Palembang dan Warga Arab

Kehadiran orang arab di Palembang telah tercatat lama, Sriwijaya pernah mengirim utusan ke Cina yang diduga kuat dipimpin oleh seorang Arab. Kemampuan mereka berbicara mungkin menarik perhatian penguasa Sriwijaya untuk menjadikan mereka sebagai utusan yang dikirim ke negeri Cina.

Hubungan yang istimewa ini berlanjut ke masa kesultanan Palembang Darussalam, dimana para pendatang dari tanah Arab ini diterima dengan tangan terbuka, dijadikan sebagai guru agama, bahkan sebagian dari mereka dijadikan anggota keluarga kesultanan.

Sejak masa kesultanan, jumlah pendatang Arab di Palembang cukup besar, bahkan anggota komunitas orang Arab di Palembang adalah yang terbesar kedua di seantero kepulauan Asia Tenggara, hanya kalah oleh ukuran komunitas Arab di Aceh.

Orang Arab-orang Arab ini sebagian besar adalah pedagang, mereka terlibat dalam perdagangan barang kelontong, kain, dan wewangian. Sementara yang lain ada yang menjadi pengusaha batu es, percetakan, depot kayu, dan pelayaran.

Sebagian besar dari orang Arab ini berhasil dalam pekerjaan mereka, membuat mereka menjadi orang kaya, bukan saja diantara sesama orang arab sendiri tapi juga diantara seluruh penduduk kepulauan Asia Tenggara.

Bukan hanya itu, orang Arab dari Palembang juga tergolong berhasil secara keuangan bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka sesama orang Arab di bagian lain kepulauan Asia Tenggara, termasuk mengalahkan komunitas Arab terbesar di kepulauan, yaitu Aceh.

Pada tahun 1800an, pejabat Belanda mencatat mengenai warga arab yang memiliki modal usaha di atas 10.000 Gulden, di Jakarta ada 22 orang, di Semarang ada 14 orang, di Palembang ada 37 orang, dan di Singapura ada 80 orang.

Ini artinya ada lebih banyak orang Arab kaya di Palembang daripada di Jakarta, jumlahnya hampir separuh dari Singapura yang pada saat itu telah menjadi pelabuhan terbesar di wilayah kepulauan Asia Tenggara.

Bahkan pada masa kejayaan Pelayaran, orang Arab Palembang punya andil besar dengan menjadi penyedia layanan pelayaran milik bangsa Arab yang terbesar di kepulauan Asia Tenggara. Pengusaha Arab di Palembang bahkan memiliki kapal Api untuk bersaing dengan pengusaha pelayaran dari Eropa.

Jika memperhatikan besarnya ukuran komunitas dan kekuatannya secara ekonomi, Nampak jelas bahwa komunitas Arab di Palembang sangat menonjol diantara komunitas Arab di tempat lain, kombinasi dua hal ini membuat komunitas Arab di Palembang menjadi penting sebagai rujukan utama bagi warga Arab perantauan di bagian lain kepulauan Asia Tenggara.

Pemerintah Belanda di Hindia Timur pun memperhatikan bahwa Palembang menjadi salah satu kota tujuan utama para pendatang Arab, selain Aceh dan Pontianak. Mungkin karena Palembang sudah lama mereka kenal sejak ratusan tahun sebelumnya dan mungkin juga karena kemakmuran para perantau Arab yang datang lebih awal dari mereka.

Pada saat pemerintah Belanda di Hindia Timur mulai mendata warga Arab di wilayah mereka pada tahun 1882, mereka mencatat bahwa beberapa keluarga Arab telah ada di Palembang sekitar 5-6 generasi, jika satu generasi adalah 20-25 tahun maka keluarga-keluarga arab ini sudah ada di Palembang setidaknya sejak 100-150 tahun sebelumnya, yaitu antara 1732-1782.

Ini adalah pendatang Arab yang benar-benar meninggalkan tanah kelahirannya dan menetap di Palembang, berbeda dengan para pedagang arab pada masa sebelumnya yang hanya mampir di pelabuhan Palembang dan menetap sementara.

Para keluarga Arab yang telah menetap di Palembang sejak tahun 1732 ini diantaranya adalah marga Al-Habsyi, Bin Syihab, dan As-Saqqaf.

