Yang Waras Ngalah? Lu Aja Deh…

Jadi hari ini tanggal 21 April jalan yg menuju jembatan Ampera macet parah, baik dari arah selatan maupun utara, saya kurang paham apa penyebab kemacetan parah di hari Kartini ini.

Tapi saya mau menggambarkan situasi di atas jembatan Ampera, ini jembatan punya dua dua jalur, satu ke selatan dan satu ke utara, masing-masing jalur terdiri dari dua lajur, sehingga total ada empat lajur ditambah trotoar bagi pejalan kaki di kanan dan kiri jalan.

Sehari-hari jalan diatas jembatan Ampera cukup lancar tapi ada saja kendaraan roda dua yang melintas di atas trotoar, apalagi saat macet parah seperti tadi, kendaraan roda dua banyak melintas di trotoar membuat pejalan kaki harus hati-hati dan menepi, jika lebih banyak lagi kendaraan roda dua yang melintas di trotoar, pejalan kaki nampaknya harus berjalan diatas pagar jembatan.

Bukan hanya menjajah hak pejalan kaki, kendaraan roda dua juga menjajah hak pengguna jalan yang datang dari arah berlawanan.

Dari arah utara, jalur yang hanya untuk dua lapis kendaraan roda empat diisi oleh tiga lapis kendaraan roda empat, kendaraan roda dua ikut mengantri di lajur kendaraan roda empat, bagi pengendara roda dua yang tidak sabar, mereka langsung menyelinap diantara kendaraan roda empat, atau naik ke trotoar, atau bergerak ke kanan masuk ke jalur berlawanan. Pengendara roda dua yang mengambil pilihan terakhir ini ada banyak, saking banyaknya mereka bisa bikin dua jalur motor dari arah utara ke selatan, merampas jalur kendaraan dari selatan ke utara. Kendaraan roda empat saja sudah berjalan diatas garis marka jalan, lalu kendaraan-kendaraan roda dua ini membentuk dua baris baru disisi kanan kendaraan roda empat.

Kehilangan bagian yang menjadi haknya, pengguna jalan dari arah selatan ke utara terpaksa berdesak-desakan di jalan yang tersisa, makin macet. Saya termasuk yang terjebak karena kendaraan roda empat di depan saya takut dengan kendaraan roda dua yang masuk ke jalurnya, dia melambat, saya dibelakang dia ikut melambat, lalu saya bosan, lalu saya mau main-main saja supaya tidak bosan, bagaimana bila kami, pengendara dari arah selatan merebut kembali bagian jalan kami yang dirampas pegendara dari arah utara? Nampaknya akan seru.

Saya menunggu, siapa tahu akan ada pengendara roda dua yang memulai tapi ternyata tidak ada, okelah, saya yang akan mulai dengan kendaraan roda dua saya, segera saja saya mendahului kendaraan roda empat di depan saya dari sisi kanan dan langsung berhadap-hadapan dengan pengendara roda dua dari arah utara yang merampas jalur kami, resikonya? Tabrakan adu kambing.

Tapi ya namanya juga senang-senang ya, resiko sih belakangan,  apalagi bila merasa diri berada di posisi yang benar, melaju di dalam jalur sendiri melawan pengendara yang masuk ke jalur kita, wuih, semangat menggelora, adrenalin tumpah setiap kali stang nyaris bertemua stang, jantung berdegap setiap kali kaca spion bersentuhan, harus jago jaga keseimbangan, kalau tidak bisa jatuh ke tengah jalan lalu ditabrak mobil dari belakang.

Tapi semua resiko terbayar lunas oleh kesenangan saat melihat para pencuri jalan ini panik saat digertak adu kambing, panik, pengendara roda dua yg berada di jalur terluar memepet kendaraan roda dua dibagian dalam, bersenggolan sesama mereka sendiri. Senang juga melihat ada yang sampai menyenggol kendaraan roda empat karena tidak mau adu kambing. Ada juga kendaraan roda dua yang baru mau mendahului kendaraan di depannya, hendak masuk lebih dalam ke jalur berlawanan lalu tiba-tiba berhadapan dengan kendaraan dari arah berlawanan, mendadak berhenti lalu ditabrak kendaraan di belakangnya, tidak parah, tapi cukuplah untuk jadi pengingat agar lebih berhati-hati di jalan, atau jika memungkinkan, taat pada peraturan lalu lintas.

Seru sekaligus menyenangkan melihat kepanikan para pencuri jalur ini, mereka berani bertindak tapi tidak siap dengan resiko, ciri khas orang indonesia, kaum nalar pendek, pikirannya hanya sampai kepada “saya pilih lakukan ini” sudah, begitu saja, nalarnya tidak sampai kepada “kalau saya pilih lakukan ini, resikonya apa  ya”.

Katanya, kalau bertemu dengan orang-orang seperti ini lebih baik mengalah, “yang waras ngalah”, tapi tahu tidak, karena orang waras selalu mengalah makanya negara ini dikuasai oleh orang tidak waras.
Mau begini terus? Lu aja lah…

Saya memilih seperti ini, Terus berada di jalur paling kanan berhadapan dengan pencuri jalur dari arah berlawanan. Ini pilihan saya. Kalaupun mau berhenti itu semata-mata karena kehendak sendiri, tiada guna menggertak saya.

Lagi pula, berkendara menantang pelanggar lalu lintas adalah pekerjaan mulia, memberi pelajaran mengenai tertib di jalan raya dalam cara yang dimengerti pengendara barbar, pemaksaan. Juga, ini adalah suatu kesenangan, memacu adrenalin sekaligus menuntut keahlian tertentu dan nyali yang memadai, ini menjadi semacam olahraga baru, urban sport, bolehlah sekali-kali dicoba.

Semoga bernasib baik, teman!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s