Rumah 100 Tiang di Kampung Pangeran

Ini adalah bangunan yang tidak saya kira akan jumpai di daerah suku Komering, yaitu sebuah rumah kayu dengan lantai berjenjang layaknya rumah limas di kota Palembang.

Kurang lebih 100 tahun yang lalu Pangeran Rejed Wiralaksana membangun sebuah rumah besar dengan banyak tiang sebagai hadiah untuk menantu perempuannya yang merupakan warga asli komering, sementara Pangeran Rejed sendiri adalah orang Rambang dari daerah Rambang Senuling.

Rumah ini dibangun dengan menggunakan jasa seorang ahli bangunan bersuku Cina dan menggunakan bahan kayu unglen yang kuat dan tahan lama. Itulah mengapa kita masih bisa menikmati keanggunan rumah ini puluhan tahun setelah ia didirikan.

Menuju ke tempat ini tidaklah sulit, hanya sekitar 15 menit dari pusat kota Kayuagung, ibukota kabupaten Ogan Komering Ilir, bila ditempuh dari palembang akan memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit.

Nama daerahnya adalah Kampung Pangeran, terletak di kecamatan Sugih Waras, kampung ini berada persis di tepi sungai, suasananya tenang dan nyaman, membuat saya betah duduk berlama-lama disana.

Penghuni Kampung Pangeran ini masih satu keluarga besar sehingga bisa dibilang ini adalah kampung keluarga. Ada dua jalan masuk ke Kampung Pangeran yang berupa sebuah jalan lurus tanpa cabang yang berbentuk huruf ‘U’, kedua ujung huruf ‘U’-nya bersambung ke jalan raya antar Kota Kayuagung dan Martapura.

Tidak ada banyak orang di kampung ini, saat saya datang hanya ada penghuni rumah dan beberapa anak-anak sekitar yang riang gembira walau sedang berpuasa, ya, saya datang saat umat Islam sedang menyambut pergantian bulan Hijriah dengan berpuasa, ritual yang biasanya dianggap berat oleh anak-anak perkotaan dijalankan dengan penuh senyum dan riang gembira oleh anak-anak kampung Pangeran.

Ada sekitar 16 rumah lain di Kampung Pangeran ini yang juga sudah berusia tua dan tentu saja memiliki ceritanya masing-masing dan rumah Pangeran Rejed adalah bangunan terbesar di dalam kampung ini. Rumah ini memiliki banyak tiang kayu untuk menunjang struktur rumahnya, dari jumlah penopang kayu inilah datang sebutan ‘Rumah 100 Tiang’, karena memang terdapat 100 buah tonggak kayu penopang rumah.

Memiliki dua tangga untuk naik, hanya salah satu tangga yang dibuka, yaitu yang berada di dekat pintu rumah, ada teras besar memanjang yang menyambut kita saat tiba di anak tangga teratas, disitu kita bisa memotret ke arah halaman dan sungai yang mengalir tenang di seberang jalan.

Masuk ke dalam rumah terdapat dua jenjang rumah, jenjang pertama lebarnya sekitar 2 meter, jenjang kedua jauh lebih lebar, mungkin sekitar 20 meter dan luas tanpa sekat.

Pada jenjang pertama tidak ada perabotan, dinding yang menghadap ke teras terdiri dari ukiran kayu yang membuat kita bisa memandang ke arah teras sementara dinding yang membatasi dengan jenjang kedua terbuat dari kayu tanpa ukiran yang menghalangi pandangan. Dinding yang kedua ini bisa dibuka pasaknya dan diayun ke atas dari bagian bawahnya lalu dipasakkan ke bagian atas dinding pertama, sehingga antara jenjang pertama dan jenjang kedua tidak ada pembatas, biasanya hal ini dilakukan saat ada hajatan yang mengundang orang banyak datang ke dalam rumah.

Jenjang kedua adalah ruangan luas tanpa sekat yang dipenuhi hiasan ukiran di dindingnya. Ada satu set kursi dan meja di tengahnya dan beberapa perabot lain di tepinya, namun jumlahnya tidak banyak, secukupnya saja, menciptakan ruangan yang lega, duduk disana tidak membuat terasa dikepung barang-barang, yang terasa malah adanya sesuatu aura yang agung, dan bagus untuk dipotret.

Lantai kayu di rumah ini terhitung masih baik, terasa kokoh saat diinjak, dan langit-langit yang tinggi membuat udara di dalam rumah tidak panas dan pengap.

Lingkungan di sekitar rumah 100 tiang ini bersih, hampir tidak ada sampah yang terlihat, sungai yang mengalir persis di seberang rumah pun bersih, airnya mengalir tenang,  ada beberapa perahu kecil yang lalu lalang dengan anggun, di tepi sungai ada semacam turab yang bisa diduduki, juga tersedia tangga batu tempat warga turun ke sungai. Semuanya tertata baik, kampung kecil yang bersih dan rapih.

Saat hendak pulang, saya bertemu beberapa anak setempat, mereka mengobrol di bagian bawah teras rumah 100 tiang, saat saya sapa, mereka menjawab ramah, setelah beberapa saat bicara, saya bisa menilai bahwa anak-anak ini sopan dan malu-malu, khas anak kampung, dan hal lain yang penting adalah, tidak ada gawai di tangan mereka.

Ah, saya suka anak kampung.

 

DSC02403

Orang Yang Berani Memasuki Rumah 100 Tiang Akan Menghilang, Hanya Tersisa Sepatunya!

 

 

DSC02404

Kanannya Rumah, Kirinya Sungai, Tengahnya Jalan Dinaungi Pepohonan, Bersih.

 

 

DSC02413

Bagian Terbaik, Pusat Rumah.

 

 

DSC02435

Dinding Pertama Dengan Lantai Yang Licin Cemerlang

 

 

DSC02436

Jenjang Pertama Dan Jenjang Kedua

 

 

DSC02429

Ukiran Berlapis Emas Pada Tiang Rumah

 

Kampung Pangeran sendiri adalah sebuah nama yang menarik, nama yang bisa menggugah rasa ingin tahu orang, yang bisa berujung kepada kunjungan ke Kampung Pangeran. Cerita yang berada dibalik nama Kampung Pangeran akan menjadi pengantar yang bagus saat pelancong berkeliling desa, memasuki satu persatu dari 16 rumah tua yang ada di kampung ini, itu tentu akan menjadi atraksi wisata yang luar biasa dari Kampung Pangeran, sesuatu yang bisa menjadi andalan bagi kabupaten OKI.

Apalagi bila di dalam Kampung Pangeran ini terdapat home stay di salah satu dari 16 rumah tua itu, atau di rumah lain milik warga, akan ada pelancong yang merasakan hal yang sama seperti saya saat berada di Kampung Pangeran, suasana yang unik yang nyaman yang memancing rasa ingin tahu “bagaimanakah pagi hari disini?”, “bagaimana suasananya saat matahari tenggelam?”, “apa kegiatan warga sehari-hari?”, itu akan membuat mereka menginap untuk mencari tahu.

Saya tidak ingin membesar-besarkan, tapi Kampung Pangeran ini adalah tempat yang menarik, layak untuk disinggahi bila teman-teman sedang berada di sekitar kota Kayuagung, jika teman-teman menyukai kampung al-munawwar, maka Kampung Pangeran ini sejenis itu, hanya saja dalam versi yang lebih rendah hati, versi kampung, dengan suasana kampung yang benar-benar kampung, bukan kampung di tengah kota.