Selain mereka, pemerintah Belanda juga mencatan keluarga arab yang lebih akhir kedatangannya, 2 generasi sebelum pendataan dilakukan pada tahun 1882, itu artinya sekitar tahun 1832-1842, yang terakhir ini adalah keluarga Arab dari marga Al-Jufri dan Al-Munawar.

Sebagian besar pendatang Arab di Palembang berasal dari keluarga Sayyid, yang diyakini sebagai keturunan langsung pendiri agama Islam, mereka rata-rata sedari kecil sudah mampu membaca dan menulis, juga berhitung, minimal hitungan yang bisa membantu mereka dalam berdagang.

Singkat kata, pendatang Arab yang tiba di Palembang adalah orang Arab dengan garis keturunan terhormat, dari kelas ekonomi menengah, dan terdidik dengan baik. Mungkin kombinasi ketiga hal ini yang membuat komunitas Arab di Palembang berkembang pesat secara ekonomi dan membuatnya menjadi sangat penting.

Perihal pentingnya komunitas Arab di Palembang bisa dirasakan pada acara tahunan Haul Kubro, warga Arab dari penjuru kepulauan Asia tenggara berduyun-duyun menuju Palembang, dari Jakarta, Pontianak, Singapura, Malaysia, Brunei, bahkan dari Yaman menghadiri acara ini.

Komunitas Arab adalah bagian dari kekayaan sejarah, budaya, dan intelektualitas kota Palembang, mereka telah memberi banyak andil dalam perkembangan kota Palembang sehingga bisa menjadi seperti sekarang. Sudah selayanya mereka dibantu untuk melestarikan identitas sejarah dan budaya mereka demi menjaga kekayaan sejarah dan budaya kota Palembang sendiri.

Palembang adalah kota tua yang bangga.

Advertisements

Kembali ke Kemaro

Sedikit mendung dan gerimis menemani perjalanan menyusuri sungai Musi hari ini, menyenangkan walau kapal besi kecil ini beberapa kali diterpa gelombang besar sehingga bergoyang cukup kuat, andai saja ombaknya lebih besar, saya akan turun dari kapal, mengambil papan, dan mulai belajar selancar air.

 

img20160922161823

Perjalanan hari ini menuju Bungalow pulau Kemaro yang terdapat di… tentu saja pulau Kemaro, sebuah pulau yang terdapat di tengah sungai Musi. Dalam kapal hadir Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang yang akan memaparkan rencana pengembangan pulau Kemaro.

 

 

img20160922150516

Bungalow Pulau Kemaro

Pengembangan Pulau Kemaro dititikberatkan pada sisi sebelah timur, Bungalow Pulau Kemaro akan ditambah jumlahnya sampai 50 unit bangunan dilengkapi dengan ruang pertemuan dan ruang makan, dan bentuknya akan tetap berupa rumah panggung yang terbuat dari beton. Pilihan bangunan berbentuk rumah panggung ini karena lingkungan Bungalow memiliki status sebagai Lahan Kota Pusaka sehingga bangunan yang didirikan tidak boleh merusak bentuk lahan, dalam hal pulau Kemaro, bangunan yang didirikan tidak boleh mengubah lahan rawa.

 

 

img20160922151003

Mungkin Terlihat Mencemaskan Saat Kemarau, Tapi Bila Musim Hujan Tiba Ini Akan Menjadi Bungalow yang Cantik di Atas Rawa dan Sawah

img20160922152630

Hal lain yang akan dikembangkan di Pulau Kemaro adalah Eco-Park dan Eco-Tourism.
Bungalow Pulau Kemaro akan dikelilingi oleh sawah dan rawa yang asli sehingga lingkungan bungalow akan asri, terasa seperti di pedesaan jauh dari perkotaan, akan terasa seperti di pulau tersendiri… secara tersirat dan tersurat.

