3 Musim di Palembang

Suatu saat ada teman dari ibukota yang memberi saran, agar museum di Palembang tidak membosankan, cobalah dibuat program acara per bulan yang berbeda sepanjang tahun, itu akan memancing pengunjung, membuat mereka memiliki alasan untuk datang ke museum karena ada sesuatu yang hendak dilihat, sesuai program yang sedang berlangsung.

Kurang dari sebulan kemudian, ada teman yang lain yang juga dari ibukota yang memberi saran serupa, agar berjualan program wisata yang memiliki tema supaya tidak membosankan, bisa dua atau tiga tema selama setahun, dan kali ini bukan hanya di tingkat museum, tapi naik tingkat ke tingkat kota Palembang, bahkan provinsi Sumatera Selatan.

Serem.

Baiklah, sebelum ada teman yang ketiga dari ibukota datang dan menyarankan untuk membuat program wisata di tingkat nasional, maka saya segera memberikan tanggapan atas segala niat baik mereka itu.

Basmallah.

Palembang adalah kota Melayu yang kuat dipengaruhi budaya Arab dan Cina, dan akan menjadi sesuatu yang sangat menarik bila kekayaan budaya kota Palembang itu bisa dirayakan secara terbuka oleh setiap warga Palembang yang toleran, dengan tidak lupa mengundang warga dari kota dan Negara lain untuk ikut merayakannya di Palembang.

 

Festival Oriental

Pedagang Cina telah tiba di Palembang bahkan sebelum kedatuan Sriwijaya berdiri di Palembang, mereka berperan penting dalam memajukan perdagangan di Palembang sehingga membuat Palembang menjadi pelabuhan yang makmur dan kuat, dua modal utama yang membuat Palembang mampu tumbuh besar menjadi Kedatuan yang amat luas, penguasa lautan dan selat di Asia Tenggara.

Selama empat bulan pertama tahun 2017 diadakan perayaan bertema ‘Oriental’, kegiatannya akan dipusatkan di Kampung Kapitan sebagai kediaman pemimpin masyarakat Cina di kota Palembang. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan akan mengundang Kedutaan besar RRC untuk berpartisipasi di Festival Oriental ini, mereka mungkin bisa mengadakan pameran kebudayaan Cina di Kampung Kapitan, bisa membantu Rehabilitasi kampong Kapitan, bisa membantu menelusuri jejak para Kapitan Cina ke leluhur mereka di Cina daratan (yang akan berguna untuk melengkapi sejarah Kampung Kapitan), dan bisa juga menarik investor Cina untuk ber-investasi di Sumatera Selatan.

Empat bulan Festival Oriental ini akan diawali oleh perayaan Imlek di Pulau Kemaro pada tanggal 28 januari 2017, dilanjutkan di minggu-minggu berikutnya dengan acara:

  • Pameran sejarah masuknya Cina di Palembang di Museum Balaputra Dewa, kerjasama Museum Balaputra Dewa, Jalur Rempah, Kedubes RRC, dan Kedubes Singapura,
  • Seminar internasional Pengaruh budaya Cina di Palembang Kuno yang dilaksanakan di Museum SMB II yang disponsori oleh Kedutaan Besar Singapura,
  • Festival Shaolin dan Barong Sai di Pelataran Kampung Kapitan yang diikuti tim Barong Sai dari RRC, Singapura, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, dll. Acara ini dibantu oleh Kedutaan Besar Cina,
  • Pameran Sejarah Budaya Cina oleh Kedutaan Besar RRC yang dilaksanakan di Museum Balaputra Dewa,
  • Pekan Sejarah Cheng Ho di TPKS, kerjasama antara TPKS dengan Kedubes Singapura,
  • Pameran Pendidikan Tinggi di Singapura disertai dengan pemberian beasiswa bagi warga SumSel oleh Kedubes Singapura di Hotel,
  • Pameran Teknologi Cina dan MoU Investasi Cina di SumSel oleh Kedubes RRC yang dilakukan di Hotel,
  • Festival Kuliner Cina di Pelataran Kampung Kapitan, Kerjasama Pemerintah Provinsi SumSel dengan Kedubes Singapura,
  • Pelepasan 10.000 lampion, dilakukan di pelataran BKB dan jalan di sekitar kantor DPRD dan Kantor Walikota, diikuti oleh warga kota Palembang dan para turis, dan
  • Parade Garuda Sriwijaya oleh warga Cina di Palembang sebagai acara pamungkas Festival Sriwijaya, Kerjasama Paguyuban Etnik Cina di Palembang dengan Kedubes RRC.