Main-mainlah ke Kampung Pangeran.

Pangeran Kramajaya dari Palembang

Pada tahun 1852 ada seorang petualang dari Amerika Serikat yang tiba di Palembang, di Palembang dia nampaknya diterima dengan baik oleh warga Palembang, baik yang Melayu maupun yang Cina, bahkan si petualang ini sampai diundang untuk menghadiri resepsi pernikahan anak perempuan seorang saudagar Palembang bernama Oey Tsee Yang.

Resepsi itu tidak hanya dihadiri oleh orang Cina, tapi juga dihadiri oleh orang-orang Melayu dan Arab, suasananya sangat meriah dengan suara musik sepanjang acara.

Dalam resepsi ini si petualang Amerika bertemu dengan seorang saudagar Cina bernama Tchoon Long, yang selama resepsi nampak murung, Tchoon Long akhirnya bercerita mengenai seorang hebat dari Palembang, orang jujur yang setiap hari memberi makan 2.000 orang, yang terkenal di penjuru pulau Sumatera, orang-orang menyanyikan lagu pujian untuknya, dan dia sangat dicintai terutama oleh orang-orang Palembang dan Pasemah, Namanya Pangeran Kramajaya.

Namun yang membuat Tchoon Long muram adalah Pangeran Kramajaya ditangkap Belanda yang tidak suka melihat tokoh setempat menjadi terlalu popular. Belanda lalu membuang Pangeran Kramajaya ke Jawa, membuat ratusan ribu orang Palembang bersedih dan mendoakannya agar dapat kembali ke Palembang.

Tidak hanya itu, para saudagar di Palembang mengumpulkan uang ratusan ribu rupee untuk kebebasan Pangeran Kramajaya dan Tchoon Long yang akan berlayar membawa uang itu ke jawa dan membawa pulang Pangeran Kramajaya.

Sebuah kisah yang mengharukan, seorang hebat yang dicintai ratusan ribu orang, Melayu, Arab, dan Cina, bahu membahu mereka hendak membebaskan orang baik ini, mengagumkan, tapi, siapa sebenarnya Pangeran Krama Jaya ini? Dan apakah cerita mengharukan di atas benar adanya?

Setelah menelusuri berbagai sumber, ternyata, Pangeran Kramajaya adalah seorang tokoh sejarah, benar-benar ada, Wow!

Setelah Sultan Mahmud Badaruddin II dibuang oleh Belanda, warga Palembang benar-benar merasa kehilangan seorang tokoh yang sangat disegani dan dicintai, dan Belanda sebagai penguasa baru Palembang berusaha keras untuk mencuri hati warga Palembang, berusaha membuat warga Palembang hanya patuh kepada Belanda.

Belanda mencoba mengangkat sultan yang bisa mereka kendalikan, namun gagal karena sultan itu memberontak dan akhirnya dibuang keluar sumatera, Belanda lalu membubarkan Kesultanan Palembang pada tanggal 15 oktober 1825 dan membuang ratusan bangsawan Palembang dalam rangka menghilangkan jejak-jejak dan pengaruh kesultanan atas warga Palembang.

Belanda lalu menegakkan sistem administrasinya sendiri, mengangkat residen dan seperangkat pembantu residen. Pada tahun 1838 Belanda membentuk sebuah jabatan baru yang berkantor di Palembang, nama jabatan itu adalah ‘Rijksbestuur’ yang kurang lebih setara dengan bupati, setingkat dibawah Residen, yaitu jabatan yang menguasai seluruh daerah yang dahulu berada dibawah pengaruh Palembang, kurang lebih seukuran provinsi Sumatera Selatan saat ini.

Untuk mengisi jabatan itu maka diangkatlah menantu Sultan Mahmud badaruddin II, yaitu Pangeran Kramajaya. Dengan pengangkatan ini Belanda berharap dapat mengembalikan kepercayaan warga Palembang kepada Belanda, 13 tahun setelah Belanda membubarkan Kesultanan Palembang Darussalam.

Pangeran Kramajaya memiliki nama lengkap Kramajaya Abdul Azim, dia diangkat menjadi ‘Rijksbertuur’ melalui Surat Keputusan Raja Belanda tanggal 2 Januari 1838 dengan gelar yang akan ditulis dalam satu paragraph khusus setelah paragraph ini.

Pangeran Bupati Perdana Menteri Kramajaya Pangeran Mangkunegara Cakrabuana Sultan Agung Alam Kabir Sri Maharaja Mutar Alam Senopati Martapura Ratu Mas  Penembahan Raja Palembang.

Ya, paragraph di atas isinya adalah gelar resmi dalam surat pengangkatan Pangeran Kramajaya sebagai ‘Rijksbertuur’, gelar itu bisa membuat seorang pelajar gagal naik kelas bila hafalan gelar itu dijadikan syarat kenaikan.

Selama menjadi Rijksbertuur, Pangeran Kramajaya menjadi makin popular, baik di Palembang maupun di pedalaman, terutama di Pasemah, menjadi terlalu popular sehingga akhirnya belanda merasa bahwa kepopuleran itu telah menjadi ancaman bagi pemerintah Belanda.

Belanda akhirnya menuduh Pangeran Kramajaya hendak menggalang pemberontakan terhadap pemerintah Belanda, Pangeran Kramajaya lalu ditangkap dan dibuang ke Jawa pada tahun 1851, 13 tahun setelah diangkat menjadi pejabat dalam pemerintahan oleh Belanda sendiri.

Setahun kemudian, Walter Murray Gibson tiba di Palembang, dia adalah seorang petualang dari Amerika Serikat yang berkeliling dunia, adalah Walter yang mengenang kemuraman Tchoon Long atas pembuangan Pangeran Kramajaya dan tekad Tchoon Long untuk membawa pulang Pangeran Kramajaya, Walter kelak akan menuliskan kisah itu dalam bukunya yang diterbitkan di Amerika Serikat.

Pangeran Kramajaya mungkin adalah satu-satunya tokoh sejarah di Palembang yang kepopulerannya diakui bukan hanya oleh warga Palembang dan pihak Belanda yang saling berseteru, tapi juga oleh pihak ketiga yang saat itu sedang berkunjung ke Palembang.

Kemasyhurannya diakui dan dicatat oleh semua orang.

Sungguh luarbiasa.

Hal lain yang menarik adalah, adanya seorang saudagar Cina yang bertekad menemui Belanda untuk membawa pulang Pangeran Kramajaya, bukan hanya ini meneguhkan kepopuleran Pangeran Kramajaya di berbagai kalangan, tapi juga membuktikan kerukunan kehidupan berbagai etnik di Palembang, bahu membahu mereka membangun Palembang, bahu membahu pula mereka hendak mengembalikan tokoh yang mereka sayangi.

Persatuan yang membuat tangguh, yang membuat Palembang bertahan begitu lama, 1335 tahun.

Ini kisah yang membuat saya semakin mencintai Palembang, kota tua yang luarbiasa, kota tua yang selalu berhasil membuat saya jatuh cinta setiap kali saya menelusuri kisah kehidupannya.

Saya berdoa untuk Palembang Jaya.