 
Di bagian lain dari Pulau Kemaro, diluar Lahan Kota Pusaka, akan dibangun taman burung, plaza, dan jalur pedestrian. Jalur pedestrian ini rencananya akan dibangun selebar 4 meter dan di sepanjang tepian Pulau Kemaro, kelak pengunjung Pulau Kemaro bisa berkeliling pulau kemaro dengan santai, baik berjalan kaki maupun berkendara sepeda.
Plaza di Pulau Kemaro akan berupa lapangan terbuka yang di kelilingi oleh toko atau kedai. Ini akan menjadi pusat kegiatan hiburan dan atraksi wisata di Pulau Kemaro.
Pada bagian ujung timur Pulau Kemaro juga akan didirikan Historical Park, pada tempat dimana diduga kuat pernah berdiri benteng pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Dan yang terakhir adalah akan didirikan jembatan gantung yang akan menghubungkan daratan dengan Pulau Kemaro.
Sungguh menyenangkan mendengar rencana pengembangan Pulau Kemaro, senang karena Palembang akan segera memiliki tempat wisata bernuansa alam yang keren. Luar biasa.
Lebih senang lagi karena menurut pihak Konsultan yang membantu Dinas Pariwisata Kota Palembang, jembatan yang akan dibangun menghubungkan antara daratan dan Pulau Kemaro hanya akan bisa dilalui oleh pejalan kaki, alasannya adalah, demi menjaga keasrian lingkungan Pulau Kemaro.
Itu adalah kabar terbaik yang saya dengar sepanjang perjalan ini.
Ini sungguh berita bagus, karena keasrian lingkungan bukan hanya rawa-rawa harus asli dan tidak terganggu, tapi juga mengenai kebersihan udara dan meminimalkan kebisingan. Tiga hal ini adalah satu kesatuan yang penting untuk menyempurnakan kemasan berjualan eco-tourism, lingkungan asli, udara sehat, dan tidak bising, sehingga benar-benar terasa seperti pedesaan yang menyegarkan dan menyehatkan.
Hal lain yang menarik dan bisa dijadikan atraksi wisata adalah bagian sisi sebelah utara Pulau Kemaro yang berhadapan dengan daratan, berupa persawahan yang langsung bertemu dengan air sungai Musi yang mengalir tenang. Tempat ini bisa dijadikan atraksi wisata berperahu kecil menyusuri tepian sungai musi yang tenang lalu masuk ke dalam persawahan, berputra-putar di antara dahan padi lalu keluar lagi menuju sungai musi kembali ke dermaga perahu di dekat Historical Site Pulau Kemaro.

 

img20160922161313

Wisata perahu ini akan menjadi pengalaman menarik yang tidak biasa bahkan bagi warga kota Palembang sendiri.

 
Jembatan kecil yang direncanakan mengelilingi pinggiran Pulau Kemaro bisa dibangun mengitari lahan persawahan ini sehingga keasrian persawahan tepian sungai yang ini tetap terjaga.
Tidak di setiap kota besar terdapat sawah yang bersebelahan dengan sungai besar, suatu hadiah alam bagi kota Palembang yang bisa dijadikan atraksi wisata yang ditawarkan kepada tiap pengunjung Pulau Kemaro.
Rasanya tidak sabar untuk segera bisa berjalan kaki berkeliling pulau kemaro, memanjakan mata menikmati pemandangan sawah dan rawa yang rimbun sambil menghirup udara yang segar dalam ketenangan khas pedesaan.
Semoga segera terwujud.

Balaputra, Maharaja Sriwijaya

Balaputra adalah nama salah satu Datu dari Kedatuan Sriwijaya dan tidak ada hubungan apapun dengan baladewa, baik dengan baladewa sebagai tokoh pewayangan apalagi dengan baladewa penggemarnya Dewa 19.

Balaputra ini hanya memiliki hubungan dengan raja-raja kuno di nusantara dan di anak benua India dan tulisan ini akan membahas hubungan-hubungan itu dengan sumber dari buku karangan Prof. Dr. Slamet Muljana (Selanjutnya akan disebut ‘Prof Slamet’) yang berjudul  ‘Sriwijaya’.