Ini adalah rangkaian acara yang akan dilakukan selama Festival Oriental, mulai dari acara seminar ilmiah, sampai acara santai Kuliner, dan semuanya adalah kegiatan yang dapat digolongkan sebagai MICE yang bisa membantu menggerakkan ekonomi Palembang.

Ini belum termasuk kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan oleh komunitas-komunitas anak muda di kota Palembang.

Warga Palembang dan Pelaku Usaha di Kota Palembang selama Festival Oriental berlangsung dapat melakukan:

  • Menawarkan jasa City Tour kepada peserta dan pengunjung Festival Oriental, terutama paket tur yang mengunjungi tempat-tempat wisata yang berkaitan dengan Cina Palembang,
  • Menawarkan Merchandise khas Palembang dan SumSel kepada peserta dan pengunjung Festival Oriental,
  • Menyediakan jasa Home Stay bagi para Pelancong yang hendak menghadiri Festival Oriental, terutama dari warga Kampung Kapitan,
  • Menyediakan jasa sewa kendaraan bagi para peserta dan pengunjung Festival Oriental.

Namun selama itu tentu saja warga dan pelaku usaha harus melakukan:

  • Segenap anggota ASITA dan PHRI Menawarkan paket wisata Festival Oriental ini ke rekan usaha di luar kota dan luar negeri, terutama di Singapura, Hong Kong, Taiwan dan RRC,
  • PHRI dan ASITA mewajibkan para anggotanya untuk melengkapi karyawan lini depan mereka dengan aksesoris bercorak Oriental selama melayani tamu,
  • Warga Palembang mempromosikan Festival Oriental kepada rekan-rekan mereka di Luar kota melalui media sosial,
  • Maskapai Penerbangan menyediakan tariff khusus untuk penerbangan menuju Palembang dari Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan RRC selama Festival Oriental berlangsung.

Setelah 4 bulan Festival Oriental yang meriah, Festival ditutup dan dilanjutkan dengan Festival Arab, yang akan dilaksanakan selama 4 bulan selanjutnya.

 

Festival Arab

Orang Arab adalah etnik yang datang ke Palembang sejak masa kedatuan Sriwijaya, mereka berdagang di Palembang dan menjadi utusan Raja Sriwijaya ke negeri Cina.

Empat bulan kedua tahun 2017 Palembang akan merayakan Festival Arab yang akan dipusatkan di kampong Arab Al-Munawar dan sekitarnya.

Pemerintah Provinsi SUmSel dan Kota Palembang bisa merangkul Yayasan habaib dan mengundang Kedutaan Besar Uni Emirat Arab dan Qatar untuk berpartisipasi selama Festival Arab ini, terutama pada saat pelaksanaan Haul Kubro pada bulan Juni 2017.

Festival Arab akan dimulai dengan Lomba Penghafal Quran untuk anak-anak tingkat Provinsi yang diselenggarakan di Al Quran Akbar, Gandus, disusul di minggu-minggu berikutnya dengan:

  • Pameran Sejarah Arab Sebelum Islam di Museum Balaputra Dewa yang disponsori oleh Kedubes UEA, kerjasama antara Museum Balaputra Dewa dengan Museum Nasional Al-Ain,
  • Seminar Penyebaran budaya Arab di Palembang dan Sumatera Selatan di Museum SMB II, kerjasama museum SMB II dengan Jalur Rempah,
  • Seminar kebudayaan Arab dan penampilan marawis di Museum SMB II, kerjasama Museum SMB II dengan Kedutaan UAE,
  • Tabligh Akbar Tarekat Sammaniyah di Mesjid Agung Palembang (atau di mesjid Sriwijaya bila sudah selesai dibangun),
  • Haul Kubro, yang merupakan Acara Puncak Festival Arab,
  • Seminar Menelisik asal usul warga Arab di Palembang yang dilakukan di Kampung Arab Al-Munawar, kerjasama antara Pesantren ar-Riyadh, Yayasan habaib, dan Museum Nasional,
  • Festival Kuliner Arab di kampong Arab Al-Munawar,
  • Seminar Bisnis Oleh Investor Arab disertai MoU investasi Investor Arab di SumSel yang dilakukan di Hotel,
  • Seminar hubungan Kopi dan orang Arab di Museum Balaputra Dewa, kerjasama Museum Balaputra Dewa dengan Museum Nasional Al-Ain, dan
  • Festival Marawis yang dilakukan di kampong arab Al-Munawar.