Kapitan Cina di Palembang

Siang itu saya sedang duduk di ruang tamu di rumah abu di Kampung kapitan, saya sedang mendengarkan pak Mulyadi yang bercerita dengan penuh semangat, banyak yang dia sampaikan tapi saya lebih tertarik mengenai sejarah leluhurnya.
Seperti kebanyakan warga Palembang lainnya, sejarah Palembang yang diketahui oleh pak Mulyadi tidak tertib urutan waktunya dan tertukar tokoh-tokohnya, tapi itu bisa dimaklumi, karena sejak di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas sejarah yang dipelajari oleh warga Palembang adalah sejarah kerajaan-kerajaan di jawa dan hanya sedikit menyinggung sejarah kota kelahiran mereka sendiri, Palembang.

Namun ada dua hal yang sangat menarik perhatian saya dari ‘orasi kebudayaan’ pak Mulyadi itu, pertama, bahwa dia dan keluarganya memiliki buku tua warisan keluarga yang ditulis dalam huruf  Cina yang tidak bisa dibaca pak Mulyadi karena mereka sekeluarga tidak bisa lagi membaca aksara Cina, dan kedua, bahwa kapitan Cina terakhir yang ada di Palembang dimakamkan di daerah Kemang Manis, di sebelah barat daya pemakaman Puncak Sekuning.

Dan, perburuan itu pun dimulai…

Saya bisa dengan segera menemukan makam Kapitan Cina yang terakhir di Palembang, letaknya di dataran tinggi, di daerah perbukitan di barat laut kota Palembang, yang ditunjukkan dalam peta Palembang pada tahun 1947 berikut ini.

peta-dengan-makam-kapitan-crop

Peta Palembang Pada tahun 1947

Pada saat saya pertama kali berkunjung, kondisinya sangat menyedihkan, pelatarannya tergenang, sebagian dilapisi lumpur tipis, dan di sekitarnya becek. makamnya sendiri dinaungi oleh bangunan batu terbuka, dengan tulang plafon yang mulai miring dan atap genteng yang tidak simetris. penilaian singkat atas situasinya adalah, tidak menarik. ini bukan tempat yang akan didatangi oleh turis.

img20160604110404

Makan Kapitan Oey Pada Pertengahan Tahun 2016

Namun di kunjungan terakhir saya kesana, ada yang berubah, bangunan batunya sudah tidak ada, makamnya tidak lagi diselimuti beton, dan ada tanaman di sekitar makam, penilaian singkat atas situasinya adalah, keadaan membaik, namun masih buruk, masih tetap becek dan tergenang. tempat yang mungkin akan dikunjungi turis bila tidak ada lagi yang bisa mereka kunjungi di Palembang.

img20170109112746

img20170109112759

Makam Kapitan Oey

img20170109112823

Makam Yang Lebih Kecil Di Sisi Sebelah Timur Makam Utama

img20170109112921

Pemandangan Ke Arah Sungai Musi Dari Makam Kapitan Oey

Hal yang lebih menyedihkan adalah, di sekitar makam tidak ada keterangan mengenai makam bersejarah ini. tidak ada tulisan dalam aksara latin yang bisa dibaca mengenai penghuni makam, siapa namanya, apa jabatannya, bagaimana perjalanan hidupnya dan bagaimana akhir hidupnya. tidak ada.

Nol.

Padahal kapitan Cina adalah jabatan yang penting, kapitan Cina adalah orang yang ditunjuk oleh penguasa Palembang (saat itu adalah Belanda) untuk mengelola komunitas Cina yang ada di Palembang, dan Palembang di masa itu adalah sama seperti provinsi Sumaera Selatan saat ini.

Nama Kapitan Cina yang terakhir di Palembang adalah Oey Teng Kiang, pekerjaannya pasti sulit, karena sebagai ketua komunitas Cina, dia harus menjaga ketertiban komunitasnya dan bertanggung jawab kepada pemerintah Belanda yang telah menunjuknya.

Berat karena pada masa itu ada berbagai perkumpulan rahasia di kalangan masyarakat Cina di Palembang yang kegiatannya cenderung kepada kejahatan, bahkan di singapura, ada perkumpulan rahasia masyarakat Cina disana yang terkait dengan Triad di Hong Kong dan Cina daratan.

Tidak diketahui apakah ada jaringan Triad di Palembang pada masa itu, Namun pada tahun 1866 Gustave Schlegel menyebut adanya perkumpulan rahasia Cina di Palembang yang bernama ‘Seven Friendly’.

Kapitan Oey sendiri berhadapan dengan perkumpulan rahasia Cina pada masa kepemimpinannya, nama perkumpulan rahasia itu adalah ‘Three Star’, dan ‘Three Star’ ini adalah perkumpulan rahasia yang agresif, mereka hendak merekrut Kapitan Oey menjadi anggota mereka, namun Kapitan Oey menolak, penolakan itu membua ‘Three Star’ kalap, mereka menyerang kapitan secara fisik, mengancam nyawanya, tercatat tiga kali ‘Three Star’ menyerang Kapitan Oey,  dalam serangan-serangan itu jatuh korban jiwa, namun Kapitan Oey selalu selamat.

Lalu pada tanggal 19 september 1924, Kapitan Oey sekali lagi diserang, kali ini kapitan Oey mendapatkan 35 luka tusuk di sekujur tubuhnya, Kapitan Oey tewas.

Berita tewasnya kapitan Oey ini menyebar kemana-mana, bahkan menjadi berita di sebuah koran yang terbit di Singapura.

Kini kapitan Oey terbaring di makamnya, makam megah yang tidak terurus. sebagai tokoh kota Palembang di masa hidupnya, kapitan Oey layak mendapatkan lebih dari ini.

Merawat makam kapitan Oey adalah bagian dari mengenang dan melestarikan kisah mengenai para kapitan yang pernah ada di Palembang.

Kehidupan kapitan Oey layak dikenang dan diceritakan sebagai bagian dari kekayaan budaya kota Palembang, kota tua, yang luarbiasa.

Peta Palembang Tahun 1947

Salam teman-teman,

Semoga teman-teman semua selalu sehat, aamiin.

Ini adalah peta Palembang pada tahun 1947 yang saya buat berdasarkan beberapa peta lama dan sketsa yang terdapat di beberapa sumber yang berbeda.

Tujuan pembuatan peta ini adalah agar saya sendiri bisa lebih memahami situasi dan kondisi pada saat terjadinya perang 5 Hari 5 malam di Palembang dan juga karena saya ingin mengetahui sejarah kota Palembang, bagian mana saja dari kota ini yang telah lama ada, sesuatu yang akan memudahkan saya untuk berburu bangunan tua dan lokasi bersejarah di kota Palembang.

Saya yakin bahwa manfaat yang sama akan dirasakan bagi teman-teman yang gemar sejarah, baik itu sejarah budaya maupun sejarah perkembangan kota, karena itu saya membagikan peta ini agar dapat memudahkan teman-teman sekalian.

peta

Tentu saja pada tahun 1947 kota Palembang belum seuas sekarang tapi ukuran ini sudah termasuk luas untuk masa itu sehingga Palembang dianggap sebagai kota terbesar kedua di pulau Sumatera setelah kota Banda Aceh.

