Pesona Napal Licin

Pada suatu masa terdapat sekelompok masyarakat di daerah hulu sungai Rawas yang tidak menetap di satu tempat, mereka selalu berpindah-pindah untuk membuka lahan dan ladang yang baru, terus begitu sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mulai tinggal di satu tempat yang sama, selamanya, setelah melalui kesepakatan, mereka memilih satu tempat dan mulai melakukan pembersihan, menebangi semua pepohonan yang ada untuk membangun sebuah desa, batang pohon-batang pohon itu mereka biarkan tergeletak di tempatnya sampai satu bulan, menunggu semuanya kering sehingga lebih mudah dibakar.

Satu bulan kemudian mereka kembali datang ke lokasi bakal desa mereka, namun mereka terkejut, batang pohon yang tadinya bergeletakan sekarang telah hilang!, Lokasi bakal desa mereka yang tadinya dipenuhi batang pohon yang berkaparan sekarang telah bersih, licin, mereka tidak tahu apa yang terjadi tapi mereka senang bukan main karena itu meringankan pekerjaan mereka dan desa bisa segera didirikan.

Mereka lalu memberi nama desa mereka dengan nama ‘Kapar Licin’, semua batang yang dikaparkan telah licin.

Pada tahun 1990-an, ada pejabat Kabupaten Musi Rawas yang hendak berkunjung ke Gua di dekat desa Kapar Licin, dia menaiki perahu menghulu sungai lalu mendarat di tepi sungai di dekat desa Kapar Licin, saat akan turun dari perahu, kaki si pejabat menapak di atas batu napal di tepi sungai dan dia terpeleset jatuh, pejabat ini lalu mengatakan “(batu) napal (nya) licin”.

sejak saat itu desa Kapar Licin dikenal sebagai desa Napal Licin.

Setidaknya begitulah cerita yang saya dapat saat berkunjung ke desa Napal Licin bulan april yang lalu, perjalanan kesana sungguh tidak mudah,bukan hanya waktu tempuh yang lama namun juga kondisi jalan dan jembatan yang ada membuat anda berharap telah memiliki asuransi jiwa yang bagus sebelum bepergian kesana.

Tapi seperti kata orang bijak, sesuatu yang hebat itu membutuhkan pengorbanan yang hebat pula, walau saya tidak tahu siapa nama orang bijak itu tapi kalimat bijaknya sesuai sekali untuk menggambarkan perjalanan ke Napal Licin.

Butuh waktu 8 jam dari Palembang untuk sampai ke Lubuk Linggau, dari sana melanjutkan ke simpang Sarolangun sekitar 1 jam dan masuk ke jalan desa menuju Napal Licin selama 3 jam 30 menit.

Jalan aspal antara kota Lubuk Linggau dan kota Muara Rupit mungkin adalah jalan terbagus yang pernah saya lalui selama berkeliling Sumatera Selatan, jalannya mulus dan lurus dan terbentang dari satu bukit ke bukit selanjutnya, diantara hutan dan ladang, senang!

Tapi disarankan untuk berhati-hati selama melalui jalan ini, karena jalannya yang mulus dan sepi cenderung membuat pengendara lalai dan berakhir dengan kecelakaan.

Utamakan keselamatan kawan, mantan menanti di pelaminan.

Jalan dari simpang Sarolangun sampai ke Napal Licin sebagian mulai diaspal ulang tahun 2015, sebagian lagi baru diaspal ulang tahun 2016, cukup mulus walau di beberapa tempat jalan yang diperbaiki tahun 2015 mulai rusak dan ada bagian jalan yang menanjak aspalnya rontok sebagian, tapi semuanya masih bisa dilalui.

Tahun 2017 ini rencananya pemerintah kabupaten Musi Rawas Utara akan memperbaiki beberapa bagian jalan dan sejumlah jembatan batu tanpa pagar dan jembatan besi yang lantainya mulai lepas. Tenang, semuanya masih bisa dilalui sehingga tulisan ini bisa diterbitkan sekarang. Saya yakin saat kawan-kawan nanti ke Napal Licin semua jalan dan jembatan telah bagus dan layak dilalui, karena pemerintah Muratara  serius hendak mengembangkan industri pariwisata mereka. 

Tiba di mulut gua Napal Licin, kawan-kawan akan terdiam sesaat, memerhatikan mulut gua,  melempar pandangan ke sekitar, dan mulai berfikir, setelah semua perjuangan ini, setelah 12 jam 30 menit berkendara, setelah semua jalan bergelombang dan jembatan yang nyaris putus, hanya ini? Hanya ini??!!!

LoL

Tarik nafas dulu dalam-dalam, atur pernafasan, lalu melangkahlah lebih jauh ke dalam gua, melintas di celah sempit diantara bebatuan gua, merunduk-runduk di langit-langit rendah, bernafas diantara bau belerang dari kotoran kelelawar yang mungkin berabad-abad telah ada disana, lalu kawan-kawan akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan, aula besar dengan langit-langit yang tinggi dan lubang di atasnya.

Saya berdiri sambil menatap ke tanaman yang tumbuh di tepi lubang yang menganga sekitar 70 meter di atas kepala saya, lebat tanaman disana. Di sekitar saya ada berbagai tumbuhan hijau, mulai dari lumut sampai sejenis pakis, udaranya lembab, cahayanya cukup, pemandangannya indah.

Saya lalu mendaki batu besar yang ada di hadapan saya, itu batu karst yang kuat dan tajam, lalu berpindah ke batu yang lebih tinggi disebelahnya, terus memanjat sampai tiba di sebuah pelataran sempit berpasir, sekitar 30 meter di atas tempat awal. Untuk naik ke pelataran selanjutnya yang berada sekitar 17 meter diatas sana, saya harus berpegangan pada akar tanaman untuk mendaki dinding 90 derajat di depan saya, saat itulah saya berharap disini ada lift.

Teman saya sampai ke atas, sayangnya dia tidak melanjutkan ke tingkat terakhir gua Napal Licin, tempat dimana kita bisa menikmati keindahan pemandangan sekitar nun jauh disana dari atas bukit karts Napal Licin.

Cakep.

 

DSC02621

Aula Besar Di Dalam Gua Napal Licin

 

 

DSC02659

Lubang Di Atap Gua Napal Licin

 

 

DSC02674

Rekahan Di Antara Bukit Karst Napal Licin

 

 

DSC02715

Akar Itu Adalah Cara Untuk Naik Ke Atas Sana

 

 

DSC02749

Petani Karet Yang Baru Pulang Dari Kebun

 

 

DSC02762

Jembatan Gantung Menuju Desa Napal Licin

 

 

DSC02770

Sungai Kulus di Desa Napal Licin

 

 

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Huis_te_Napal_Litjin_in_het_district_Rawas_Sumatra_1877_1879

Desa Napal Licin Pada Tahun 1877, Courtesy Wikimedia Commons

 

 

DSC02847

Desa Napal Licin Pada Tahun 2017

 

 

DSC02855

Suasana Sore Hari Di Desa Napal Licin

 

 

DSC02791

Anak-Anak Di Sungai Batang Kulus

 

 

DSC02820

Kamerasutera Di Desa Napal Licin

 

Ditemani oleh bapak sekretaris desa, kami yang kelelahan dijamu makan di rumah bapak kepala desa Napal Licin, dan ternyata desa Napal Licin adalah desa yang menyenangkan dengan warga yang ramah. Kami memarkir kendaraan di tepi jalan, lalu melalui jembatan gantung sepanjang lebih dari 100 meter, kami menuju desa Napal Licin yang berada di seberang.

Penerimaannya hangat sekali, bapak-bapak menyapa, ibu-ibu tersenyum, dan anak-anak mengerubungi teman kami yang mengoperasikan drone, namanya, Paramiswari, yang ternyata juga sangat menyukai anak-anak. Klop.

Ini sungguh perjalanan yang tidak disangka sangat menyenangkan.

Gua dan desa Napal Licin adalah satu paket perjalanan yang sangat layak dikunjungi, jika senang petualangan air, kawan-kawan bisa mempergunakan perahu untuk sampai ke desa ini dari Sarolangun, lalu menginap di desa Napal Licin yang masih murni, dan melanjutkan petualangan dengan menjelajahi jaringan gua sepanjang 1500 meter yang dimulai dari gua Napal Licin, sangat layak dicoba bukan?

Ayo kawan, mainlah ke Napal Licin.

