Palembang dan Melayu

“Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan… setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Shih-li-fo-shih”

Kutipan diatas diambil dari catatan perjalanan seorang pendeta Buddha dari Cina yang hendak menuju India, namanya I-tsing, dan negeri shih-li-fo-shih yang dia maksud adalah Sriwijaya, sekarang dikenal sebagai Palembang, kota luarbiasa di tepi sungai Musi yang hebat.

Sejak saat itu Sriwijaya terus berkembang, menaklukan berbagai pelabuhan lain di sisi barat dan timur selat malaka, menguasai kota pelabuhan yang makmur seperti Melayu dan Kedah, dan membuat Sriwijaya menjadi satu-satunya kekuatan pengendali perdagangan di selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Sriwijaya juga menjadi pihak yang bertanggung jawab atas penyebaran kebudayaan Melayu di segenap wilayah yang dia kuasai, dari Semenanjung Melayu sampai ke Jawa bagian tengah.

Kebudayaan Melayu sendiri terbentuk jauh sebelum Sriwijaya, merupakan percampuran berbagai budaya yang terlibat dalam perdagangan di selat Malaka dan laut Cina Selatan selama bertahun-tahun. Bahasa Melayu menjadi bahasa perdagangan di pelabuhan-pelabuhan itu, termasuk di pelabuhan Sriwijaya, dan saat Sriwijaya melakukan perluasan wilayah, mereka membawa bahasa dan budaya Melayu bersama mereka.

Pada pertengahan abad ke-12 Sriwijaya Memudar, pelabuhan Melayu di Jambi sedang bersinar, sayang untuk masa yang sebentar karena kerajaan Melayu memindahkan ibukota mereka ke pedalaman, menjauhi pesisir yang ramai dengan perdagangan.

Sriwijaya runtuh, pamor Palembang memudar untuk sesaat sebelum bangkit lagi, posisi pelabuhan Palembang yang strategis, terlindung dengan baik dan dekat dengan jalur perdagangan laut yang ramai membuatnya menjadi tempat yang sempurna bagi pusat operasi para bajak laut.

Lambat laun pelabuhan Palembang kembali ramai dikunjungi kapal dagang, banyak pedagang Cina dan Arab yang menetap di Palembang. Palembang kembali menjadi salah satu pusat perdagangan di Sumatera.

1397 M, Palembang dilanda huru-hara besar, seorang pangeran keturunan raja-raja Sriwijaya terpaksa melarikan diri dari Palembang menuju tumasik, sempat menetap dan berkuasa disana sebelum akhirnya mengungsi lagi ke pesisir barat semenanjung melayu, di tempat yang sekarang bernama Malaka.

Bersama dirinya, sang Pangeran Palembang membawa kebudayaan melayu kemanapun dia pergi, dan menurunkan trah melayu ke berbagai raja dan sultan di dua tepi selat malaka dan laut Cina selatan.

Pada tahun 1403 M Armada Kekaisaran Cina tiba di laut Cina selatan, Laksamana Cheng Ho yang memimpin Armada tersebut nyaris menjadi korban bajak laut yang bermarkas dan mengendalikan Palembang, membuat dia memimpin operasi untuk menangkap si bajak laut dan membawanya ke hadapan kaisar, disana si bajak laut dijatuhi hukuman mati pada tahun 1407 M.

Kekaisaran Cina lalu menunjuk seorang Cina Palembang yang membantu Laksamana Cheng Ho sebagai wakil resmi Kekaisaran Cina di Palembang pada tahun 1407 M, tugas utamanya mengurusi perdagangan yang dilakukan oleh warga Cina di Palembang.

Tahun 1411 M Laksamana Cheng Ho memboyong raja Malaka, Pangeran Palembang, ke Cina untuk menghadap Kaisar dan menerima pengakuan sebagai raja Malaka.

Dalam sejarah, dua kali Palembang menjadi titik tolak penyebaran budaya melayu, pada Sriwijaya dan Parameswara. Dalam sejarah pula Palembang menunjukkan ketangguhannya untuk selalu bangkit dari keterpurukan, selalu menjadi pusat bagi wilayah di sekitarnya.

Mungkin sudah saatnya pula kini Palembang bangkit dan memimpin dunia melayu, mungkin sudah tiba waktunya Palembang menjadi pusat kebudayaan melayu sedunia.

Sriwijaya dan Parameswara berasal dari Palembang, tiada yang mampu membantah, kita memang pusat dunia melayu, itu sebabnya keluarga kesultanan di Malaysia selalu berziarah ke Palembang,karena mereka tahu, melayu itu di Palembang, melayu adalah Palembang.

Jika Yogyakarta bisa mengaku sebagai pusat budaya jawa, maka sangat layak bila Palembang mengaku sebagai pusat budaya Melayu, sedunia.

Dalam melayu semua budaya berpadu, membuatnya kaya, membuatnya bangga.

Palembang Pusat Dunia Melayu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s