1885636

Buku Karya Prof. Dr. Slamet Muljana

 

Nama Balaputra muncul pertama kali dalam piagam Nalanda yang dibuat pada tahun 860 M. Nalanda sendiri adalah nama sebuah pusat pendidikan agama Buddha di Kerajaan Pala  yang sekarang terletak di dekat desa Bihar, India sebelah timur laut, dekat dengan pegunungan Himalaya dan pada masa keagungannya merupakan pusat belajar agama Buddha aliran Tantra yang terkenal, orang-orang dari Asia Timur dan Asia Tengah datang dari jauh untuk belajar di Nalanda.

indiamap

Nalanda terletak di distrik Bihar, India, dekat dengan Nepal

 

Piagam Nalanda dibuat pada masa kekuasaan Dewapala dari dinasti Pala yang bertahta antara tahun 810 M sampai 860 M, sehingga besar kemungkinan Balaputra dari dinasti Sailendra hidup di masa yang sama karena keduanya di dalam piagam Nalanda dikatakan memiliki hubungan diplomasi, saling berkirim utusan.

Balaputra mengirim utusan kepada Dewapala dengan membawa dana untuk pembangunan kuil Buddha beserta asrama bagi warga Sriwijaya yang belajar di Nalanda dan meminta kemurahan hati Dewapala untuk menyediakan tanah bagi pembangunan kuil dan asrama tersebut.

Dalam piagam Nalanda disebutkan nama kedua orang tua Balaputra beserta nama kakek dari pihak ibunya, seperti ditunjukkan dalam Tabel 1 berikut ini.

Tabel Balaputra

Samaragrawira adalah Maharaja Sriwijaya yang memiliki istri bernama Tara, putri dari raja Sri Dharmasetu.

Sri Dharmasetu adalah raja dari dinasti Somawangsa, yang diperkirakan berasal dari Nepal yang berada tepat di sebelah utara Nalanda, di kaki pegunungan Himalaya. Jika dugaan ini benar maka Balaputra membangun kuil dan asrama di daerah yang jauh di seberang lautan tapi berdekatan dengan tanah leluhurnya dari sisi ibu.

Nama Balaputra tidak ditemukan dalam piagam apapun di jawa, namun muncul nama yang terdengar serupa, yaitu ‘Walaputra’, yang terdapat dalam piagam Jatiningrat yang diduga dari tahun 856 M. Dari sinilah Prof Slamet menduga bahwa Walaputra adalah Balaputra, orang yang sama hanya berbeda cara penyebutan suku kata pertama pada namanya.

Dalam piagam itu Walaputra disebut sebagai orang yang menumpuk batu untuk kubu pertahanan karena sedang berperang melawan Jatiningrat.

Jatiningrat sendiri adalah bangsawan Jawa beragama Siwa yang menikahi wanita keluarga dinasti Sailendra dari Sumatera yang bernama Pramodawardhani yang beragama Buddha. Pramodawardhani ini adalah putri dari Samaratungga yang mendirikan candi Borobudur, candi Buddha di tanah Hindu. Silsilah Pramodawardhani akan ditunjukkan dalam Tabel 2

Tabel Pramodhawardhani

Sama seperti Balaputra, Pramodhawardhani pun anggota keluarga Sailendra dan hidup semasa dengan Balaputra. Ini berarti bahwa dinasti Sailendra berkuasa atas Sumatera dan Jawa.

Namun, mengapa dua anggota utama dinasti Sailendra saling bertempur?, untuk menjawab ini maka kita perlu memperjelas beberapa hal.

Pertama, Balaputra dan Walaputra mungkin adalah dua kata yang dipergunakan untuk menyebut satu orang yang sama, dengan ‘Balaputra’ sebagai kata asli dan ‘Walaputra’ adalah versi Jawanya.

Kedua, Balaputra dan Pramodhawardhani berasal dari satu dinasti yang sama namun bukan saudara kandung, beberapa usaha untuk menjadikan Balaputra dan Pramodhawardhani sebagai Kakak-Adik dan Paman-Kemenakan terbentur di berbagai masalah sehingga kecil kemungkinannya mereka adalah saudara dekat.

Ketiga, Pramodhawardhani adalah anggota Dinasti Sailendra yang beragama Buddha yang dinikahi oleh Jatiningrat yang beragama Siwa.

setelah memperjelas hal-hal itu, maka, jawaban yang paling mungkin adalah, suami Pramodhawardhani hendak berkuasa secara mandiri atas tanah Jawa dan melepaskan diri dari bayang-bayang kebesaran dinasti Sailendra. Atau mungkin pula karena  pembangunan kuil Buddha raksasa (Borobudur) telah membuat warga Jawa yang mayoritas beragama Hindu-Siwa memberontak dibawah pimpinan Jatiningrat.