Rumah 100 Tiang di Kampung Pangeran

Ini adalah bangunan yang tidak saya kira akan jumpai di daerah suku Komering, yaitu sebuah rumah kayu dengan lantai berjenjang layaknya rumah limas di kota Palembang.

Kurang lebih 100 tahun yang lalu Pangeran Rejed Wiralaksana membangun sebuah rumah besar dengan banyak tiang sebagai hadiah untuk menantu perempuannya yang merupakan warga asli komering, sementara Pangeran Rejed sendiri adalah orang Rambang dari daerah Rambang Senuling.

Rumah ini dibangun dengan menggunakan jasa seorang ahli bangunan bersuku Cina dan menggunakan bahan kayu unglen yang kuat dan tahan lama. Itulah mengapa kita masih bisa menikmati keanggunan rumah ini puluhan tahun setelah ia didirikan.

Menuju ke tempat ini tidaklah sulit, hanya sekitar 15 menit dari pusat kota Kayuagung, ibukota kabupaten Ogan Komering Ilir, bila ditempuh dari palembang akan memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit.

Nama daerahnya adalah Kampung Pangeran, terletak di kecamatan Sugih Waras, kampung ini berada persis di tepi sungai, suasananya tenang dan nyaman, membuat saya betah duduk berlama-lama disana.

Penghuni Kampung Pangeran ini masih satu keluarga besar sehingga bisa dibilang ini adalah kampung keluarga. Ada dua jalan masuk ke Kampung Pangeran yang berupa sebuah jalan lurus tanpa cabang yang berbentuk huruf ‘U’, kedua ujung huruf ‘U’-nya bersambung ke jalan raya antar Kota Kayuagung dan Martapura.

Tidak ada banyak orang di kampung ini, saat saya datang hanya ada penghuni rumah dan beberapa anak-anak sekitar yang riang gembira walau sedang berpuasa, ya, saya datang saat umat Islam sedang menyambut pergantian bulan Hijriah dengan berpuasa, ritual yang biasanya dianggap berat oleh anak-anak perkotaan dijalankan dengan penuh senyum dan riang gembira oleh anak-anak kampung Pangeran.

Ada sekitar 16 rumah lain di Kampung Pangeran ini yang juga sudah berusia tua dan tentu saja memiliki ceritanya masing-masing dan rumah Pangeran Rejed adalah bangunan terbesar di dalam kampung ini. Rumah ini memiliki banyak tiang kayu untuk menunjang struktur rumahnya, dari jumlah penopang kayu inilah datang sebutan ‘Rumah 100 Tiang’, karena memang terdapat 100 buah tonggak kayu penopang rumah.

Memiliki dua tangga untuk naik, hanya salah satu tangga yang dibuka, yaitu yang berada di dekat pintu rumah, ada teras besar memanjang yang menyambut kita saat tiba di anak tangga teratas, disitu kita bisa memotret ke arah halaman dan sungai yang mengalir tenang di seberang jalan.

Masuk ke dalam rumah terdapat dua jenjang rumah, jenjang pertama lebarnya sekitar 2 meter, jenjang kedua jauh lebih lebar, mungkin sekitar 20 meter dan luas tanpa sekat.

Pada jenjang pertama tidak ada perabotan, dinding yang menghadap ke teras terdiri dari ukiran kayu yang membuat kita bisa memandang ke arah teras sementara dinding yang membatasi dengan jenjang kedua terbuat dari kayu tanpa ukiran yang menghalangi pandangan. Dinding yang kedua ini bisa dibuka pasaknya dan diayun ke atas dari bagian bawahnya lalu dipasakkan ke bagian atas dinding pertama, sehingga antara jenjang pertama dan jenjang kedua tidak ada pembatas, biasanya hal ini dilakukan saat ada hajatan yang mengundang orang banyak datang ke dalam rumah.

Jenjang kedua adalah ruangan luas tanpa sekat yang dipenuhi hiasan ukiran di dindingnya. Ada satu set kursi dan meja di tengahnya dan beberapa perabot lain di tepinya, namun jumlahnya tidak banyak, secukupnya saja, menciptakan ruangan yang lega, duduk disana tidak membuat terasa dikepung barang-barang, yang terasa malah adanya sesuatu aura yang agung, dan bagus untuk dipotret.

Lantai kayu di rumah ini terhitung masih baik, terasa kokoh saat diinjak, dan langit-langit yang tinggi membuat udara di dalam rumah tidak panas dan pengap.

Lingkungan di sekitar rumah 100 tiang ini bersih, hampir tidak ada sampah yang terlihat, sungai yang mengalir persis di seberang rumah pun bersih, airnya mengalir tenang,  ada beberapa perahu kecil yang lalu lalang dengan anggun, di tepi sungai ada semacam turab yang bisa diduduki, juga tersedia tangga batu tempat warga turun ke sungai. Semuanya tertata baik, kampung kecil yang bersih dan rapih.

Saat hendak pulang, saya bertemu beberapa anak setempat, mereka mengobrol di bagian bawah teras rumah 100 tiang, saat saya sapa, mereka menjawab ramah, setelah beberapa saat bicara, saya bisa menilai bahwa anak-anak ini sopan dan malu-malu, khas anak kampung, dan hal lain yang penting adalah, tidak ada gawai di tangan mereka.

Ah, saya suka anak kampung.

 

DSC02403

Orang Yang Berani Memasuki Rumah 100 Tiang Akan Menghilang, Hanya Tersisa Sepatunya!

 

 

DSC02404

Kanannya Rumah, Kirinya Sungai, Tengahnya Jalan Dinaungi Pepohonan, Bersih.

 

 

DSC02413

Bagian Terbaik, Pusat Rumah.

 

 

DSC02435

Dinding Pertama Dengan Lantai Yang Licin Cemerlang

 

 

DSC02436

Jenjang Pertama Dan Jenjang Kedua

 

 

DSC02429

Ukiran Berlapis Emas Pada Tiang Rumah

 

Kampung Pangeran sendiri adalah sebuah nama yang menarik, nama yang bisa menggugah rasa ingin tahu orang, yang bisa berujung kepada kunjungan ke Kampung Pangeran. Cerita yang berada dibalik nama Kampung Pangeran akan menjadi pengantar yang bagus saat pelancong berkeliling desa, memasuki satu persatu dari 16 rumah tua yang ada di kampung ini, itu tentu akan menjadi atraksi wisata yang luar biasa dari Kampung Pangeran, sesuatu yang bisa menjadi andalan bagi kabupaten OKI.

Apalagi bila di dalam Kampung Pangeran ini terdapat home stay di salah satu dari 16 rumah tua itu, atau di rumah lain milik warga, akan ada pelancong yang merasakan hal yang sama seperti saya saat berada di Kampung Pangeran, suasana yang unik yang nyaman yang memancing rasa ingin tahu “bagaimanakah pagi hari disini?”, “bagaimana suasananya saat matahari tenggelam?”, “apa kegiatan warga sehari-hari?”, itu akan membuat mereka menginap untuk mencari tahu.

Saya tidak ingin membesar-besarkan, tapi Kampung Pangeran ini adalah tempat yang menarik, layak untuk disinggahi bila teman-teman sedang berada di sekitar kota Kayuagung, jika teman-teman menyukai kampung al-munawwar, maka Kampung Pangeran ini sejenis itu, hanya saja dalam versi yang lebih rendah hati, versi kampung, dengan suasana kampung yang benar-benar kampung, bukan kampung di tengah kota.

Main-mainlah ke Kampung Pangeran.

Surga Hijau Di Lereng Dempo

Sesungguhnya menginap di antara perkebunan teh membuat asupan vitamin hijau untuk saya sudah terpenuhi, tapi ternyata saya belum mendapatkan seluruhnya, ada jenis vitamin hijau lain yang menyempurnakan asupan yang menyehatkan mata dan jiwa itu.

15 menit berkendara dari tempat saya menginap, saya menemukan apa yang saya butuhkan, jenis terbaru vitamin hijau, dalam jumlah yang melimpah. Sangat memuaskan.

Ada sebuah air terjun kecil di pangkal taman, airnya mengalir melalui sebuah sungai kecil mengitari sebuah kolam besar berair jernih, di dasar kolam ini air keluar dari beberapa mata air alami yang gelegaknya sampai ke permukaan air diatasnya. Airnya terasa dingin dan bersih, nampaknya segar sekali, sayangnya tidak bisa diminum karena di dalam kolam ini dipelihara puluhan ekor ikan. Sungguh ikan yang beruntung, bisa hidup di dalam air yang begitu sehat.