Inilah beberapa kegiatan yang mungkin dilaksanakan selama Festival Arab, yang merangkul Kedubes Negara-negara Arab dan yayasan orang Arab di Indonesia.

Ini belum termasuk kegiatan yang akan dilaksanakan oleh berbagai komunitas relijius di kota Palembang.

Warga Palembang dan Pelaku Usaha di Kota Palembang selama Festival Arab berlangsung dapat melakukan:

  • Menawarkan jasa City Tour kepada peserta dan pengunjung Festival Arab, terutama paket tur yang mengunjungi tempat-tempat wisata yang berkaitan dengan Arab dan Islam di Palembang,
  • Menawarkan Merchandise khas Palembang dan SumSel kepada peserta dan pengunjung Festival Arab,
  • Menyediakan jasa Home Stay bagi para Pelancong yang hendak menghadiri Festival Arab, terutama bagi warga kampong Arab Al-Munawar,
  • Menyediakan jasa sewa kendaraan bagi para peserta dan pengunjung Festival Arab.

Namun selama itu tentu saja warga dan pelaku usaha harus melakukan:

  • Segenap anggota ASITA dan PHRI Menawarkan paket wisata Festival Arab ini ke rekan usaha di luar kota dan luar negeri, terutama di KSA, Qatar, UEA , Pakistan, dan Turki,
  • PHRI dan ASITA mewajibkan para anggotanya untuk melengkapi Frontliners mereka dengan aksesoris bertema Arab selama melayani tamu,
  • Warga Palembang mempromosikan Festival Arab kepada rekan-rekan mereka di Luar kota melalui media sosial,
  • Maskapai Penerbangan menyediakan tariff khusus untuk penerbangan menuju Palembang dari KSA, Qatar, UEA, Yaman, Irak, dan Mesir selama Festival Arab berlangsung.

Setelah 4 bulan Festival Arab, Festival ditutup dan dilanjutkan dengan Festival Melayu, yang akan dilaksanakan selama 4 bulan selanjutnya.

 

Festival Melayu

Melayu adalah kebudayaan yang disebarkan oleh kedatuan Sriwijaya yang beribukota di Palembang, dan kelak salah satu keturunan raja Sriwijaya akan meninggalkan Palembang untuk mendirikan kerajaan di semenanjung melayu, yang lalu menurunkan berbagai sultan di se-antero dunia melayu.

Tahun 2017 ini orang-orang Melayu sedunia akan merayakan kebudayaan mereka di tanah kelahirannya, Palembang.

Selama empat bulan terakhir tahun 2017 akan dilaksanakan Festival Melayu yang akan dipusatkan di Pelataran Benteng Kuto Besak.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang dalam menyelenggarakan Festival Melayu ini bisa merangkul yayasan Dunia Melayu Dunia Islam, juga Kedutaan Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam sebagai sponsor untuk beberapa acara yang akan menyemarakkan Festival Melayu.

Festival Melayu akan dibuka dengan Festival Tari Melayu yang akan menyajikan berbagai tari Melayu dari:

  • Aceh ,
  • Sumatera Utara,
  • Riau,
  • Riau Kepulauan,
  • Sumatera Barat,
  • Jambi,
  • Sumatera Selatan,
  • Bangka Belitung,
  • Lampung,
  • Kalimantan Barat,
  • Negara Singapura,
  • Negara Malaysia,
  • Negara Brunei Darussalam,
  • Negara Filipina, dan
  • Kerajaan Thailand.