Apapun alasannya, Jatiningrat nampaknya memenangi pertempuran, memerdekakan Jawa bagian tengah dan membuat Balaputra kehilangan kekuasaannya atas sebagian tanah Jawa.

Namun, Balaputra tetaplah seorang tokoh yang hebat, dia satu-satunya penguasa di Nusantara masa kuno yang membangun kuil dan asrama di luar wilayah kekuasaanya, sesuatu yang menunjukkan wibawanya di mata penguasa lain di wilayah yang jauh.

Semoga ini bisa menjadi penggugah semangat bagi warga Palembang untuk mencapai prestasi yang sama atau bahkan lebih di tingkat dunia.

3 Musim di Palembang

Suatu saat ada teman dari ibukota yang memberi saran, agar museum di Palembang tidak membosankan, cobalah dibuat program acara per bulan yang berbeda sepanjang tahun, itu akan memancing pengunjung, membuat mereka memiliki alasan untuk datang ke museum karena ada sesuatu yang hendak dilihat, sesuai program yang sedang berlangsung.

Kurang dari sebulan kemudian, ada teman yang lain yang juga dari ibukota yang memberi saran serupa, agar berjualan program wisata yang memiliki tema supaya tidak membosankan, bisa dua atau tiga tema selama setahun, dan kali ini bukan hanya di tingkat museum, tapi naik tingkat ke tingkat kota Palembang, bahkan provinsi Sumatera Selatan.

Serem.

Baiklah, sebelum ada teman yang ketiga dari ibukota datang dan menyarankan untuk membuat program wisata di tingkat nasional, maka saya segera memberikan tanggapan atas segala niat baik mereka itu.

Basmallah.

Palembang adalah kota Melayu yang kuat dipengaruhi budaya Arab dan Cina, dan akan menjadi sesuatu yang sangat menarik bila kekayaan budaya kota Palembang itu bisa dirayakan secara terbuka oleh setiap warga Palembang yang toleran, dengan tidak lupa mengundang warga dari kota dan Negara lain untuk ikut merayakannya di Palembang.

 

Festival Oriental

Pedagang Cina telah tiba di Palembang bahkan sebelum kedatuan Sriwijaya berdiri di Palembang, mereka berperan penting dalam memajukan perdagangan di Palembang sehingga membuat Palembang menjadi pelabuhan yang makmur dan kuat, dua modal utama yang membuat Palembang mampu tumbuh besar menjadi Kedatuan yang amat luas, penguasa lautan dan selat di Asia Tenggara.

Selama empat bulan pertama tahun 2017 diadakan perayaan bertema ‘Oriental’, kegiatannya akan dipusatkan di Kampung Kapitan sebagai kediaman pemimpin masyarakat Cina di kota Palembang. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan akan mengundang Kedutaan besar RRC untuk berpartisipasi di Festival Oriental ini, mereka mungkin bisa mengadakan pameran kebudayaan Cina di Kampung Kapitan, bisa membantu Rehabilitasi kampong Kapitan, bisa membantu menelusuri jejak para Kapitan Cina ke leluhur mereka di Cina daratan (yang akan berguna untuk melengkapi sejarah Kampung Kapitan), dan bisa juga menarik investor Cina untuk ber-investasi di Sumatera Selatan.

Empat bulan Festival Oriental ini akan diawali oleh perayaan Imlek di Pulau Kemaro pada tanggal 28 januari 2017, dilanjutkan di minggu-minggu berikutnya dengan acara:

