Sejahtera Tanpa Skandal Sejarah

Indonesia dimulai dari kesepakatan para kelas menengah kepulauan India timur mengenai pemindahan kekuasaan dari penjajah Eropa ke penjajah setempat, dari bule ke sawo matang. Isi Teks Proklamasi

Kesepakatan ini tidak melibatkan seluruh warga kepulauan India timur, hanya berdasarkan asumsi kelas menengah India timur tahun 40-an bahwa seluruh wilayah jajahan Belanda ingin bebas dari Belanda dan langsung bergabung ke negara baru yang mereka beri nama ‘Indonesia’. Kenapa saya anggap asumsi, karena tidak ada data yang mendukung, data seperti:
1. Berapa banyak warga yang ingin bebas dari Belanda,
2. Berapa banyak warga yang ingin bebas dari Belanda lalu langsung bergabung begitu saja ke negara baru yang seluas wilayah jajahan Belanda,
3. Berapa banyak warga yang ingin bebas dari Belanda lalu mendirikan negaranya sendiri di wilayahnya sendiri berdasarkan batas-batas budaya atau kerajaan setempat di masa lalu.

Tidak ada, Tidak ada data. karenanya asumsi mereka lemah dan mereka sadar kelemahan asumsi tersebut maka dikaranglah cerita mengenai kerajaan di masa lalu yang wilayahnya begitu luas sehingga mencakup seluruh wilayah jajahan Belanda di India timur, nama kerajaan yang dicatut itu adalah Majapahit.

Namun apakah benar pengakuan bahwa Majapahit begitu luas sehingga Indonesia yang baru berdiri bisa mempergunakannya untuk menuntut hak atas wilayah bekas kekuasaan Majapahit? Jawabannya, Tidak, itu kesalahan yang diajarkan di sekolah-sekolah, menyesatkan generasi demi generasi, “Skandal Sejarah” menurut Hasan Djafar. Skandal Sejarah

image

Berdasarkan kebohongan itu pemerintah Indonesia melancarkan perang ke Papua yang secara keliru dianggap sebagai taklukan Majapahit. Berdasarkan kebohongan yang sama pemerintah Indonesia menguasai wilayah-wilayah di Sumatera dan Borneo, menyebabkan banyak kepedihan bagi warga setempat di ketiga pulau besar itu.

Namun, pada akhirnya semua kebohongan perlahan terungkap, itulah sebab mengapa mengenali sejarah masa lalu adalah penting agar kita tidak tersesat dalam mengarungi masa depan.

Saya rasa cukup sampai disini semua kebohongan, saya yakin banyak orang yang tidak ingin mengenang para ‘bapak bangsa’ sebagai kumpulan para pembohong, maka mari kita bersihkan nama mereka dari kesalahan, caranya, melakukan apa yang dahulu mereka terlewat untuk lakukan, referendum.

Referendum, bila hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas warga kepulauan India timur ingin bergabung dalam satu negara yang sama maka itu akan jadi data pendukung yang amat kuat bagi asumsi para bapak bangsa Indonesia, mengesahkan asumsi mereka. Dalam referendum yang sama juga diberikan pilihan mengenai bentuk negara apakah terpusat atau federasi.

Referendum, bila hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas warga kepulauan India timur ingin membentuk negaranya masing-masing sesuai batas budaya dan sukunya sendiri, maka terimalah, Vox populi Vox Dei. Itu kehendak Tuhan.

Referendum, jangan alergi pada kata itu, bukan hal tabu di masa ini untuk melakukan referendum. Kerajaan Inggris Raya yang maju dan beradab telah bersedia melakukan referendum di salah satu wilayahnya, Skotlandia. Referendum Skotlandia

image

Indonesia sudah waktunya menjadi bangsa maju dan beradab dengan melakukan hal yang sama, demi nama baik bapak bangsa Indonesia dan masa depan generasi muda kepulauan India timur.

Saya merasa bahwa apa yang terjadi hari ini pada bangsa Indonesia adalah kutukan atas kesalahan yang terjadi di masa lampau. hubungan yang diawali dengan kebohongan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Jika dibiarkan hanya akan membuat masa depan anak cucu kita menjadi makin suram. kebohongan menjadi dasar bagi sistem yang buruk.

Pada awalnya masih berharap kepada pemilu, bahwa melalui pemilu akan ada orang baik yang memperbaiki skandal sejarah Indonesia, selalu berusaha untuk yakin bahwa orang baik yang dipilih akan membawa perbaikan kepada sistem yang buruk, tapi seiring berjalannya waktu harapan itu pupus. Sistem yang diawali dari kebohongan telah melestarikan kebohongan, menjadikan kebohongan sebagai budaya yang mesti dianut oleh segenap anggota sistem tersebut, menyerap banyak orang baik dan merubah mereka menjadi para pembohong baru. Apa yang kita lakukan saat pemilu adalah memberi makan sistem yang buruk itu, melemparkan begitu banyak orang baik ke dalam sistem yang buruk. Tanpa sadar, kita telah membantu melestarikan sistem buruk hasil dari kebohongan di masa lampau. Ini harus dihentikan.

Berhenti menjerumuskan orang baik ke dalam sistem yang buruk.

Karenanya, saya berhenti sejenak, saya tidak ingin melemparkan orang baik ke dalam sistem yang buruk lalu saat si orang baik ini kinerjanya rendah saya lalu protes. Saya tidak perlu menunggu lebih lama hanya untuk protes, sedari awal saya sudah protes.

Saya ingin mengikuti pemilihan yang pilihannya bisa memperbaiki kesalahan di masa lampau. Beri saya pemilihan yang bisa menentukan masa depan saya, maka saya akan dengan senang hati datang memberikan suara saya.

Tapi tidak besok hari, saya punya suara tapi suara saya tidak dianggap, suara saya malah dituduh sebagai kejahatan, sejak kapan kebebasan berpendapat menjadi kejahatan, oh iya, sejak kebohongan menjadi budaya dan berkuasa.

Kebebasan berpendapat menjadi ancaman bagi kebohongan skandal sejarah yang hendak ditutupi.

Saya hanya ingin kehidupan yang lebih baik bagi semua orang, kesejahteraan bagi bersama, merata. Mari bersama kita perbaiki skandal sejarah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s