Jalan masuk ke kota Palembang bisa melalui darat, air, dan udara. melalui udara, Palembang bisa dimasuki melalui pelabuhan udara Talang Betutu yang berada di utara kota, dalam peta ini, Talang Betutu dicapai melalui Charitas, terus ke utara kurang lebih 13 kilometer lagi.

Bila hendak ke Palembang melalui jalur air, orang bisa menaiki kapal memasuki muara sungai Musi di selat Bangka, menghulu sampai ke kota dan berlabuh di Boom Baru.

Sementara bila hendak ke Palembang melalui darat, bisa memanfaatkan jalur kereta api dari Bandar Lampung yang akan berhenti di stasiun kereta api Kertapati, dari sana bisa langsung ke bagian ulu kota dengan menyeberangi jembatan Wilhelmina, yang sekarang dikenal dengan nama jembatan Ogan, bila hendak ke bagian ilir maka bisa langsung menyeberang mempergunakan kapal dari dekat stasiun dan akan berlabuh di daerah Tangga Buntung atau Pasar 16.

Bila membawa kendaraan maka bisa masuk ke kota dari beberapa arah, pertama, dari arah utara, orang-orang yang datang dari arah sekayu bisa mengambil jalan yang melalui pelabuhan udara Talang Betutu langsung ke Charitas. Talang Betutu sendiri saat itu berada jauh di luar kota, di sisi kanan dan kiri jalan yang naik turun hanya dipenuhi pepohonan, perbukitan yang tertutup hutan.

Kedua, melalui arah barat, bagi mereka yang datang dari arah Indralaya, Prabumulih, Muara Enim, dan Lahat, mereka akan memasuki Palembang melalui jalan yang terdapat di dekat stasiun kereta api Kertapati.

Ketiga, bagi yang datang dari arah Kayu Agung maka bisa melalui jalan yang dibangun dekat kilang minyak Plaju yang berada di sebelah timur kota. di jalan ini, pemandangannya adalah daerah datar yang berawa-rawa dengan beberapa pulau yang dipenuhi pohon tinggi.

Tidak bisa memasuki kota melalui sisi barat sebelah ilir, karena jalan Tangga Buntung hanya sampai sekitar daerah Karang Anyar dan jalan dari bukit kecil memanjang sampai daerah Bukit Siguntang lalu terus ke jalan Sultan Mas Mansyur berakhir di jalan Tangga Buntung, membentuk suatu lingkaran besar tanpa cabang.

Begitu pula dari arah sebelah timur seberang ilir, jalan yang sekarang dikenal dengan nama jalan M. Isa baru dibangun sampai sekitar daerah taksam, sementara jalan Yos Sudarso hanya sampai sekitar Pasar Lemabang, jalan menuju Pusri belum ada karena Pusri sendiri belum ada.

Inilah luas wilayah Palembang pada tahun 1947, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tulisan lain yang berkaitan dengan peta ini mungkin menyusul dalam waktu dekat.

Terima kasih teman-teman.

 

Palembang dan Warga Arab

Kehadiran orang arab di Palembang telah tercatat lama, Sriwijaya pernah mengirim utusan ke Cina yang diduga kuat dipimpin oleh seorang Arab. Kemampuan mereka berbicara mungkin menarik perhatian penguasa Sriwijaya untuk menjadikan mereka sebagai utusan yang dikirim ke negeri Cina.

Hubungan yang istimewa ini berlanjut ke masa kesultanan Palembang Darussalam, dimana para pendatang dari tanah Arab ini diterima dengan tangan terbuka, dijadikan sebagai guru agama, bahkan sebagian dari mereka dijadikan anggota keluarga kesultanan.

Sejak masa kesultanan, jumlah pendatang Arab di Palembang cukup besar, bahkan anggota komunitas orang Arab di Palembang adalah yang terbesar kedua di seantero kepulauan Asia Tenggara, hanya kalah oleh ukuran komunitas Arab di Aceh.

Orang Arab-orang Arab ini sebagian besar adalah pedagang, mereka terlibat dalam perdagangan barang kelontong, kain, dan wewangian. Sementara yang lain ada yang menjadi pengusaha batu es, percetakan, depot kayu, dan pelayaran.

Sebagian besar dari orang Arab ini berhasil dalam pekerjaan mereka, membuat mereka menjadi orang kaya, bukan saja diantara sesama orang arab sendiri tapi juga diantara seluruh penduduk kepulauan Asia Tenggara.

Bukan hanya itu, orang Arab dari Palembang juga tergolong berhasil secara keuangan bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka sesama orang Arab di bagian lain kepulauan Asia Tenggara, termasuk mengalahkan komunitas Arab terbesar di kepulauan, yaitu Aceh.

Pada tahun 1800an, pejabat Belanda mencatat mengenai warga arab yang memiliki modal usaha di atas 10.000 Gulden, di Jakarta ada 22 orang, di Semarang ada 14 orang, di Palembang ada 37 orang, dan di Singapura ada 80 orang.

Ini artinya ada lebih banyak orang Arab kaya di Palembang daripada di Jakarta, jumlahnya hampir separuh dari Singapura yang pada saat itu telah menjadi pelabuhan terbesar di wilayah kepulauan Asia Tenggara.

Bahkan pada masa kejayaan Pelayaran, orang Arab Palembang punya andil besar dengan menjadi penyedia layanan pelayaran milik bangsa Arab yang terbesar di kepulauan Asia Tenggara. Pengusaha Arab di Palembang bahkan memiliki kapal Api untuk bersaing dengan pengusaha pelayaran dari Eropa.

Jika memperhatikan besarnya ukuran komunitas dan kekuatannya secara ekonomi, Nampak jelas bahwa komunitas Arab di Palembang sangat menonjol diantara komunitas Arab di tempat lain, kombinasi dua hal ini membuat komunitas Arab di Palembang menjadi penting sebagai rujukan utama bagi warga Arab perantauan di bagian lain kepulauan Asia Tenggara.

Pemerintah Belanda di Hindia Timur pun memperhatikan bahwa Palembang menjadi salah satu kota tujuan utama para pendatang Arab, selain Aceh dan Pontianak. Mungkin karena Palembang sudah lama mereka kenal sejak ratusan tahun sebelumnya dan mungkin juga karena kemakmuran para perantau Arab yang datang lebih awal dari mereka.

Pada saat pemerintah Belanda di Hindia Timur mulai mendata warga Arab di wilayah mereka pada tahun 1882, mereka mencatat bahwa beberapa keluarga Arab telah ada di Palembang sekitar 5-6 generasi, jika satu generasi adalah 20-25 tahun maka keluarga-keluarga arab ini sudah ada di Palembang setidaknya sejak 100-150 tahun sebelumnya, yaitu antara 1732-1782.

Ini adalah pendatang Arab yang benar-benar meninggalkan tanah kelahirannya dan menetap di Palembang, berbeda dengan para pedagang arab pada masa sebelumnya yang hanya mampir di pelabuhan Palembang dan menetap sementara.

Para keluarga Arab yang telah menetap di Palembang sejak tahun 1732 ini diantaranya adalah marga Al-Habsyi, Bin Syihab, dan As-Saqqaf.

Selain mereka, pemerintah Belanda juga mencatan keluarga arab yang lebih akhir kedatangannya, 2 generasi sebelum pendataan dilakukan pada tahun 1882, itu artinya sekitar tahun 1832-1842, yang terakhir ini adalah keluarga Arab dari marga Al-Jufri dan Al-Munawar.