Air dari kolam besar ini lalu akan mengalir jatuh ke lembah kecil yang bertingkat-tingkat dibawahnya, membentuk belasan air terjun mini dengan riuh ricik air yang terdengar merdu di telinga.

Pada aliran sungai bertingkat-tingkat inilah hutan selada air tumbuh dengan subur, di atas air segar yang mengalir, di antara bebatuan gunung, membentuk pemandangan yang menyejukkan saat mata.

Sungguh, ini tempat yang baik sekali untuk kesehatan mata, telinga, dan jiwa.

Taman hijau ini dinamai ‘Green paradise’ oleh pemiliknya, dan itu bukanlah nama yang berlebihan, malah sesuai sekali.

Nasturtium officinale atau Selada air adalah tumbuhan yang memenuhi taman air ini, selada air hanya tumbuh dengan baik pada air yang bersih, sehingga keberadaan selada air bisa dijadikan pertanda mengenai kadar polusi pada air.

Selada air sendiri adalah salah satu sayuran tertua yang masih dimakan oleh manusia sampai kini, mengandung zat-zat yang baik bagi kesehatan jantung dan pengendalian kolesterol, juga anti-oksidan, sehingga sayuran ini bukan saja enak dilihat tapi juga sehat bagi tubuh.

DSC01770

DSC01768

DSC01840DSC01783DSC01798DSC01820

DSC01774

Tidak tahan rasanya hanya berdiri memandangi semua ini, ingin langsung terjun bermain air disela-sela selada air,  tapi saya harus menahan diri, saya tidak ingin menyiksa teman-teman saya dengan pemandangan ikan pesut berenang-renang manja diantara selada air.

NO

Jika teman-teman sedang berada di sekitar Pagaralam, tidak ada ruginya sama sekali untuk mampir sejenak ke tempat ini, nikmati kesegarannya, juga tempat yang bagus untuk swafoto, lingkungannya juga bersih dan tersedia cukup tempat duduk dan sebuah pondok untuk leyeh-leyeh.

Silakan.

Taman Batu Yang Menyehatkan

“Semoga tempat yang akan dikunjungi ini setimpal dengan perjalanan ini.” Kata saya kepada teman perjalanan.

Kami sedang melangkah dengan hati-hati di sebuah jalan setapak yang berlumpur di antara kebun kopi di dalam sebuah hutan, 8 jam perjalanan ke arah barat dari kota palembang. Masuk melalui lorong diantara rumah warga, dalam 3 menit kami sudah berada di antara kebun kopi dan hutan, lalu berjalan lagi sekitar 12 menit melintasi jalan becek nan licin, bersyukur sekali tidak ada Cinta Laura Kiehl saat menapak jalan becek ini.

Setelah jalan becek yang terakhir kami bertemu belokan ke arah kanan, saat memasuki belokan itu, terjadilah mukjizat, jalan becek berubah menjadi jalan tanah padat berumput tebal, di kanan-kirinya tanaman tertata rapi, elok sekali, nampaknya ada orang suci yang pernah masuk ke hutan ini lalu menghentakkan tongkatnya ke tanah dan tadaaa, hutan terbuka untuk dilalui.

Saya mulai berjalan diatas rumput yang rapih itu, ada garis bekas perlaluan sepeda di tengahnya, tapi tetap rapih, karena tidak becek, saya mengikuti jalan setapak yang lurus itu, pada sisi kiri, dari balik rimbun tanaman yang menjadi batas jalan setapak saya mulai melihat beberapa batu disusun sampai setinggi orang dewasa, beberapa mulai berlumut, tanda bahwa batu-batu ini telah lama tidak disentuh, mungkin sejak pertama kali batu-batu itu disusun.

Sebuah pondok kayu besar bertingkat dua menyambut rombongan kami, lantainya langsung ke tanah, tanah yang keras tanpa rumput tapi bersih dan tidak becek, di ujung yang lain dari pondok ini saya melihat di atas tanah terdapat perapian kecil dengan teko logam di atasnya, diantara saya dan teko itu terdapat dua tempat duduk panjang dari bambu dan kayu, masing-masing satu di sisi kanan dan kiri.

Dari tempat saya berdiri di pintu masuk pondok, saya bisa melihat sebuah tempat yang unik, bebatuan disusun diantara tanah berumput tebal yang rapih dikelilingi oleh hutan dengan pepohonan tinggi, tempat ini sedikit aneh tapi menarik sekali.

Beberapa teman tidak tahan untuk segera masuk ke taman, namun segera diingatkan oleh pemilik agar melepas alas kaki sebelum masuk ke taman, saya tidak menanyakan gunanya tapi dugaan saya alas kaki harus dilepas agar tidak merusak tanah dan rumput yang sudah rapi itu, dan saya tidak keberatan melepaskan alas kaki saya setelah melihat tamannya memang terjaga dengan baik seperti itu.

Dan, ternyata memang lebih enak melangkahkan kaki tanpa alas di atas rumput dan tanah di taman itu, terasa lebih menyatu, tanpa tabir, ada semacam energi yang mengalir dari bumi masuk melalui kaki, membuat saya yang dalam keadaan normal adalah orang yang rewel mengenai perkara kebersihan tubuh bisa melangkah dengan tenang dan menikmati suasananya bertelanjang kaki.

Saya berkeliling, memasuki setiap bagian taman, dan saya mendapatkan kesan taman ini seperti taman-taman di pura di Bali, bahkan seperti taman-taman jepang yang rapi. Setiap batu diambil sendiri dari perut bumi oleh pak Damsi, pemilik taman ini, beliau menggali sendiri tanah disini, mengeluarkan batunya, lalu menyusun batu-batu itu sampai setinggi manusia dan menyusun sebagian lainnya sebagai pagar taman, itu dilakukan dengan tangannya sendiri dan tanpa bahan perekat  apapun, dan itu sudah dilakukan pak Damsi sejak tahun 1980-an.

Menakjubkan.

Saya makin kagum setelah membayangkan bahwa taman ini adalah milik pribadi, bukan pemerintah, dan dibangun sendiri oleh pemiliknya dengan menggunakan peralatan perkebunan sederhana, tidak ada peralatan berat, tanpa semen, bata, dan truk apalagi traktor utnuk mengeduk tanah dan grader untuk meratakan tanah. Semuanya hanya dengan tangan.

Pak Damsi layak mendapatkan penghargaan dan pujian untuk apa yang telah beliau lakukan selama 30 tahun ini.

Dan salah satu bentuk penghargaan yang bisa teman-teman berikan untuk pak Damsi adalah, dengan datang berkunjung dan membuka alas kaki saat memasuki tamannya.

 

DSC01540

Sebelah Kiri Adalah Hutan, Sebelah Kanan Adalah Kebun Kopi, Satu-satunya Jalan Setapak Yang Kering Yang Kami Lalui.

 

 

DSC01543

10 Meter Terakhir Sebelum Memasuki Taman Batu Organik. Sebelah Kanan Ini Adalah Hutan Bercampur Kebun Kopi.

 

 

DSC01550

Bukan Hanya Rerumputannya Yang Rapih, Batuannya Pun Rapih, Ini Di Tengah Hutan Loh!

 

 

DSC01551

Batuan Ini Sudah Lama Ditumpuk Sehingga Mulai Berlumut,Mungkin Sudah Bertahun-tahun.

 

 

DSC01562

Bebatuan Berbagai Bentuk Dan Ukuran Disusun Rapih Tanpa Alat Perekat Apapun.

 

 

DSC01564

Ada Jalan Dengan Lantai Tanah Yang Padat Tanpa Becek Seperti Ini Di Tengah Hutan Setelah Hujan Turun.

 

 

DSC01569

Bagian Dari Taman Batu Organik Yang Paling Menyegarkan.

 

 

DSC01578

Bukan, Ini Bukan Sebuah Lorong Di Sebuah Pura Di Bali, Ini Lorong Di Taman Batu Organik, Lahat.

 

 

DSC01601

Pondok Di Pintu Masuk Taman Batu Organik, Alas Kaki Dilepas dan Ditinggalkan Disana Sebelum Memasuki Taman.

 

 

DSC01614

Dapur Di bagian Belakang Pondok Taman Batu Organik.

 

Sebenarnya ini bukan perjalanan yang berat, hanya becek saja, tidak disarankan memakai sepatu atau sendal mahal kesini, juga sendal jepit, karena ada kemungkinan sendal jepit akan lengket saat terbenam di lumpur dan percikan-percikannya akan mengotori betis dan celana. Mungkin akan lebih baik bila datang di musim kemarau karena saya datang saat musim hujan.