Festival Tari Melayu ini bertempat di Pelataran Benteng Kuto Besak, dilanjutkan di minggu-minggu setelahnya berupa acara:

  • Seminar Budaya Melayu di Asia tenggara dan Dunia, bertempat di Museum Balaputra Dewa, kerjasama antara Museum Balaputra dengan Museum Nasional, Kedubes Singapura dan Malaysia,
  • Festival Gurindam, bertempat di Pelataran Museum SMB II, kerjasama antara Museum SMB II dengan kedubes Malaysia,
  • Festival Teater Melayu, digelar di Pelataran Benteng Kuto Besak, kerjasama antara Dewan Kesenian Kota Palembang dengan Dewan Kesenian dari berbagai provinsi,
  • Seminar Bahasa Melayu, digelar di Museum Balaputra Dewa, kerjasama antara Balai Bahasa Palembang dengan Dewan Bahasa Malaysia dan Dewan Bahasa Brunei,
  • Seminar Parameswara sang Bapak Para Sultan Melayu, bertempat di Museum Balaputra Dewa, kerjasama antara Museum Balaputra Dewa dengan Kedubes Malaysia dan Singapura,
  • Seminar Palembang Kuno, bertempat di TPKS, kerjasama antara TPKS dengan Balai Arkeologi Palembang, Balai Arkeologi Nasional, dan BMKG,
  • Festival Kuliner Melayu, bertempat di pelataran Benteng Kuto Besak, kerjasama antara Pemkot Palembang dengan berbagai Pemkot di sumatera dan Kalimantan, dan Kedubes Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina,
  • Pawai Budaya Melayu, sebagai acara puncak Festival Melayu, diselenggarakan di Kantor Walikota Palembang sampai Pelataran Benteng Kuto Besak.

Inilah beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan selama Festival Melayu yang merangkul Kedubes Negara-negara dengan penduduk Melayu dan yayasan Dunia Melayu Dunia Islam.

Deretan acara ini belum termasuk berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh komunitas-komunitas yang ada di kota Palembang.

Warga Palembang dan Pelaku Usaha di Kota Palembang selama Festival Melayu berlangsung dapat melakukan:

  • Menawarkan jasa City Tour kepada peserta dan pengunjung Festival Melayu, terutama paket tur yang mengunjungi tempat-tempat wisata yang berkaitan dengan Sejarah Melayu di Palembang,
  • Menawarkan Merchandise khas Palembang dan SumSel kepada peserta dan pengunjung Festival Melayu,
  • Menyediakan Jasa Home Stay bagi para Pelancong yang hendak menghadiri Festival Melayu, terutama bagi warga kampong Firma dan Kampung Kemas,
  • Menyediakan jasa sewa kendaraan bagi para peserta dan pengunjung Festival Melayu.

Namun selama itu tentu saja warga dan pelaku usaha harus melakukan:

  • Segenap anggota ASITA dan PHRI Menawarkan paket wisata festival Melayu ini ke rekan usaha di luar kota dan luar negeri, terutama di KSA, Qatar, UEA , Pakistan, dan Turki,
  • PHRI dan ASITA mewajibkan para anggotanya untuk melengkapi Frontliners mereka dengan aksesoris bertema Melayu selama melayani tamu,
  • Warga Palembang mempromosikan Festival Melayu kepada rekan-rekan mereka di Luar kota melalui media sosial,
  • Maskapai Penerbangan menyediakan tariff khusus untuk penerbangan menuju Palembang dari Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina selama Festival Melayu berlangsung.

Setelah 4 bulan Festival Melayu, Festival ditutup seiring berakhirnya tahun 2017, dan Sumatera Selatan bersiap memasuki tahun yang baru, tahun olahraga, tahun 2018, dimana Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sudah menyiapkan kalender wisata catur wulan untuk memperkuat branding Palembang sebagai Kota Olahraga dan menyemarakkan  Asian Games 2018 yaitu Festival Permainan Tradisional, Festival Olahraga Ekstrim, dan Festival Olahraga Air.

Demikianlah tulisan ini dibuat agar pariwisata Sumatera Selatan makin semarak.

Orang-orang bisa berkunjung ke museum tiga kali dalam setahun, mereka datang setiap pergantian tema pameran.

Turis bisa datang tiga kali setahun ke Palembang, datang untuk melihat tema terbaru wisata Palembang.

Agar kunjungan wisata terus berlangsung sepanjang tahun.

Agar warga Palembang bisa memanfaatkan peluang usaha minimal tiga kali dalam setahun, peluang usaha tiap kali turis datang.

Dan pada akhirnya, saya bisa duduk kembali bersama teman dari ibukota, di pojok sebuah kedai milik orang India dan menanti dia memberikan saran bagus lain sambil menyantap roti canai, lalu membayangkan, orang-orang dari India datang ke Palembang karena ingin tahu bagaimana kebudayaan yang mereka banggakan bisa hidup di negeri seberang lautan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s