  • Pameran sejarah masuknya Cina di Palembang di Museum Balaputra Dewa, kerjasama Museum Balaputra Dewa, Jalur Rempah, Kedubes RRC, dan Kedubes Singapura,
  • Seminar internasional Pengaruh budaya Cina di Palembang Kuno yang dilaksanakan di Museum SMB II yang disponsori oleh Kedutaan Besar Singapura,
  • Festival Shaolin dan Barong Sai di Pelataran Kampung Kapitan yang diikuti tim Barong Sai dari RRC, Singapura, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, dll. Acara ini dibantu oleh Kedutaan Besar Cina,
  • Pameran Sejarah Budaya Cina oleh Kedutaan Besar RRC yang dilaksanakan di Museum Balaputra Dewa,
  • Pekan Sejarah Cheng Ho di TPKS, kerjasama antara TPKS dengan Kedubes Singapura,
  • Pameran Pendidikan Tinggi di Singapura disertai dengan pemberian beasiswa bagi warga SumSel oleh Kedubes Singapura di Hotel,
  • Pameran Teknologi Cina dan MoU Investasi Cina di SumSel oleh Kedubes RRC yang dilakukan di Hotel,
  • Festival Kuliner Cina di Pelataran Kampung Kapitan, Kerjasama Pemerintah Provinsi SumSel dengan Kedubes Singapura,
  • Pelepasan 10.000 lampion, dilakukan di pelataran BKB dan jalan di sekitar kantor DPRD dan Kantor Walikota, diikuti oleh warga kota Palembang dan para turis, dan
  • Parade Garuda Sriwijaya oleh warga Cina di Palembang sebagai acara pamungkas Festival Sriwijaya, Kerjasama Paguyuban Etnik Cina di Palembang dengan Kedubes RRC.

Ini adalah rangkaian acara yang akan dilakukan selama Festival Oriental, mulai dari acara seminar ilmiah, sampai acara santai Kuliner, dan semuanya adalah kegiatan yang dapat digolongkan sebagai MICE yang bisa membantu menggerakkan ekonomi Palembang.

Ini belum termasuk kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan oleh komunitas-komunitas anak muda di kota Palembang.

Warga Palembang dan Pelaku Usaha di Kota Palembang selama Festival Oriental berlangsung dapat melakukan:

  • Menawarkan jasa City Tour kepada peserta dan pengunjung Festival Oriental, terutama paket tur yang mengunjungi tempat-tempat wisata yang berkaitan dengan Cina Palembang,
  • Menawarkan Merchandise khas Palembang dan SumSel kepada peserta dan pengunjung Festival Oriental,
  • Menyediakan jasa Home Stay bagi para Pelancong yang hendak menghadiri Festival Oriental, terutama dari warga Kampung Kapitan,
  • Menyediakan jasa sewa kendaraan bagi para peserta dan pengunjung Festival Oriental.

Namun selama itu tentu saja warga dan pelaku usaha harus melakukan:

  • Segenap anggota ASITA dan PHRI Menawarkan paket wisata Festival Oriental ini ke rekan usaha di luar kota dan luar negeri, terutama di Singapura, Hong Kong, Taiwan dan RRC,
  • PHRI dan ASITA mewajibkan para anggotanya untuk melengkapi karyawan lini depan mereka dengan aksesoris bercorak Oriental selama melayani tamu,
  • Warga Palembang mempromosikan Festival Oriental kepada rekan-rekan mereka di Luar kota melalui media sosial,
  • Maskapai Penerbangan menyediakan tariff khusus untuk penerbangan menuju Palembang dari Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan RRC selama Festival Oriental berlangsung.

Setelah 4 bulan Festival Oriental yang meriah, Festival ditutup dan dilanjutkan dengan Festival Arab, yang akan dilaksanakan selama 4 bulan selanjutnya.

 

Festival Arab

Orang Arab adalah etnik yang datang ke Palembang sejak masa kedatuan Sriwijaya, mereka berdagang di Palembang dan menjadi utusan Raja Sriwijaya ke negeri Cina.

Empat bulan kedua tahun 2017 Palembang akan merayakan Festival Arab yang akan dipusatkan di kampong Arab Al-Munawar dan sekitarnya.

Pemerintah Provinsi SUmSel dan Kota Palembang bisa merangkul Yayasan habaib dan mengundang Kedutaan Besar Uni Emirat Arab dan Qatar untuk berpartisipasi selama Festival Arab ini, terutama pada saat pelaksanaan Haul Kubro pada bulan Juni 2017.