Dan,

Semua batu disini adalah batu asli dari alam bukan buatan pabrik, karena itu taman ini dinamai ‘Taman Batu Organik’, kalau batu-batuannya buatan pabrik apalagi bila mengandung zat kimia maka taman ini akan disebut ‘Taman Batu non-Organik’.

Dan karena bebatuan disini adalah alami, maka bebatuan disini baik bagi kesehatan pengunjungnya.

Mainlah!

Pangeran Kramajaya dari Palembang

Pada tahun 1852 ada seorang petualang dari Amerika Serikat yang tiba di Palembang, di Palembang dia nampaknya diterima dengan baik oleh warga Palembang, baik yang Melayu maupun yang Cina, bahkan si petualang ini sampai diundang untuk menghadiri resepsi pernikahan anak perempuan seorang saudagar Palembang bernama Oey Tsee Yang.

Resepsi itu tidak hanya dihadiri oleh orang Cina, tapi juga dihadiri oleh orang-orang Melayu dan Arab, suasananya sangat meriah dengan suara musik sepanjang acara.

Dalam resepsi ini si petualang Amerika bertemu dengan seorang saudagar Cina bernama Tchoon Long, yang selama resepsi nampak murung, Tchoon Long akhirnya bercerita mengenai seorang hebat dari Palembang, orang jujur yang setiap hari memberi makan 2.000 orang, yang terkenal di penjuru pulau Sumatera, orang-orang menyanyikan lagu pujian untuknya, dan dia sangat dicintai terutama oleh orang-orang Palembang dan Pasemah, Namanya Pangeran Kramajaya.

Namun yang membuat Tchoon Long muram adalah Pangeran Kramajaya ditangkap Belanda yang tidak suka melihat tokoh setempat menjadi terlalu popular. Belanda lalu membuang Pangeran Kramajaya ke Jawa, membuat ratusan ribu orang Palembang bersedih dan mendoakannya agar dapat kembali ke Palembang.

Tidak hanya itu, para saudagar di Palembang mengumpulkan uang ratusan ribu rupee untuk kebebasan Pangeran Kramajaya dan Tchoon Long yang akan berlayar membawa uang itu ke jawa dan membawa pulang Pangeran Kramajaya.

Sebuah kisah yang mengharukan, seorang hebat yang dicintai ratusan ribu orang, Melayu, Arab, dan Cina, bahu membahu mereka hendak membebaskan orang baik ini, mengagumkan, tapi, siapa sebenarnya Pangeran Krama Jaya ini? Dan apakah cerita mengharukan di atas benar adanya?

Setelah menelusuri berbagai sumber, ternyata, Pangeran Kramajaya adalah seorang tokoh sejarah, benar-benar ada, Wow!

Setelah Sultan Mahmud Badaruddin II dibuang oleh Belanda, warga Palembang benar-benar merasa kehilangan seorang tokoh yang sangat disegani dan dicintai, dan Belanda sebagai penguasa baru Palembang berusaha keras untuk mencuri hati warga Palembang, berusaha membuat warga Palembang hanya patuh kepada Belanda.

Belanda mencoba mengangkat sultan yang bisa mereka kendalikan, namun gagal karena sultan itu memberontak dan akhirnya dibuang keluar sumatera, Belanda lalu membubarkan Kesultanan Palembang pada tanggal 15 oktober 1825 dan membuang ratusan bangsawan Palembang dalam rangka menghilangkan jejak-jejak dan pengaruh kesultanan atas warga Palembang.

Belanda lalu menegakkan sistem administrasinya sendiri, mengangkat residen dan seperangkat pembantu residen. Pada tahun 1838 Belanda membentuk sebuah jabatan baru yang berkantor di Palembang, nama jabatan itu adalah ‘Rijksbestuur’ yang kurang lebih setara dengan bupati, setingkat dibawah Residen, yaitu jabatan yang menguasai seluruh daerah yang dahulu berada dibawah pengaruh Palembang, kurang lebih seukuran provinsi Sumatera Selatan saat ini.

Untuk mengisi jabatan itu maka diangkatlah menantu Sultan Mahmud badaruddin II, yaitu Pangeran Kramajaya. Dengan pengangkatan ini Belanda berharap dapat mengembalikan kepercayaan warga Palembang kepada Belanda, 13 tahun setelah Belanda membubarkan Kesultanan Palembang Darussalam.

Pangeran Kramajaya memiliki nama lengkap Kramajaya Abdul Azim, dia diangkat menjadi ‘Rijksbertuur’ melalui Surat Keputusan Raja Belanda tanggal 2 Januari 1838 dengan gelar yang akan ditulis dalam satu paragraph khusus setelah paragraph ini.

Pangeran Bupati Perdana Menteri Kramajaya Pangeran Mangkunegara Cakrabuana Sultan Agung Alam Kabir Sri Maharaja Mutar Alam Senopati Martapura Ratu Mas  Penembahan Raja Palembang.

Ya, paragraph di atas isinya adalah gelar resmi dalam surat pengangkatan Pangeran Kramajaya sebagai ‘Rijksbertuur’, gelar itu bisa membuat seorang pelajar gagal naik kelas bila hafalan gelar itu dijadikan syarat kenaikan.

Selama menjadi Rijksbertuur, Pangeran Kramajaya menjadi makin popular, baik di Palembang maupun di pedalaman, terutama di Pasemah, menjadi terlalu popular sehingga akhirnya belanda merasa bahwa kepopuleran itu telah menjadi ancaman bagi pemerintah Belanda.

Belanda akhirnya menuduh Pangeran Kramajaya hendak menggalang pemberontakan terhadap pemerintah Belanda, Pangeran Kramajaya lalu ditangkap dan dibuang ke Jawa pada tahun 1851, 13 tahun setelah diangkat menjadi pejabat dalam pemerintahan oleh Belanda sendiri.

Setahun kemudian, Walter Murray Gibson tiba di Palembang, dia adalah seorang petualang dari Amerika Serikat yang berkeliling dunia, adalah Walter yang mengenang kemuraman Tchoon Long atas pembuangan Pangeran Kramajaya dan tekad Tchoon Long untuk membawa pulang Pangeran Kramajaya, Walter kelak akan menuliskan kisah itu dalam bukunya yang diterbitkan di Amerika Serikat.

Pangeran Kramajaya mungkin adalah satu-satunya tokoh sejarah di Palembang yang kepopulerannya diakui bukan hanya oleh warga Palembang dan pihak Belanda yang saling berseteru, tapi juga oleh pihak ketiga yang saat itu sedang berkunjung ke Palembang.

Kemasyhurannya diakui dan dicatat oleh semua orang.

Sungguh luarbiasa.

Hal lain yang menarik adalah, adanya seorang saudagar Cina yang bertekad menemui Belanda untuk membawa pulang Pangeran Kramajaya, bukan hanya ini meneguhkan kepopuleran Pangeran Kramajaya di berbagai kalangan, tapi juga membuktikan kerukunan kehidupan berbagai etnik di Palembang, bahu membahu mereka membangun Palembang, bahu membahu pula mereka hendak mengembalikan tokoh yang mereka sayangi.

Persatuan yang membuat tangguh, yang membuat Palembang bertahan begitu lama, 1335 tahun.

Ini kisah yang membuat saya semakin mencintai Palembang, kota tua yang luarbiasa, kota tua yang selalu berhasil membuat saya jatuh cinta setiap kali saya menelusuri kisah kehidupannya.

Saya berdoa untuk Palembang Jaya.

Kota Dingin Yang Hangat

Itu adalah subuh yang sangat dingin, saya sangat mengantuk karena kelelahan setelah 11 jam mengemudi mobil, tapi udara dingin memaksa saya untuk bangun sejenak dan mencari remot AC, namun saat saya membuka mata segera saya sadar, di ruangan ini tidak ada AC, saya tidak bisa mematikan AC, saya bahkan tidak bisa menurunkan suhu ruangan ini, karena untuk melakukan itu saya harus menurunkan suhu di seluruh kota Pagaralam.

Kota ini dingin sekali.

Tidak lama kemudian saya akhirnya benar-benar bangkit dari tempat tidur, lalu duduk di teras sebuah villa yang terletak di tepi perkebunan teh, pagi yang dingin itu saya disuguhi pemandangan indah dari perkebunan teh dengan kota Pagaralam di kejauhan dan latar belakang Bukit Jempol. Sangat menyegarkan mata.

 

img20161103061915

Pemandangan di Awal Hari yang Menyegarkan, di Kejauhan Ada yang Memberi Jempol, Setuju Kayaknya.

