Orang Aneh

Lampu merah adalah tempat pertunjukan orang aneh, tidak perlu pergi ke museum Ripley, cukup nongkrong di perempatan terdekat maka kita sudah bisa menyaksikan pertunjukan orang aneh.

Saat lampu merah menyala dan kendaraan berhenti di garis yang telah ditentukan, ada satu… Dua… Tiga… Delapan… Empat belas… Ah banyak lah, ada banyak kendaraan roda dua yang berhenti melewati garis, dan tentu saja melewati lampu lalu lintas, mereka membelakangi lampu lalu lintas, tidak tahu kapan lampu hijau akan menyala.

Berada di depan, melewati lampu lalu lintas, mereka tampaknya tidak sabar menanti kendaraan dari arah kanan berhenti… Mereka pasti terburu-buru sekali, hitungan mundur lampu merah pasti terasa lama sekali bagi mereka dan saya bisa membayangkan saat lampu hijau menyala mereka akan segera melejit dengan motor mereka, luar biasa.

Lalu datanglah saat yang ditunggu-tunggu itu, lampu hijau menyala! ngebut!! … Eh tunggu… Motor-motor itu masih berhenti, satu detik… Dua detik… Lima detik…. Sebelas detik! Klakson kendaraan di belakang mulai ramai, barulah Motor-motor itu berjalan… Rupanya mereka tidak berpatokan kepada lampu merah, mereka berjalan setelah ramai suara Klakson di belakang.

Baiklah,

Motor-motor yang berhenti melewati garis lampu merah, orang-orang ini, jika memang sedang buru-buru mengapa tidak menerobos lampu merah dengan mengambil resiko ditabrak truk pasir? Kan sedang buru-buru, “jangan melanggar lalu lintas dong!” jawabnya, lah, berhenti melewati garis lampu merah memangnya bukan pelanggaran lalu lintas?

Lagi pula kalau memang buru-buru, kenapa begitu lampu hijau menyala Motor-motor yang berhenti melewati garis lampu merah itu tidak segera berjalan? “ya gak kelihatan lah lampu hijau nya”… Oh, tidak bisa melihat lampu hijau nya menyala… LALU KENAPA BERHENTI MELEWATI GARIS WOYYY…

“saya berhenti melewati garis lampu merah karena berhenti di belakang garis lampu merah adalah mainstream, saya anti-mainstream, ini adalah pernyataan sikap!” ok, saya tidak akan mendebat kaum anti-mainstream, tapi, tewas dengan kepala pecah terlindas ban truk pasir adalah bentuk kematian yg anti-mainstream bila dibandingkan dengan kematian akibat sakit, itu terlalu mainstream. Harusnya kaum anti-mainstream mencobanya.

“saya berhenti melewati garis lampu merah karena yang di garis lampu merah sudah penuh, kalau saya mengantri di belakang, nanti gak kebagian lampu hijau selanjutnya.” oh iya? bayangkan banyaknya kendaraan yang mengantri di belakang sesuai peraturan yang gak kebagian lampu hijau karena kalian baru berjalan setelah 11 detik lampu hijau menyala akibat kalian tidak tahu kapan lampu hijau menyala karena kalian berhenti melewati garis lampu merah… Bego.

Ada ‘Ego’ dalam ‘Bego’, dan benar, membiarkan diri memuaskan ego seringkali berakhir dengan mempertontonkan kebegoan.

Saya tidak akan melarang orang-orang untuk berhenti melewati garis lampu merah, karena saya menghargai pilihan yang dibuat setiap orang, termasuk memilih untuk jadi orang bego.

Punya sikap dalam hidup itu bagus, apalagi bila teguh memegangnya, termasuk teguh memegang kebegoan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s