Sebagian besar pendatang Arab di Palembang berasal dari keluarga Sayyid, yang diyakini sebagai keturunan langsung pendiri agama Islam, mereka rata-rata sedari kecil sudah mampu membaca dan menulis, juga berhitung, minimal hitungan yang bisa membantu mereka dalam berdagang.

Singkat kata, pendatang Arab yang tiba di Palembang adalah orang Arab dengan garis keturunan terhormat, dari kelas ekonomi menengah, dan terdidik dengan baik. Mungkin kombinasi ketiga hal ini yang membuat komunitas Arab di Palembang berkembang pesat secara ekonomi dan membuatnya menjadi sangat penting.

Perihal pentingnya komunitas Arab di Palembang bisa dirasakan pada acara tahunan Haul Kubro, warga Arab dari penjuru kepulauan Asia tenggara berduyun-duyun menuju Palembang, dari Jakarta, Pontianak, Singapura, Malaysia, Brunei, bahkan dari Yaman menghadiri acara ini.

Komunitas Arab adalah bagian dari kekayaan sejarah, budaya, dan intelektualitas kota Palembang, mereka telah memberi banyak andil dalam perkembangan kota Palembang sehingga bisa menjadi seperti sekarang. Sudah selayanya mereka dibantu untuk melestarikan identitas sejarah dan budaya mereka demi menjaga kekayaan sejarah dan budaya kota Palembang sendiri.

Palembang adalah kota tua yang bangga.

Balaputra, Maharaja Sriwijaya

Balaputra adalah nama salah satu Datu dari Kedatuan Sriwijaya dan tidak ada hubungan apapun dengan baladewa, baik dengan baladewa sebagai tokoh pewayangan apalagi dengan baladewa penggemarnya Dewa 19.

Balaputra ini hanya memiliki hubungan dengan raja-raja kuno di nusantara dan di anak benua India dan tulisan ini akan membahas hubungan-hubungan itu dengan sumber dari buku karangan Prof. Dr. Slamet Muljana (Selanjutnya akan disebut ‘Prof Slamet’) yang berjudul  ‘Sriwijaya’.

1885636

Buku Karya Prof. Dr. Slamet Muljana

 

Nama Balaputra muncul pertama kali dalam piagam Nalanda yang dibuat pada tahun 860 M. Nalanda sendiri adalah nama sebuah pusat pendidikan agama Buddha di Kerajaan Pala  yang sekarang terletak di dekat desa Bihar, India sebelah timur laut, dekat dengan pegunungan Himalaya dan pada masa keagungannya merupakan pusat belajar agama Buddha aliran Tantra yang terkenal, orang-orang dari Asia Timur dan Asia Tengah datang dari jauh untuk belajar di Nalanda.

indiamap

Nalanda terletak di distrik Bihar, India, dekat dengan Nepal

 

Piagam Nalanda dibuat pada masa kekuasaan Dewapala dari dinasti Pala yang bertahta antara tahun 810 M sampai 860 M, sehingga besar kemungkinan Balaputra dari dinasti Sailendra hidup di masa yang sama karena keduanya di dalam piagam Nalanda dikatakan memiliki hubungan diplomasi, saling berkirim utusan.

Balaputra mengirim utusan kepada Dewapala dengan membawa dana untuk pembangunan kuil Buddha beserta asrama bagi warga Sriwijaya yang belajar di Nalanda dan meminta kemurahan hati Dewapala untuk menyediakan tanah bagi pembangunan kuil dan asrama tersebut.

Dalam piagam Nalanda disebutkan nama kedua orang tua Balaputra beserta nama kakek dari pihak ibunya, seperti ditunjukkan dalam Tabel 1 berikut ini.

Tabel Balaputra

Samaragrawira adalah Maharaja Sriwijaya yang memiliki istri bernama Tara, putri dari raja Sri Dharmasetu.

Sri Dharmasetu adalah raja dari dinasti Somawangsa, yang diperkirakan berasal dari Nepal yang berada tepat di sebelah utara Nalanda, di kaki pegunungan Himalaya. Jika dugaan ini benar maka Balaputra membangun kuil dan asrama di daerah yang jauh di seberang lautan tapi berdekatan dengan tanah leluhurnya dari sisi ibu.

Nama Balaputra tidak ditemukan dalam piagam apapun di jawa, namun muncul nama yang terdengar serupa, yaitu ‘Walaputra’, yang terdapat dalam piagam Jatiningrat yang diduga dari tahun 856 M. Dari sinilah Prof Slamet menduga bahwa Walaputra adalah Balaputra, orang yang sama hanya berbeda cara penyebutan suku kata pertama pada namanya.

Dalam piagam itu Walaputra disebut sebagai orang yang menumpuk batu untuk kubu pertahanan karena sedang berperang melawan Jatiningrat.

Jatiningrat sendiri adalah bangsawan Jawa beragama Siwa yang menikahi wanita keluarga dinasti Sailendra dari Sumatera yang bernama Pramodawardhani yang beragama Buddha. Pramodawardhani ini adalah putri dari Samaratungga yang mendirikan candi Borobudur, candi Buddha di tanah Hindu. Silsilah Pramodawardhani akan ditunjukkan dalam Tabel 2

Tabel Pramodhawardhani

Sama seperti Balaputra, Pramodhawardhani pun anggota keluarga Sailendra dan hidup semasa dengan Balaputra. Ini berarti bahwa dinasti Sailendra berkuasa atas Sumatera dan Jawa.

Namun, mengapa dua anggota utama dinasti Sailendra saling bertempur?, untuk menjawab ini maka kita perlu memperjelas beberapa hal.

Pertama, Balaputra dan Walaputra mungkin adalah dua kata yang dipergunakan untuk menyebut satu orang yang sama, dengan ‘Balaputra’ sebagai kata asli dan ‘Walaputra’ adalah versi Jawanya.

Kedua, Balaputra dan Pramodhawardhani berasal dari satu dinasti yang sama namun bukan saudara kandung, beberapa usaha untuk menjadikan Balaputra dan Pramodhawardhani sebagai Kakak-Adik dan Paman-Kemenakan terbentur di berbagai masalah sehingga kecil kemungkinannya mereka adalah saudara dekat.

Ketiga, Pramodhawardhani adalah anggota Dinasti Sailendra yang beragama Buddha yang dinikahi oleh Jatiningrat yang beragama Siwa.

setelah memperjelas hal-hal itu, maka, jawaban yang paling mungkin adalah, suami Pramodhawardhani hendak berkuasa secara mandiri atas tanah Jawa dan melepaskan diri dari bayang-bayang kebesaran dinasti Sailendra. Atau mungkin pula karena  pembangunan kuil Buddha raksasa (Borobudur) telah membuat warga Jawa yang mayoritas beragama Hindu-Siwa memberontak dibawah pimpinan Jatiningrat.

Apapun alasannya, Jatiningrat nampaknya memenangi pertempuran, memerdekakan Jawa bagian tengah dan membuat Balaputra kehilangan kekuasaannya atas sebagian tanah Jawa.