 

Saya menyeduh kopi hangat tanpa gula di ruang makan yang terletak di lantai dua Hotel Besh lalu duduk di teras yang menghadap langsung ke Gunung Dempo, dari depan saya membentang kebun teh yang hijau segar sampai ke lereng gunung dempo, pemetik teh bekerja, beberapa kendaraan kadang lalu lalang di atas sana, pemetik teh dan kendaraan itu seperti miniatur yang muncul diantara kebun teh, pemandangan yang menyegarkan dan menghibur. Saya tidak butuh televisi pagi ini.

 

img20161102070907

Minum Kopi Dengan Pemandangan Seindah Ini

 

 

img20161103071202

Para Pemetik Teh Bekerja di Pagi Hari

 

Makan siangnya saya lewatkan di sebuah tempat yang menyenangkan bernama Green Paradise, lokasinya bisa ditempuh melalui jalan beraspal yang masuk ke dalam hutan, lalu dilanjutkan berjalan kaki sekitar 100 meter melalui sebuah peternakan kuda jenis lokal,  ada dua air terjun disini, tidak terlalu besar tapi cukup membuat suasananya menenangkan, tidak ada kebisingan jalanan, hanya gemerisik air dan pemandangan hijau dari selada air yang menyegarkan, apalagi makanannya enak, perut dan mata kenyang, puas sekali.

 

img20161102130755

Selada Air Memenuhi Aliran Sungai yang Airnya Bersumber Dari Sebuah Air Terjun Kecil

 

 

img20161102131022

Air Terjun, Air Jernih, dan Selada Air

 

 

img20161102125950_1

Anak-Anak Setempat yang Mandi di Kolam Utama Green Paradise

 

img20161102123042

Kuda Asli Pagaralam, Suatu Saat Saya Akan Berkuda Disini

 

 

Sebenarnya masih mau berdiam lebih lama di Green Paradise tapi masih ada beberapa tempat lain yang menarik yang menanti didatangi, baiklah, setelah memotret anak-anak yang berenang di kolam utama, saya akhirnya bergerak menuju tempat selanjutnya, rumah kediaman Depati Kenawas.

Ini adalah rumah tua yang masih cukup utuh, ukurannya jauh lebih besar daripada rumah-rumah di sekitarnya. Terbuat dari kayu, rumah Depati Kenawas ini menyimpan beberapa benda-benda antik, seperti hiasan kepala hewan.

Saat ini rumah Depati Kenawas tidak dihuni, hanya ada penjaganya di bagian belakang rumah, sementara keturunan Depati Kenawas sekarang bedomisili di ibukota Indonesia.

 

img20161102140436

Rumah Depati Kenawas

 

 

img20161102141534

Hiasan Dinding yang Menarik di Ruang Tamu Rumah Depati Kenawas

 

Selesai mendengarkan kisah Depati Kenawas, kami beranjak menuju ke titik air panas di desa Pagar Bunga, kecamatan Tanjung Sakti. Sungguh ini adalah lokasi air panas yang unik, karena titik sembur air panasnya terdapat di sepanjang aliran sungai, sehingga bila kita masuk dan berjalan di aliran sungai maka terasa beberapa perbedaan suhu air, kadang dingin, kadang hangat, bahkan panas bila kita berada di dekat sumber mata air panasnya. Bukan hanya air, saat saya sedang melepas sepatu di tepi sungai, kaki saya menginjak batu yang panas sekali, membuat saya kaget, ternyata batu itu bersebelahan dengan sumber air panas di tepi sungai, Nampak uap mengepul dari permukaan airnya. Orang biasa merebus telur di mata air itu, saya baru saja nyaris merebus telapak kaki sendiri disitu.

Tempat mata air panas ini berada di sebuah sungai kecil yang tidak dalam, hanya sebatas dengkul orang dewasa, tepi dan dasar sungainya dipenuhi batu koral, dan dari sela-sela batu koral itulah muncul air panasnya. titik air panasnya tersebar di beberapa tempat di sepanjang sungai, membentang konon sepanjang 100 meter di sepanjang aliran sungai.

Saya belum pernah melihat mata air panas yang berderet di sungai seperti ini, sungguh tempat yang menarik untuk dikunjungi, beberapa mata air yg besar dipagari dengan dinding semen yang sedikit lebih tinggi dari permukaan air, fungsinya agar air panasnya tidak cepat hilang dibawa oleh arus yang deras sekaligus menjadi tempat pengunjung duduk santai sambil merendam kaki mereka di air hangat.

Sayangnya hujan mulai turun, sehingga saya harus bergegas dari tempat yang hangat ini dan menuju lokasi selanjutnya, sebuah gereja tertua di Sumatera Selatan, yaitu Gereja St. Mikael di Tanjung Sakti yang dibangun tahun 1896. St. Mikael adalah gereja yang teduh, sangat teduh, apalagi saat diluar hujan deras seperti saat kami tiba disana.

Bagian dalam gereja St. Mikael lapang sekali dan dihiasi banyak foto para tokoh katolik dunia. Warna putih mendominasi bagian dalam gereja St. Mikael, dengan langit-langit yang tinggi yang juga bewarna putih, gereja ini dibangun dengan bahan campuran antara batu dan kayu. Ini adalah gereja berusia 120 tahun yang cantik.

 

img20161102160141

Bagian Dalam Gereja St. Mikael

 

 

img20161102155618

Patung Perunggu di gereja St. Mikael

 

Cukup lama saya ada disana sehingga tak terasa langit mulai gelap, itulah saat saya menyadari bahwa perjalanan ini telah selesai, saatnya kembali ke penginapan dan mulai berkemas.

Pagaralam adalah kota yang diberkahi keindahan alam dan kekayaan sejarah, yang menanti untuk dikunjungi oleh para pelawat dari penjuru negeri, lelahnya perjalanan terbayar lunas setelah mendatangi berbagai tempat wisata disini.

Pagaralam layak sekali dikunjungi sekali lagi.

 

Palembang dan Warga Arab

Kehadiran orang arab di Palembang telah tercatat lama, Sriwijaya pernah mengirim utusan ke Cina yang diduga kuat dipimpin oleh seorang Arab. Kemampuan mereka berbicara mungkin menarik perhatian penguasa Sriwijaya untuk menjadikan mereka sebagai utusan yang dikirim ke negeri Cina.

Hubungan yang istimewa ini berlanjut ke masa kesultanan Palembang Darussalam, dimana para pendatang dari tanah Arab ini diterima dengan tangan terbuka, dijadikan sebagai guru agama, bahkan sebagian dari mereka dijadikan anggota keluarga kesultanan.

Sejak masa kesultanan, jumlah pendatang Arab di Palembang cukup besar, bahkan anggota komunitas orang Arab di Palembang adalah yang terbesar kedua di seantero kepulauan Asia Tenggara, hanya kalah oleh ukuran komunitas Arab di Aceh.

Orang Arab-orang Arab ini sebagian besar adalah pedagang, mereka terlibat dalam perdagangan barang kelontong, kain, dan wewangian. Sementara yang lain ada yang menjadi pengusaha batu es, percetakan, depot kayu, dan pelayaran.

Sebagian besar dari orang Arab ini berhasil dalam pekerjaan mereka, membuat mereka menjadi orang kaya, bukan saja diantara sesama orang arab sendiri tapi juga diantara seluruh penduduk kepulauan Asia Tenggara.

Bukan hanya itu, orang Arab dari Palembang juga tergolong berhasil secara keuangan bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka sesama orang Arab di bagian lain kepulauan Asia Tenggara, termasuk mengalahkan komunitas Arab terbesar di kepulauan, yaitu Aceh.

Pada tahun 1800an, pejabat Belanda mencatat mengenai warga arab yang memiliki modal usaha di atas 10.000 Gulden, di Jakarta ada 22 orang, di Semarang ada 14 orang, di Palembang ada 37 orang, dan di Singapura ada 80 orang.

Ini artinya ada lebih banyak orang Arab kaya di Palembang daripada di Jakarta, jumlahnya hampir separuh dari Singapura yang pada saat itu telah menjadi pelabuhan terbesar di wilayah kepulauan Asia Tenggara.

Bahkan pada masa kejayaan Pelayaran, orang Arab Palembang punya andil besar dengan menjadi penyedia layanan pelayaran milik bangsa Arab yang terbesar di kepulauan Asia Tenggara. Pengusaha Arab di Palembang bahkan memiliki kapal Api untuk bersaing dengan pengusaha pelayaran dari Eropa.

