihuni, hanya ada penjaganya di bagian belakang rumah, sementara keturunan Depati Kenawas sekarang bedomisili di ibukota Indonesia.

 

img20161102140436

Rumah Depati Kenawas

 

 

img20161102141534

Hiasan Dinding yang Menarik di Ruang Tamu Rumah Depati Kenawas

 

Selesai mendengarkan kisah Depati Kenawas, kami beranjak menuju ke titik air panas di desa Pagar Bunga, kecamatan Tanjung Sakti. Sungguh ini adalah lokasi air panas yang unik, karena titik sembur air panasnya terdapat di sepanjang aliran sungai, sehingga bila kita masuk dan berjalan di aliran sungai maka terasa beberapa perbedaan suhu air, kadang dingin, kadang hangat, bahkan panas bila kita berada di dekat sumber mata air panasnya. Bukan hanya air, saat saya sedang melepas sepatu di tepi sungai, kaki saya menginjak batu yang panas sekali, membuat saya kaget, ternyata batu itu bersebelahan dengan sumber air panas di tepi sungai, Nampak uap mengepul dari permukaan airnya. Orang biasa merebus telur di mata air itu, saya baru saja nyaris merebus telapak kaki sendiri disitu.

Tempat mata air panas ini berada di sebuah sungai kecil yang tidak dalam, hanya sebatas dengkul orang dewasa, tepi dan dasar sungainya dipenuhi batu koral, dan dari sela-sela batu koral itulah muncul air panasnya. titik air panasnya tersebar di beberapa tempat di sepanjang sungai, membentang konon sepanjang 100 meter di sepanjang aliran sungai.

Saya belum pernah melihat mata air panas yang berderet di sungai seperti ini, sungguh tempat yang menarik untuk dikunjungi, beberapa mata air yg besar dipagari dengan dinding semen yang sedikit lebih tinggi dari permukaan air, fungsinya agar air panasnya tidak cepat hilang dibawa oleh arus yang deras sekaligus menjadi tempat pengunjung duduk santai sambil merendam kaki mereka di air hangat.

Sayangnya hujan mulai turun, sehingga saya harus bergegas dari tempat yang hangat ini dan menuju lokasi selanjutnya, sebuah gereja tertua di Sumatera Selatan, yaitu Gereja St. Mikael di Tanjung Sakti yang dibangun tahun 1896. St. Mikael adalah gereja yang teduh, sangat teduh, apalagi saat diluar hujan deras seperti saat kami tiba disana.

Bagian dalam gereja St. Mikael lapang sekali dan dihiasi banyak foto para tokoh katolik dunia. Warna putih mendominasi bagian dalam gereja St. Mikael, dengan langit-langit yang tinggi yang juga bewarna putih, gereja ini dibangun dengan bahan campuran antara batu dan kayu. Ini adalah gereja berusia 120 tahun yang cantik.

 

img20161102160141

Bagian Dalam Gereja St. Mikael

 

 

img20161102155618

Patung Perunggu di gereja St. Mikael

 

Cukup lama saya ada disana sehingga tak terasa langit mulai gelap, itulah saat saya menyadari bahwa perjalanan ini telah selesai, saatnya kembali ke penginapan dan mulai berkemas.

Pagaralam adalah kota yang diberkahi keindahan alam dan kekayaan sejarah, yang menanti untuk dikunjungi oleh para pelawat dari penjuru negeri, lelahnya perjalanan terbayar lunas setelah mendatangi berbagai tempat wisata disini.

Pagaralam layak sekali dikunjungi sekali lagi.

 

Festival Kopi Al Munawar

Tahun 2016 ini Festival Kopi tahunan digelar di sebuah perkampungan tua yang dihuni oleh warga Palembang keturunan Yaman, nama kampung itu adalah Al Munawar. Usia kampung ini sudah mendekati 200 tahun, bahkan beberapa rumah yang didirikan sebelum kampungnya sendiri ada sudah berusia mendekati 300 tahun.

Yaman adalah suatu daerah di selatan Jazirah Arab yang bersebelahan dengan Ethiopia yang berada di sisi timur laut benua Afrika, kedua daerah ini hanya dipisahkan oleh selat kecil yang menghubungkan Laut Merah dan Samudra Hindia.

Kopi sebagai minuman diperkenalkan pertama kali di Ethiopia sebelum abad ke-15, lalu minuman yang baru dikenal ini menyeberang ke daratan Yaman dan segera menjadi minuman yang popular, terutama di kalangan pengikut tarekat Sufi yang meminum kopi agar mampu terus terjaga sepanjang malam selama mereka berdzikir.

Dari Yaman kopi segera menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 1784 William Marsden menulis dalam bukunya, Sejarah Sumatera, bahwa di Sumatera telah ada perkebunan kopi di berbagai dataran tinggi di sumatera, walau dia mencatat bahwa kebun-kebun itu kurang terurus dan menghasilkan kopi dengan mutu rendah.

Perkebunan Kopi di Sumatera Selatan mulai dikelola secara baik pada masa kolonial Belanda dengan program Kultuur Stelsel mereka, perkebunan kopi dibuka secara besar-besaran di daerah dataran tinggi seperti di Lahat dan Pagar Alam. Pada tahun 1883 sebagian warga suku Semendo membawa kopi bersama mereka saat berpindah ke daerah Sumberjaya, Lampung.

Sejak saat itu, kopi menjadi bisnis yang sangat menguntungkan bagi Kolonial Belanda dan warga Sumatera Selatan. Banyak warga Sumatera Selatan yang menjadi kaya raya berkat berdagang kopi, termasuk warga Palembang, seperti beberapa warga keturunan Yaman.

Kemakmuran dari kopi ini masih terus dirasakan sampai akhir dekade 60an, saat muncul kopi bubuk merek ‘ABK’ milik Habib Agil bin Ali Al Munawar, disusul tahun 1982 dengan munculnya kopi bubuk merek ‘Sendokmas’ milik Habib Muhammad Syarif Assegaf, kopi-kopi ini popular di kota Palembang, dengan kopi bubuk ‘ABK’ menjadi langganan beberapa instansi pemerintahan di kota Palembang.

Habib Agil bin Ali Al Munawar dan Habib Muhammad Syarif Assegaf adalah warga Palembang keturunan Yaman yang bermukim di Kampung Arab Al Munawar. Seperti leluhur mereka di Yaman, mereka adalah penikmat kopi yang akhirnya berbisnis kopi di Palembang. Untuk membuat kopi bubuk mereka, keduanya membeli biji kopi dari daerah Pagar Alam.

Sumatera Selatan sendiri sampai saat ini adalah pemilik perkebunan kopi terluas di Indonesia, dan juga Provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia, sehingga tidak mengherankan bila Sumatera Selatan menggelar Festival Kopi besar secara berkala.

Tahun 2016 ini festival kopi diselenggarakan di sebuah kampung tua di tepian sungai musi, warganya memiliki tradisi meminum kopi setiap hari setelah melaksanakan sholat subuh di sebuah musholla di tepi sungai musi, di pelataran mesjid yang terbuat dari kayu unglen yang disusun renggang di atas air sungai, para jamaah duduk menikmati kopi sambil memerhatikan kerlap-kerlip lampu di sepanjang tepi sungai serta lalu lalang perahu yang mulai sibuk di awal hari.

Tanggal 29 dan 30 oktober nanti, warga kampung Al Munawar mengundang teman-teman sekalian untuk duduk minum kopi bersama di Al Munawar.

Mari bersama-sama kita seduh, sajikan, dan nikmati kopi asli Sumatera Selatan.