Namun, Balaputra tetaplah seorang tokoh yang hebat, dia satu-satunya penguasa di Nusantara masa kuno yang membangun kuil dan asrama di luar wilayah kekuasaanya, sesuatu yang menunjukkan wibawanya di mata penguasa lain di wilayah yang jauh.

Semoga ini bisa menjadi penggugah semangat bagi warga Palembang untuk mencapai prestasi yang sama atau bahkan lebih di tingkat dunia.

Palembang dan Melayu

“Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan… setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Shih-li-fo-shih”

Kutipan diatas diambil dari catatan perjalanan seorang pendeta Buddha dari Cina yang hendak menuju India, namanya I-tsing, dan negeri shih-li-fo-shih yang dia maksud adalah Sriwijaya, sekarang dikenal sebagai Palembang, kota luarbiasa di tepi sungai Musi yang hebat.

Sejak saat itu Sriwijaya terus berkembang, menaklukan berbagai pelabuhan lain di sisi barat dan timur selat malaka, menguasai kota pelabuhan yang makmur seperti Melayu dan Kedah, dan membuat Sriwijaya menjadi satu-satunya kekuatan pengendali perdagangan di selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Sriwijaya juga menjadi pihak yang bertanggung jawab atas penyebaran kebudayaan Melayu di segenap wilayah yang dia kuasai, dari Semenanjung Melayu sampai ke Jawa bagian tengah.

Kebudayaan Melayu sendiri terbentuk jauh sebelum Sriwijaya, merupakan percampuran berbagai budaya yang terlibat dalam perdagangan di selat Malaka dan laut Cina Selatan selama bertahun-tahun. Bahasa Melayu menjadi bahasa perdagangan di pelabuhan-pelabuhan itu, termasuk di pelabuhan Sriwijaya, dan saat Sriwijaya melakukan perluasan wilayah, mereka membawa bahasa dan budaya Melayu bersama mereka.

Pada pertengahan abad ke-12 Sriwijaya Memudar, pelabuhan Melayu di Jambi sedang bersinar, sayang untuk masa yang sebentar karena kerajaan Melayu memindahkan ibukota mereka ke pedalaman, menjauhi pesisir yang ramai dengan perdagangan.

Sriwijaya runtuh, pamor Palembang memudar untuk sesaat sebelum bangkit lagi, posisi pelabuhan Palembang yang strategis, terlindung dengan baik dan dekat dengan jalur perdagangan laut yang ramai membuatnya menjadi tempat yang sempurna bagi pusat operasi para bajak laut.

Lambat laun pelabuhan Palembang kembali ramai dikunjungi kapal dagang, banyak pedagang Cina dan Arab yang menetap di Palembang. Palembang kembali menjadi salah satu pusat perdagangan di Sumatera.

1397 M, Palembang dilanda huru-hara besar, seorang pangeran keturunan raja-raja Sriwijaya terpaksa melarikan diri dari Palembang menuju tumasik, sempat menetap dan berkuasa disana sebelum akhirnya mengungsi lagi ke pesisir barat semenanjung melayu, di tempat yang sekarang bernama Malaka.

Bersama dirinya, sang Pangeran Palembang membawa kebudayaan melayu kemanapun dia pergi, dan menurunkan trah melayu ke berbagai raja dan sultan di dua tepi selat malaka dan laut Cina selatan.

Pada tahun 1403 M Armada Kekaisaran Cina tiba di laut Cina selatan, Laksamana Cheng Ho yang memimpin Armada tersebut nyaris menjadi korban bajak laut yang bermarkas dan mengendalikan Palembang, membuat dia memimpin operasi untuk menangkap si bajak laut dan membawanya ke hadapan kaisar, disana si bajak laut dijatuhi hukuman mati pada tahun 1407 M.

Kekaisaran Cina lalu menunjuk seorang Cina Palembang yang membantu Laksamana Cheng Ho sebagai wakil resmi Kekaisaran Cina di Palembang pada tahun 1407 M, tugas utamanya mengurusi perdagangan yang dilakukan oleh warga Cina di Palembang.

Tahun 1411 M Laksamana Cheng Ho memboyong raja Malaka, Pangeran Palembang, ke Cina untuk menghadap Kaisar dan menerima pengakuan sebagai raja Malaka.

Dalam sejarah, dua kali Palembang menjadi titik tolak penyebaran budaya melayu, pada Sriwijaya dan Parameswara. Dalam sejarah pula Palembang menunjukkan ketangguhannya untuk selalu bangkit dari keterpurukan, selalu menjadi pusat bagi wilayah di sekitarnya.

Mungkin sudah saatnya pula kini Palembang bangkit dan memimpin dunia melayu, mungkin sudah tiba waktunya Palembang menjadi pusat kebudayaan melayu sedunia.

Sriwijaya dan Parameswara berasal dari Palembang, tiada yang mampu membantah, kita memang pusat dunia melayu, itu sebabnya keluarga kesultanan di Malaysia selalu berziarah ke Palembang,karena mereka tahu, melayu itu di Palembang, melayu adalah Palembang.

Jika Yogyakarta bisa mengaku sebagai pusat budaya jawa, maka sangat layak bila Palembang mengaku sebagai pusat budaya Melayu, sedunia.

Dalam melayu semua budaya berpadu, membuatnya kaya, membuatnya bangga.

Palembang Pusat Dunia Melayu.

5 Hari 5 Malam 5 Tempat

1 Januari 1947 adalah hari pertama perang semesta yang melibatkan seluruh warga Palembang melawan pasukan pendudukan Belanda, bahkan bukan hanya warga kota Palembang, perang ini juga mengundang ratusan pejuang dan tentara dari bagian lain sumatera Selatan, seperti Lahat, Prabumulih, bahkan dari kota Lampung.
Berikut ini adalah 5 Tempat yang harus anda kunjungi karena inilah tempat dimana kejadian penting selama perang berlangsung.

Bundaran Air Mancur
Lokasinya berada di dekat mesjid Agung Palembang, saat perang berlangsung kolam air Mancur ini belum ada, tempatnya dahulu hanya berupa jalan lebar yang di beberapa bagiannya dijadikan pos jaga oleh TRI (Tentara Republik Indonesia) dan laskar-laskar rakyat. Pada tanggal 1 Januari 1947, beberapa tentara Belanda yang baru saja selesai merayakan pesta tahun baru mengemudikan jip dalam keadaan mabuk dan melaju keluar markas mereka di dalam Benteng Kuto Besak menuju ke arah Mesjid Agung, disana mereka mengeluarkan tembakan yang dibalas oleh anggota laskar yang sedang bertugas menjaga pos, ini lah awal dari perang selama 5 hari 5 malam di Palembang.