Jika memperhatikan besarnya ukuran komunitas dan kekuatannya secara ekonomi, Nampak jelas bahwa komunitas Arab di Palembang sangat menonjol diantara komunitas Arab di tempat lain, kombinasi dua hal ini membuat komunitas Arab di Palembang menjadi penting sebagai rujukan utama bagi warga Arab perantauan di bagian lain kepulauan Asia Tenggara.

Pemerintah Belanda di Hindia Timur pun memperhatikan bahwa Palembang menjadi salah satu kota tujuan utama para pendatang Arab, selain Aceh dan Pontianak. Mungkin karena Palembang sudah lama mereka kenal sejak ratusan tahun sebelumnya dan mungkin juga karena kemakmuran para perantau Arab yang datang lebih awal dari mereka.

Pada saat pemerintah Belanda di Hindia Timur mulai mendata warga Arab di wilayah mereka pada tahun 1882, mereka mencatat bahwa beberapa keluarga Arab telah ada di Palembang sekitar 5-6 generasi, jika satu generasi adalah 20-25 tahun maka keluarga-keluarga arab ini sudah ada di Palembang setidaknya sejak 100-150 tahun sebelumnya, yaitu antara 1732-1782.

Ini adalah pendatang Arab yang benar-benar meninggalkan tanah kelahirannya dan menetap di Palembang, berbeda dengan para pedagang arab pada masa sebelumnya yang hanya mampir di pelabuhan Palembang dan menetap sementara.

Para keluarga Arab yang telah menetap di Palembang sejak tahun 1732 ini diantaranya adalah marga Al-Habsyi, Bin Syihab, dan As-Saqqaf.

Selain mereka, pemerintah Belanda juga mencatan keluarga arab yang lebih akhir kedatangannya, 2 generasi sebelum pendataan dilakukan pada tahun 1882, itu artinya sekitar tahun 1832-1842, yang terakhir ini adalah keluarga Arab dari marga Al-Jufri dan Al-Munawar.

Sebagian besar pendatang Arab di Palembang berasal dari keluarga Sayyid, yang diyakini sebagai keturunan langsung pendiri agama Islam, mereka rata-rata sedari kecil sudah mampu membaca dan menulis, juga berhitung, minimal hitungan yang bisa membantu mereka dalam berdagang.

Singkat kata, pendatang Arab yang tiba di Palembang adalah orang Arab dengan garis keturunan terhormat, dari kelas ekonomi menengah, dan terdidik dengan baik. Mungkin kombinasi ketiga hal ini yang membuat komunitas Arab di Palembang berkembang pesat secara ekonomi dan membuatnya menjadi sangat penting.

Perihal pentingnya komunitas Arab di Palembang bisa dirasakan pada acara tahunan Haul Kubro, warga Arab dari penjuru kepulauan Asia tenggara berduyun-duyun menuju Palembang, dari Jakarta, Pontianak, Singapura, Malaysia, Brunei, bahkan dari Yaman menghadiri acara ini.

Komunitas Arab adalah bagian dari kekayaan sejarah, budaya, dan intelektualitas kota Palembang, mereka telah memberi banyak andil dalam perkembangan kota Palembang sehingga bisa menjadi seperti sekarang. Sudah selayanya mereka dibantu untuk melestarikan identitas sejarah dan budaya mereka demi menjaga kekayaan sejarah dan budaya kota Palembang sendiri.

Palembang adalah kota tua yang bangga.

Kembali ke Kemaro

Sedikit mendung dan gerimis menemani perjalanan menyusuri sungai Musi hari ini, menyenangkan walau kapal besi kecil ini beberapa kali diterpa gelombang besar sehingga bergoyang cukup kuat, andai saja ombaknya lebih besar, saya akan turun dari kapal, mengambil papan, dan mulai belajar selancar air.

 

img20160922161823

Perjalanan hari ini menuju Bungalow pulau Kemaro yang terdapat di… tentu saja pulau Kemaro, sebuah pulau yang terdapat di tengah sungai Musi. Dalam kapal hadir Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang yang akan memaparkan rencana pengembangan pulau Kemaro.

 

 

img20160922150516

Bungalow Pulau Kemaro

Pengembangan Pulau Kemaro dititikberatkan pada sisi sebelah timur, Bungalow Pulau Kemaro akan ditambah jumlahnya sampai 50 unit bangunan dilengkapi dengan ruang pertemuan dan ruang makan, dan bentuknya akan tetap berupa rumah panggung yang terbuat dari beton. Pilihan bangunan berbentuk rumah panggung ini karena lingkungan Bungalow memiliki status sebagai Lahan Kota Pusaka sehingga bangunan yang didirikan tidak boleh merusak bentuk lahan, dalam hal pulau Kemaro, bangunan yang didirikan tidak boleh mengubah lahan rawa.

 

 

img20160922151003

Mungkin Terlihat Mencemaskan Saat Kemarau, Tapi Bila Musim Hujan Tiba Ini Akan Menjadi Bungalow yang Cantik di Atas Rawa dan Sawah

img20160922152630

Hal lain yang akan dikembangkan di Pulau Kemaro adalah Eco-Park dan Eco-Tourism.
Bungalow Pulau Kemaro akan dikelilingi oleh sawah dan rawa yang asli sehingga lingkungan bungalow akan asri, terasa seperti di pedesaan jauh dari perkotaan, akan terasa seperti di pulau tersendiri… secara tersirat dan tersurat.

 
Di bagian lain dari Pulau Kemaro, diluar Lahan Kota Pusaka, akan dibangun taman burung, plaza, dan jalur pedestrian. Jalur pedestrian ini rencananya akan dibangun selebar 4 meter dan di sepanjang tepian Pulau Kemaro, kelak pengunjung Pulau Kemaro bisa berkeliling pulau kemaro dengan santai, baik berjalan kaki maupun berkendara sepeda.
Plaza di Pulau Kemaro akan berupa lapangan terbuka yang di kelilingi oleh toko atau kedai. Ini akan menjadi pusat kegiatan hiburan dan atraksi wisata di Pulau Kemaro.
Pada bagian ujung timur Pulau Kemaro juga akan didirikan Historical Park, pada tempat dimana diduga kuat pernah berdiri benteng pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Dan yang terakhir adalah akan didirikan jembatan gantung yang akan menghubungkan daratan dengan Pulau Kemaro.
Sungguh menyenangkan mendengar rencana pengembangan Pulau Kemaro, senang karena Palembang akan segera memiliki tempat wisata bernuansa alam yang keren. Luar biasa.
Lebih senang lagi karena menurut pihak Konsultan yang membantu Dinas Pariwisata Kota Palembang, jembatan yang akan dibangun menghubungkan antara daratan dan Pulau Kemaro hanya akan bisa dilalui oleh pejalan kaki, alasannya adalah, demi menjaga keasrian lingkungan Pulau Kemaro.
Itu adalah kabar terbaik yang saya dengar sepanjang perjalan ini.
Ini sungguh berita bagus, karena keasrian lingkungan bukan hanya rawa-rawa harus asli dan tidak terganggu, tapi juga mengenai kebersihan udara dan meminimalkan kebisingan. Tiga hal ini adalah satu kesatuan yang penting untuk menyempurnakan kemasan berjualan eco-tourism, lingkungan asli, udara sehat, dan tidak bising, sehingga benar-benar terasa seperti pedesaan yang menyegarkan dan menyehatkan.
Hal lain yang menarik dan bisa dijadikan atraksi wisata adalah bagian sisi sebelah utara Pulau Kemaro yang berhadapan dengan daratan, berupa persawahan yang langsung bertemu dengan air sungai Musi yang mengalir tenang. Tempat ini bisa dijadikan atraksi wisata berperahu kecil menyusuri tepian sungai musi yang tenang lalu masuk ke dalam persawahan, berputra-putar di antara dahan padi lalu keluar lagi menuju sungai musi kembali ke dermaga perahu di dekat Historical Site Pulau Kemaro.

 

img20160922161313

Wisata perahu ini akan menjadi pengalaman menarik yang tidak biasa bahkan bagi warga kota Palembang sendiri.

 
Jembatan kecil yang direncanakan mengelilingi pinggiran Pulau Kemaro bisa dibangun mengitari lahan persawahan ini sehingga keasrian persawahan tepian sungai yang ini tetap terjaga.
Tidak di setiap kota besar terdapat sawah yang bersebelahan dengan sungai besar, suatu hadiah alam bagi kota Palembang yang bisa dijadikan atraksi wisata yang ditawarkan kepada tiap pengunjung Pulau Kemaro.
Rasanya tidak sabar untuk segera bisa berjalan kaki berkeliling pulau kemaro, memanjakan mata menikmati pemandangan sawah dan rawa yang rimbun sambil menghirup udara yang segar dalam ketenangan khas pedesaan.
Semoga segera terwujud.

