Penistaan Wanita

Dunia sudah menyaksikan kebangkitan dunia industri di akhir abad 1.800an yang dipicu oleh penemuan mesin uap.

Tenaga uap menghasilkan mesin yang bisa menghasilkan barang dalam jumlah besar dan dalam ukuran mutu yang cenderung sama.

Karenanya, pemilik modal memesan banyak mesin untuk mengisi pabrik mereka, namun mesin-mesin ini belum bisa bekerja sendiri sehingga harus diawasi oleh sejumlah pekerja, dari sini muncul permintaan atas tenaga kerja untuk mengawasi mesin-mesin di pabrik.

Awalnya jumlah pria dewasa mencukupi permintaan tenaga kerja di pabrik, saat kebutuhan meningkat dan jumlah pria dewasa makin terbatas, maka perbudakan adalah jawabannya, banyak budak kulit hitam diangkut dari pantai barat Afrika ke daerah-daerah industri di Inggris dan Amerika Serikat.

Namun, seiring pertumbuhan demokrasi yang katanya egaliter, maka, perbudakan dihapuskan. Musibah bagi para pemilik modal yang menjalankan pabrik – pabrik.

Solusinya adalah, Anak-Anak pria ikut dipekerjakan di pabrik, usia mereka sangat muda, ada yang berusia 11 tahun dan mesti merangkak diantara mesin-mesin pabrik untuk memperbaikinya.

Pada masa itu keselamatan kerja sangat buruk, banyak pria dewasa yang meninggal karena buruknya kondisi kerja dan keselamatan kerja. Hal ini makin buruk saat Anak-Anak ikut dipekerjakan, sehingga pada akhirnya, pemerintah Inggris melarang anak dibawah umur untuk bekerja.

Sekali lagi, ini pukulan telak bagi para pemilik modal, Orang-orang kaya yang menjalankan pabrik. Solusi selanjutnya adalah wanita dewasa, tapi, bagaimana caranya membuat wanita untuk keluar dari rumah di dalam budaya Eropa yang menuntut wanita diam di rumah?

Pada saat yang nyaris bersamaan, di Perancis, muncul gerakan wanita yang menuntut hak untuk keluar rumah, mereka menggunakan sepeda untuk keluar dari rumah dan berkeliling di lingkungannya.

Gerakan ini mereka dukung dengan menawarkan para wanita penghasilan sendiri dari bekerja di pabrik. Wanita ingin keluar dari rumah dan punya penghasilan sendiri sementara pemilik modal butuh pekerja untuk bekerja di pabrik- pabrik mereka, cocok.

Jadi lengkaplah sudah, pria dan wanita dijadikan mur dan baut bagi mesin uang para pemilik modal.

Pemerintah tidak melarang wanita bekerja karena wanita bekerja bisa dikenai pajak, bertambahlah sumber potensial untuk memperkaya perbendaharaan uang negara. cocok.

Bagi para pemilik modal yang menghasilkan banyak barang, wanita pekerja yang memiliki uang sendiri berarti pertambahan dalam jumlah objek pemasaran bagi produk mereka. pembelanja potensial yang kelak terbukti cenderung gila belanja.

Pada akhirnya, Wanita, di mata pemilik pabrik & kantor adalah sumber tenaga kerja, di mata pemilik barang adalah sasaran pemasaran barang, di mata pemerintah adalah objek pajak.

Saya tidak melihat bahwa wanita dimuliakan. Mereka sekadar objek, yang dikenai.
Sungguh sayang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s