Pasar Cinde
1 km ke arah utara Mesjid Agung Palembang, terdapat pasar Cinde, pada masa perang 5 Hari 5 Malam, pasar Cinde masih berupa pasar kecil yang merupakan bagian dari Terminal angkutan luar kota, pasar yang lebih besar disitu adalah pasar Lingkis. Pada hari kedua pertempuran, pasukan Belanda dari Benteng Kuto Besak hendak menerobos kepungan pasukan TRI dan laskar atas Rumah Sakit Charitas (yang saat itu dijadikan markas pasukan elit Belanda), Belanda berhasil menerobos barikade di dekat mesjid Agung Palembang dan dekat IP sebelum akhirnya tertahan di pasar Lingkis, namun Belanda berhasil melalui hadangan TRI dan laskar dan sampai ke RS Charitas walaupun satu truk mereka terbakar dan beberapa tentara tewas.
Di hari berikutnya, pasukan Belanda dari Charitas keluar menaiki tank panser dan menyerang posisi pasukan TRI dan laskar di pasar Lingkis, lagi-lagi berusaha untuk menghancurkan posisi pengepungan, namun TRI dan laskar berhasil bertahan, dalam hujan peluru dari tank dan panser mereka bersembunyi di balik puluhan makam keluarga Sultan Palembang yang berada di dekat pasar Lingkis, perang yang terjadi sangat dekat sampai-sampai anggota laskar bisa menaiki panser dan melemparkan bom molotov. Pasukan Belanda akhirnya mundur, masuk kembali ke markas mereka di RS Charitas. Mereka gagal.

image

RS Charitas
Rumah sakit Charitas didirikan pada tanggal  9 Juli 1926 oleh Konggregasi Suster Santo Fransiskus Charitas Roosendaal dari Negeri Belanda, saat pasukan Belanda kembali masuk ke Palembang, mereka mengambil alih pengelolaan RS dan mengubahnya menjadi markas pasukan Gajah Merah yang merupakan pasukan komando Belanda yang disegani.
Selama perang 5 hari 5 malam, rumah sakit Charitas selalu dalam keadaan terkepung, pasukan bantuan TRI dari Prabumulih yang dipimpin oleh Mayor Dani Effendi secara khusus ditugasi untuk mengepung Charitas dibantu oleh pasukan TRI lain dan laskar-laskar. Pada hari keempat pasukan Belanda di RS Charitas telah kehabisan amunisi dan akhirnya mengibarkan bendera putih. Ini menjadi satu-satunya posisi pasukan Belanda yang mengibarkan bendera putih selama perang 5 hari 5 malam. Kemenangan besar bagi pasukan TRI dan laskar.

Bagus Kuning
Bagus Kuning adalah perumahan para pekerja perusahaan minyak yang diubah menjadi markas pasukan Belanda, pada hari ketiga, pasukan TRI dibantu dengan berbagai laskar melakukan serangan umum dan berhasil mengusir pasukan Belanda. Pasukan Belanda lari ke atas kapal mereka dan menuju ke tengah sungai Musi, menjauh dari jarak tembak senjata pasukan TRI.
Peristiwa ini adalah kemenangan yang sangat penting selama perang 5 hari 5 malam di Palembang, berita kemenangan ini menyebar ke semua pasukan yang sedang bertempur habis-habisan dibawah bombardier angkatan udara dan angkatan laut Belanda dan berhasil membangkitkan kembali semangat mereka.

Plaju
Pada tahun 1930, BPM yang merupakan anak perusahaan minyak asal Belanda, Shell, mendapat izin mendirikan kilang minyak di Plaju, membuat Plaju menjadi tempat yang penting dalam perang selama tahun 1930-1945 di Asia Tenggara, bukan hanya karena minyak adalah komoditas perdagangan yang penting namun juga karena minyak sangat diperlukan untuk menjalankan mesin perang seperti jet serbu dan tank panser.
Pada saat berlangsungnya perang 5 hari 5 malam di Palembang, Belanda telah memperkuat pertahanan mereka di sekitar kilang minyak dan perumahan karyawan BPM, sehingga membuat pasukan TRI dan laskar yang mengepung kesulitan untuk masuk. Komandan pasukan TRI yang mengepung Plaju lalu melaksanakan serbuan umum, Letnan Satu Abdullah memimpin sendiri pasukan gabungan TRI dan laskar, dia berada di garis terdepan pertempuran, menjadi contoh bagi para prajurit yang dia pimpin, serangan nampaknya akan berhasil menerobos garis pertahanan musuh sampai saat peluru sniper Belanda mengenai tubuh Letnan Satu Abdullah, tubuhnya terkapar saat hendak berlari maju memimpin pasukannya menyelinap di dekat gereja Plaju, tubuhnya jatuh di tempat terbuka, sehingga anak buahnya tidak bisa langsung menyelamatkan karena rentan ditembak pasukan Belanda. Setelah beberapa saat, dibawah tembakan perlindungan yang bertubi-tubi akhirnya jenazah letnan satu Abdullah berhasil diselamatkan, dia lalu dimakamkan di sekitar pertigaan simpang Kayu Agung, Plaju. Sebagai penghormatan atas aksi heroiknya, pangkat Letnan satu Abdullah dinaikkan setingkat menjadi Kapten dan namanya diabadikan sebagai nama jalan yang menuju ke kilang minyak Plaju.

image

Prasasti Mengenang Gugurnya Letnan Satu Abdullah

Inilah 5 Tempat yang wajib dikunjungi bagi teman-teman yang ingin tahu mengenai sejarah pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang.

Seru kan? Ayo kunjungi!

Museum Bahari Sriwijaya

“saya pernah kerja di Cina, waktu mau pindah ke Palembang, teman-teman langsung googling tentang Palembang, mereka bilang Palembang itu ndak ada apa-apa, kotanya disebut ciu-cang, kota markas bajak laut”

Tawa saya nyaris meledak setelah mendengar kalimat ini, kalimat ini lucu karena disampaikan dengan jujur, kejujuran yang pahit, dan saya menertawakan itu, tawa getir.

Palembang memang pernah dikelola oleh bajak laut dan Cheng Ho mampir ke Palembang salah satunya dalam rangka membersihkan jalur dagang di selat malaka dari gangguan para bajak laut yang saat itu bermarkas di… yak betul, Palembang.

Namun jauh sebelum Cheng Ho mampir ke Palembang dan menangkap perompak bernama Chen Zu Yi pada tahun 1407, pada tahun 1349 kronik Cina telah mencatat laporan dari para pedagang yang baru pulang dari Palembang bahwa kota itu dikuasai oleh seorang perompak dari Guang Zhou, bernama Liang Dao Ming,

Setelah pembersihan oleh Cheng Ho, pada tahun 1560 kronik Cina mencatat mengenai seorang penjahat asal Guandong yang pensiun dari dunia kejahatan di Guandong lalu menetap di Palembang, di Palembang dia menjadi pedagang kaya raya dan diangkat menjadi kapitan.

Namanya Zhang Lian, apakah dia juga kepala perompak? Belum diketahui, tapi masa dia di Palembang berdekatan dengan masa pendirian kerajaan Palembang pada tahun 1547 oleh Pangeran Sido Ing Lautan (imigran dari Jawa tengah) bersama Dipati Karang Widara, anak keturunan Demang Lebar Daun, penguasa lokal Palembang saat itu.

Saat itu Palembang mulai kembali menjadi pusat perdagangan di kawasan selatan pulau Sumatera, terimaksih kepada Lada dari Bangka dan dari pedalaman Sumatera, daerah di hulu sungai musi, ulu musi, yang membuat perdagangan di Palembang kembali bergairah dan mendatangkan kekayaan sehingga menarik perhatian penguasa lain untuk menguasai Palembang, pada tahun 1596 Banten datang menyerang dan berhasil dikalahkan, selanjutnya pada tahun 1658 Cornelius Ockerse memimpin armada VOC dari Batavia menyerang Palembang, dan seperti Banten, mereka pun gagal.