Pelesiran Palembang

Perut kenyang setelah lebaran yang penuh makanan baiknya memang diajak jalan-jalan, supaya tidak terlalu buncit, atau jika perut buncit setidaknya jantungnya sehat, ya, cita-citanya begitu.

Sabtu pagi itu saya sudah sarapan mie ayam di dekat Museum Balaputradewa, ini dilakukan demi jantung sehat di dalam perut buncit, dan juga untuk menyambut teman-teman pejalan dari jakarta, yang juga, buncit.

Tiba di Museum Balaputradewa, kami langsung disambut oleh para wanita cantik yang mengalungkan semacam Phasmina yang terbuat dari kain jumputan, kain khas Sumatera Selatan. Lalu kami dibawa berjalan-jalan keliling Museum, melihat berbagai arca, megalit, dan prasasti yang ditemukan di Sumatera Selatan, melihat masa purba di Sumatera Selatan, lalu ke masa pra-Sriwijaya, masa Sriwijaya, masa kolonial Belanda, dan masa kemerdekaan RI.

Berkeliling museum Balaputradewa ini membuat saya kagum atas kekayaan sejarah Sumatera Selatan, yang seharusnya bisa membuat warganya bangga lalu melestarikannya, dan terlebih lagi, ini adalah modal yang sangat besar untuk bersaing dalam dunia pariwisata.

Pelesiran di Museum Balaputradewa diakhiri di rumah Limas yang berada di bagian belakang lingkungan museum, rumah yang ada di dalam uang kertas 10.000, rumah besar yang terbuat dari kayu dengan berbagai ukiran menghiasi bagian dalamnya, disertai perabot antik dari masa kolonial Belanda, dan tidak lupa, sebuah meja makan yang penuh pempek.

IMG20160716101900

Rumah Limas di Lingkungan Museum Bala Putra Dewa

 

Bangunan lain yang menarik di Museum Balaputradewa adalah rumah khas penduduk pedalaman Sumatera Selatan, letaknya ada di sisi timur rumah Limas. Rumah ini terbuat dari kayu yang bagian lantainya adalah potongan bambu yang disusun renggang di atas kerangka kayu yang ditopang oleh beberapa kayu bulat utuh sepanjang sekitar 15 meter, kayu-kayu ini diletakkan melintang di atas beberapa tonggak kayu yang juga terbuat dari kayu bulat utuh setinggi sekitar 1,5 meter, dan tonggak kayu ini tidk langsung menyentuh tanah, melainkan ditegakkan di atas tatakan yang terbuat dari batu cadas.

IMG20160418160454.jpg

Ukiran Pada Rumah Talang, Tiang Penopang Rumah ditegakkan di atas Batu.

 

Teknik pembangunan seperti ini membuat rumah kayu ini menjadi tahan guncangan gempa. Luar biasa!

ini yang namanya kearifan lokal.

Perjalanan selanjutnya dimulai dari jalan Sekanak, sebelah barat Benteng Kuto Besak, jalanan ini dipenuhi bangunan tua, seperti bangunan kayu yang merupakan pertokoan Cina dari awal abad 20, saat Palembang masih diurus oleh Belanda, masa yang sama juga mewariskan banyak bangunan batu di sepanjang jalan Sekanak yang gaya arsitekturnya serupa dengan bangunan semasa dari kota Singapura, Malaka, dan Georgetown, bila di tiga tempat itu bangunan tua yang serupa bisa dijadikan objek wisata, seharusnya bangunan-bangunan di Sekanak juga bisa.

Dari tempat kami memarkirkan kendaraan di dekat kantor PT Hok Tong, kami berjalan menuju pasar Sekanak yang sedang ramai oleh pekerja angkut yang mengeluarkan buah kelapa kering dari kapal kayu besar yang membawanya dari pesisir timur Sumatera Selatan, daerah yang banyak terdapat perkebunan kelapa.

Inilah denyut nadi kota Palembang yang asli, perdagangan di pasar di tepi sungai Musi, yang berlangsung sejak awal berdirinya kota Palembang, seperti yang pernah dikunjungi oleh I-Tsing pada tahun 671 M, seperti Palembang yang dikunjungi pedagang India, Arab, dan Persia sejak 1.400 tahun yang lalu, seperti pasar Sekanak ini sekarang, yang ada sejak awal tahun 1900-an, semoga denyut nadi ini terus berlangsung.

Sekanak dengan jalannya yang lebar dan termasuk sepi, harus kami tinggalkan untuk segera menuju pulau Kemaro. Pulau Kemaro dengan Pagodanya yang terkenal adalah tempat yang indah, tapi, perjalanan menyusuri sungai menuju ke pulau Kemaro tidak kalah serunya. Dari atas perahu kayu yang bergerak pelan dan mengayun setiap terkena gelombang, mata yang menjadi berat ini memperhatikan gerak kehidupan di tepian Musi, orang-orang yang memperbaiki perahu, yang menjala ikan, yang berjualan solar untuk motor perahu, anak-anak yang mandi sambil bermain di air, sampai ke acara hajatan yang digelar di atas kapal tongkang, luarbiasa! Aktif sekali!

IMG20160717123348

Kios di Rumah Rakit di Sungai Musi

IMG20160717123453

Memperbaiki Jala

IMG20160717123925

Hajatan di Kapal Tongkang

IMG20160717124054

Anak-anak Bermain di Sungai Musi

 

Dari pulau Kemaro kami menyeberang ke kampung Arab al-Munawar, untuk menyaksikan kebudayaan Arab yang berpadu dengan budaya Palembang yang melayu. Al-Munawar dipenuhi dengan bangunan tua yang anggun, tempat yang cocok sekali untuk mereka yang mencari lokasi berfoto dengan nuansa masa lalu yang megah. Wah.

IMG20160601160037

Salah Satu Rumah Besar yang tua di Kampung Arab Al-Munawar

 

Saat kami tiba disana ternyata sedang ada acara pernikahan berlangsung, sehingga kami sempat menyaksikan sendiri kejadian penting itu, menyenangkan, ramai, penuh kesibukan, disertai dengan hiruk pikuk tetabuhan, seru.

Di ujung acara, kami diajak makan oleh pihak tuan rumah, tentu saja makan dengan cara Arab, satu nampan besar berisi nasi minyak dengan topping sepotong besar daging kambing bakar dan goreng, makan besar ya Allah. Ini adalah suasana makan bersama yang berkesan sekali, ramai-ramai bersama-sama, mengambil nasi di nampan yang sama, berebut lauk, berbagi daging kambing bakar, senang sekali, sampai-sampai teman-teman dari Jakarta berniat mengulang lagi makan seperti ini, mantap!

IMG20160717135748

Makan Enak di Kampung Arab Al-Munawar

 

Tujuan selanjutnya adalah kota olahraga Jakabaring, yang lebih dikenal dengan sebutan JSC, kependekan Jakabaring Sport City. JSC adalah daerah olahraga terpadu yang terdiri dari berbagai venue untuk berbagai olahraga, ada kolam renang, lapangan sepak bola, lapangan atletik, lapangan tenis, beladiri, menembak, sampai danau buatan untuk pertandingan kano.

Setelah sempat berkeliling ke arena menembak, danau buatan dan kolam renang, akhirnya kami tiba di stadion sepakbola, bangunan terbesar di lingkungan JSC, sekaligus yang paling dikenal karena menjadi markas klub sepakbola Sriwijaya FC. Disana kami diajak memasuki ruang konferensi pers yang baru dibangun, ruang khusus bagi insan pers yang hendak meliput pertandingan sepakbola di JSC.

Ruangan yang khusus dibangun untuk pers di lingkungan stadion seperti ini adalah yang pertama ada di Indonesia, ruangan pers biasanya ruangan biasa yang dipakai hanya menjelang pertandingan dilaksanakan, tapi di JSC berbeda, ruangan pers dibuat khusus dan hanya dipakai oleh insan pers, salut!

IMG20160718110249

Ruang Pers di Stadion Gelora Sriwijaya

 

Ruangannya memiliki AC, beberapa baris kursi untuk wartawan yang dilapisi kulit dengan bordir logo SFC, barisan kursi untuk tim yang bertanding, dan semua kursi dilengkapi dengan mikrofon, ditambah dengan lantai yang memakai rumput sintetis, suasana sepakbola-nya terasa sekali dalam ruangan ini.

Setelah puas menikmati suasana ruang pers, kami diajak melihat ruang ganti pemain, Ruangannya luas dilengkapi dengan loker untuk masing-masing pemain, lalu ada wastafel dan kamar mandi. Ruang ganti pemain ini ada empat buah, sehingga bila ada dua pertandingan berurutan maka masing-masing tim punya Ruangannya sendiri tanpa perlu buru-buru berberes untuk bergantian memakai ruang ganti. Dari ruang ganti kami menuju ke lapangan sepakbola, dan iya, lapangannya luas dan ada banyak rumput dan dikelilingi tribun, berdiri di tengah lapangan dan memandang sekeliling, terasa ada aura megah yang membuncah dalam hati yang terdalam, tsahh.

Setelah puas berkeliling di JSC, kami yang kelelahan dan kelaparan ini akhirnya menuju ke sebuah rumah makan yang menjual pindang, makan enak sudah di depan mata, setibanya disana kami memesan berbagai jenis pindang, termasuk pindang telur ikan gabus dan pindang udang, dan saat semua pindang telah tersaji, kami semua tidak bisa lagi menahan diri, langsung saja kami memotret semua makanan itu, semuanya!

Seperti kata mbak Chika, “Blogger itu makan makanan dingin”, karena saat makanan datang dalam keadaan hangat, mereka sibuk foto-foto.

Tapi, makanan enak tetap saja enak, mau hangat atau dingin, karena itu setelah puas foto-foto kami langsung menyantap pindang dan pempek yang terhidang, kenyang!

Saat perut kenyang dan mata mulai berat, kami segera bergegas sebelum tertidur, menuju ke daerah Kambang Iwak untuk mengikuti Pawai Budaya yang merupakan acara pertama dalam rangkaian acara pembukaan Festival Sriwijaya 2016. Setibanya disana, kami langsung disambut dengan barisan anak muda dalam berbagai kostum warna Warni yang meriah. Pesta akan segera dimulai!

Malamnya kami semua berkumpul di pelataran Benteng Kuto Besak untuk menghadiri acara puncak pembukaan Festival Sriwijaya 2016, acara ini dibuka langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan, disaksikan oleh segenap kepala daerah tingkat II yang diundang. Sebuah acara pembukaan yang indah, dibelakang panggung yang warna warni oleh lampu, ada jembatan Ampera yang megah dengan cahaya lampu yang warna warni pula, sungguh-sungguh malam yang penuh warna. Megah.

Dalam sambutan pembukaannya, bapak gubernur Sumatera Selatan menyampaikan beberapa kemajuan yang telah dicapai Sumatera Selatan, juga mengingatkan kepada warga Sumatera Selatan mengenai keagungan sejarah Sumatera Selatan, yang paling menarik adalah saat beliau mengatakan bahwa Candi Buddha terbesar di Asia Tenggara dibangun oleh Sriwijaya, iya benar, Candi Borobudur dibangun oleh dinasti Syailendra dari Kedatuan Sriwijaya.

Dalam kemeriahan pesta pembukaan itu, diantara orang-orang yang menikmati keriuhan, saya menatap jembatan Ampera, menatap Benteng Kuto Besak, menatap Kampung Kapitan dari kejauhan, saya bersyukur telah lahir dan besar di tempat seperti ini, tempat yang mewariskan sejarah panjang peradaban manusia, warisan yang sangat beharga, kepada penduduknya sekarang.

Semoga kami bisa terus menjaga harta beharga ini, terus menghidupi kebudayaan agung ini, dan mewariskannya kepada anak cucu kami nanti.

Palembang dan Melayu

“Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan… setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Shih-li-fo-shih”

Kutipan diatas diambil dari catatan perjalanan seorang pendeta Buddha dari Cina yang hendak menuju India, namanya I-tsing, dan negeri shih-li-fo-shih yang dia maksud adalah Sriwijaya, sekarang dikenal sebagai Palembang, kota luarbiasa di tepi sungai Musi yang hebat.

Sejak saat itu Sriwijaya terus berkembang, menaklukan berbagai pelabuhan lain di sisi barat dan timur selat malaka, menguasai kota pelabuhan yang makmur seperti Melayu dan Kedah, dan membuat Sriwijaya menjadi satu-satunya kekuatan pengendali perdagangan di selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Sriwijaya juga menjadi pihak yang bertanggung jawab atas penyebaran kebudayaan Melayu di segenap wilayah yang dia kuasai, dari Semenanjung Melayu sampai ke Jawa bagian tengah.

Kebudayaan Melayu sendiri terbentuk jauh sebelum Sriwijaya, merupakan percampuran berbagai budaya yang terlibat dalam perdagangan di selat Malaka dan laut Cina Selatan selama bertahun-tahun. Bahasa Melayu menjadi bahasa perdagangan di pelabuhan-pelabuhan itu, termasuk di pelabuhan Sriwijaya, dan saat Sriwijaya melakukan perluasan wilayah, mereka membawa bahasa dan budaya Melayu bersama mereka.

Pada pertengahan abad ke-12 Sriwijaya Memudar, pelabuhan Melayu di Jambi sedang bersinar, sayang untuk masa yang sebentar karena kerajaan Melayu memindahkan ibukota mereka ke pedalaman, menjauhi pesisir yang ramai dengan perdagangan.

Sriwijaya runtuh, pamor Palembang memudar untuk sesaat sebelum bangkit lagi, posisi pelabuhan Palembang yang strategis, terlindung dengan baik dan dekat dengan jalur perdagangan laut yang ramai membuatnya menjadi tempat yang sempurna bagi pusat operasi para bajak laut.

Lambat laun pelabuhan Palembang kembali ramai dikunjungi kapal dagang, banyak pedagang Cina dan Arab yang menetap di Palembang. Palembang kembali menjadi salah satu pusat perdagangan di Sumatera.

1397 M, Palembang dilanda huru-hara besar, seorang pangeran keturunan raja-raja Sriwijaya terpaksa melarikan diri dari Palembang menuju tumasik, sempat menetap dan berkuasa disana sebelum akhirnya mengungsi lagi ke pesisir barat semenanjung melayu, di tempat yang sekarang bernama Malaka.

Bersama dirinya, sang Pangeran Palembang membawa kebudayaan melayu kemanapun dia pergi, dan menurunkan trah melayu ke berbagai raja dan sultan di dua tepi selat malaka dan laut Cina selatan.

Pada tahun 1403 M Armada Kekaisaran Cina tiba di laut Cina selatan, Laksamana Cheng Ho yang memimpin Armada tersebut nyaris menjadi korban bajak laut yang bermarkas dan mengendalikan Palembang, membuat dia memimpin operasi untuk menangkap si bajak laut dan membawanya ke hadapan kaisar, disana si bajak laut dijatuhi hukuman mati pada tahun 1407 M.

Kekaisaran Cina lalu menunjuk seorang Cina Palembang yang membantu Laksamana Cheng Ho sebagai wakil resmi Kekaisaran Cina di Palembang pada tahun 1407 M, tugas utamanya mengurusi perdagangan yang dilakukan oleh warga Cina di Palembang.

Tahun 1411 M Laksamana Cheng Ho memboyong raja Malaka, Pangeran Palembang, ke Cina untuk menghadap Kaisar dan menerima pengakuan sebagai raja Malaka.

Dalam sejarah, dua kali Palembang menjadi titik tolak penyebaran budaya melayu, pada Sriwijaya dan Parameswara. Dalam sejarah pula Palembang menunjukkan ketangguhannya untuk selalu bangkit dari keterpurukan, selalu menjadi pusat bagi wilayah di sekitarnya.

Mungkin sudah saatnya pula kini Palembang bangkit dan memimpin dunia melayu, mungkin sudah tiba waktunya Palembang menjadi pusat kebudayaan melayu sedunia.

Sriwijaya dan Parameswara berasal dari Palembang, tiada yang mampu membantah, kita memang pusat dunia melayu, itu sebabnya keluarga kesultanan di Malaysia selalu berziarah ke Palembang,karena mereka tahu, melayu itu di Palembang, melayu adalah Palembang.

Jika Yogyakarta bisa mengaku sebagai pusat budaya jawa, maka sangat layak bila Palembang mengaku sebagai pusat budaya Melayu, sedunia.

Dalam melayu semua budaya berpadu, membuatnya kaya, membuatnya bangga.

Palembang Pusat Dunia Melayu.