Khusus untuk Belanda, mereka melakukan serangan ke Palembang pada tahun 1658, 1659, dua kali pada tahun 1819, dan sekali pada 1821, pada serangan terakhir barulah Belanda mampu menaklukan Palembang.

Kemampuan Palembang untuk mempertahankan diri dari serangan armada laut bangsa lain ini mungkin Karena warga Palembang memiliki kemampuan mumpuni dalam pertempuran di atas air, sebuah bakat besar yang pada abad ketujuh membuat orang-orang Palembang mampu mengendalikan perairan yang luas di selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Lalu saat Sriwjaya bubar, masyarakat yang mahir bertempur di atas air ini masih meneruskan keseharian mereka seperti di masa Sriwijaya, mengatur lalu lintas perairan selat Malaka dan menarik pajak dari berbagai kapal yang lalu lalang, namun bedanya sekarang tidak lagi membawa panji Sriwijaya, hanya panji-panji perorangan atau kelompok, sehingga sekarang mereka disebut bajak laut.

Memiliki bakat yang hebat diatas air adalah suatu anugerah yang luar biasa, apalagi telah dibuktikan penggunaannya sehingga mampu mendirikan kekaisaran seluas Sriwijaya dan kesultanan Palembang Darussalam, tidak ada yang bisa membantahnya dan membuat orang Palembang memiliki identitas yang berbeda dari lingkungan sekitarnya, ini adalah sesuatu yang layak dibanggakan, dirayakan dan dikenang, dan kenangan itu bentuk terbaiknya adalah berupa Museum Bahari Sriwijaya.

Museum Bahari Sriwijaya akan berisi 4 bagian, yaitu bagian Sriwijaya, bagian bajak Laut, Bagian Palembang Darussalam, yang ketiganya focus pada sejarah dan bagian Bahari Musi yang isinya berkaitan dengan budaya, menjelaskan mengenai bagaimana sungai Musi selama 1300 tahun telah membentuk kebudayaan manusia-manusia yang hidup dari dirinya, agar anak muda Palembang paham mengapa sungai Musi disebut laut dan lauk pauk selalu disebut ‘iwak’.

Penasarankan? Sama.

Mari berdoa dan berusaha bagi Museum Bahari Sriwijaya.

(Tulisan kedua dari tiga bagian)

 

 

Palembang Apa Sih!

“saya pernah kerja di Cina, waktu mau pindah ke Palembang, teman-teman langsung googling tentang Palembang, mereka bilang Palembang itu ndak ada apa-apa, kotanya disebut ciu-cang, kota markas bajak laut”

Saya mendengar kalimat itu sekitar jam 9 pagi di hari sabtu yang cerah di dalam ruangan berpengatur suhu setelah menyesap teh hangat, saya hendak tertawa, bukan karena kalimat itu salah atau lucu, tapi karena kalimat itu hampir seluruhnya benar, saya hendak tertawa getir.

“Palembang tidak ada apa-apa” yang ada dalam benak orang setelah googling mengenai kota Palembang menandakan sesuatu yang menyedihkan, tanda bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar khusus yang bisa direkatkan ke kota Palembang, sesuatu yang menarik perhatian dan menjadi tujuan yang hendak dilihat bila mereka mengunjungi kota Palembang.

Pempek mungkin kuliner yang sangat unik dengan kuah pedasnya, namun jarang kita dengar ‘Bandung kota Siomay’, ‘Jakarta kota Kerak telor’, atau ‘Denpasar kota ayam betutu’, yang cukup kencang hanya ‘Jogja kota gudeg’, dimana penjaja makanan angkringan menjadi aikon yang sangat popular bagi warga luar jogja. Jika Palembang hendak melekatkan pempek sebagai jualan utama, maka sudah saatnya pemkot Palembang mengemas paket wisata yang fokus kepada pempek, bukan acara yang berkala bulanan atau tahunan, tapi yang bisa dikunjungi setiap hari oleh wisatawan, misalnya kampong Pempek, dimana kapan pun wisatawan datang mereka bisa melihat keseharian pembuat pempek, melihat pempek dibuat dari nol sampai siap disajikan, dan mungkin akan sangat menarik bagi mereka bila melihat pempek dijajakan berjalan kaki keliling dalam wadah rotan, suatu keaslian yang tidak mereka dapatkan saat makan pempek di kota lain.

Sriwijaya adalah kekaisaran maritim yang sangat luas, dengan beberapa kota yang mengaku sebagai pusatnya, ada Palembang, ada Jambi, Kedah di Malaysia, Chaiya di Thailand, bahkan India. Palembang menjadi kandidat yang paling kuat, namun Jambi memiliki kompleks percandian peninggalan Sriwijaya yang diduga adalah kompleks percandian terbesar di Asia tenggara, sementara Raja Sriwijaya ditangkap di Kedah oleh Raja Chola, dan tentu saja, setelah menaklukan sriwijaya, India mengaku ibukota Sriwijaya ada di India selatan.

Palembang membutuhkan suatu bukti yang sangat kuat untuk mematahkan setiap klaim dari kota lain sebagai ibukota Sriwijaya dan satu-satunya cara adalah dengan menggalakkan penggalian arkeologi di sepanjang tepian sungai Musi sebagai tempat berkembangnya ibukota Sriwijaya. Pemprov Sumsel dan Pemerintah Pusat Harus Menggelontorkan dana besar untuk penelitian sejarah dan membuat aturan yang ketat mengenai perizinan pembangunan di tepian sungai Musi.

Jika langkah-langkah di atas dianggap sulit dilaksanakan maka cara terakhir adalah dengan melakukan kampanye besar-besaran melalui berbagai media untuk menonjolkan Palembang sebagai ibukota Sriwijaya. Pemkot Palembang dibantu Pemprov Sumsel mengadakan berbagai event Internasional dengan membawa nama Sriwijaya, Melakukan Seminar internasional, dan menjual paket perjalanan yang bernama ‘Sriwijaya Tour’ yang khusus mengunjungi berbagai tujuan wisata di Sumatera Selatan.

Sungai Musi adalah salah satu sungai terbesar di Indonesia, punya banyak cerita mulai dari Sriwijaya sampai masa kolonial Belanda, jika hendak dijadikan atraksi wisata utama maka pengemudi ketek baiknya didukung, dilatih, didorong untuk membuat asosiasi agar mudah menyeragamkan harga dan pelayanan, sebagai orang-orang yang setiap hari akan bertemu dan menjamu wisatawan yang hendak berkeliling sungai Musi.

Ampera masih mempesona, dan banyak wisatawan yang hendak berfoto dengan latar jembatan Ampera, beberapa tempat berfoto sudah disediakan, mungkin akan lebih lengkap bila tersedia pula pernak-pernik berbentuk jembatan Ampera untuk dibawa pulang oleh wisatawan sebagai kenang-kenangan atau pun oleh-oleh.

Apapun yang menjadi pilihan, pilihan tersebut harus menjadi pusat segala kegiatan pariwisata dan menjadi kata utama dalam berbagai jenis promosi yang digelar melalui berbagai bentuk media, jika itu sudah dilakukan dan internet dipenuhi oleh kata kunci itu maka tidak akan ada lagi orang-orang yang setelah googling berkata “Palembang ndak ada apa-apa”.

(Tulisan pertama dari tiga bagian)