Festival Arab akan dimulai dengan Lomba Penghafal Quran untuk anak-anak tingkat Provinsi yang diselenggarakan di Al Quran Akbar, Gandus, disusul di minggu-minggu berikutnya dengan:

  • Pameran Sejarah Arab Sebelum Islam di Museum Balaputra Dewa yang disponsori oleh Kedubes UEA, kerjasama antara Museum Balaputra Dewa dengan Museum Nasional Al-Ain,
  • Seminar Penyebaran budaya Arab di Palembang dan Sumatera Selatan di Museum SMB II, kerjasama museum SMB II dengan Jalur Rempah,
  • Seminar kebudayaan Arab dan penampilan marawis di Museum SMB II, kerjasama Museum SMB II dengan Kedutaan UAE,
  • Tabligh Akbar Tarekat Sammaniyah di Mesjid Agung Palembang (atau di mesjid Sriwijaya bila sudah selesai dibangun),
  • Haul Kubro, yang merupakan Acara Puncak Festival Arab,
  • Seminar Menelisik asal usul warga Arab di Palembang yang dilakukan di Kampung Arab Al-Munawar, kerjasama antara Pesantren ar-Riyadh, Yayasan habaib, dan Museum Nasional,
  • Festival Kuliner Arab di kampong Arab Al-Munawar,
  • Seminar Bisnis Oleh Investor Arab disertai MoU investasi Investor Arab di SumSel yang dilakukan di Hotel,
  • Seminar hubungan Kopi dan orang Arab di Museum Balaputra Dewa, kerjasama Museum Balaputra Dewa dengan Museum Nasional Al-Ain, dan
  • Festival Marawis yang dilakukan di kampong arab Al-Munawar.

Inilah beberapa kegiatan yang mungkin dilaksanakan selama Festival Arab, yang merangkul Kedubes Negara-negara Arab dan yayasan orang Arab di Indonesia.

Ini belum termasuk kegiatan yang akan dilaksanakan oleh berbagai komunitas relijius di kota Palembang.

Warga Palembang dan Pelaku Usaha di Kota Palembang selama Festival Arab berlangsung dapat melakukan:

  • Menawarkan jasa City Tour kepada peserta dan pengunjung Festival Arab, terutama paket tur yang mengunjungi tempat-tempat wisata yang berkaitan dengan Arab dan Islam di Palembang,
  • Menawarkan Merchandise khas Palembang dan SumSel kepada peserta dan pengunjung Festival Arab,
  • Menyediakan jasa Home Stay bagi para Pelancong yang hendak menghadiri Festival Arab, terutama bagi warga kampong Arab Al-Munawar,
  • Menyediakan jasa sewa kendaraan bagi para peserta dan pengunjung Festival Arab.

Namun selama itu tentu saja warga dan pelaku usaha harus melakukan:

  • Segenap anggota ASITA dan PHRI Menawarkan paket wisata Festival Arab ini ke rekan usaha di luar kota dan luar negeri, terutama di KSA, Qatar, UEA , Pakistan, dan Turki,
  • PHRI dan ASITA mewajibkan para anggotanya untuk melengkapi Frontliners mereka dengan aksesoris bertema Arab selama melayani tamu,
  • Warga Palembang mempromosikan Festival Arab kepada rekan-rekan mereka di Luar kota melalui media sosial,
  • Maskapai Penerbangan menyediakan tariff khusus untuk penerbangan menuju Palembang dari KSA, Qatar, UEA, Yaman, Irak, dan Mesir selama Festival Arab berlangsung.

Setelah 4 bulan Festival Arab, Festival ditutup dan dilanjutkan dengan Festival Melayu, yang akan dilaksanakan selama 4 bulan selanjutnya.

 

Festival Melayu

Melayu adalah kebudayaan yang disebarkan oleh kedatuan Sriwijaya yang beribukota di Palembang, dan kelak salah satu keturunan raja Sriwijaya akan meninggalkan Palembang untuk mendirikan kerajaan di semenanjung melayu, yang lalu menurunkan berbagai sultan di se-antero dunia melayu.

Tahun 2017 ini orang-orang Melayu sedunia akan merayakan kebudayaan mereka di tanah kelahirannya, Palembang.

Selama empat bulan terakhir tahun 2017 akan dilaksanakan Festival Melayu yang akan dipusatkan di Pelataran Benteng Kuto Besak.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang dalam menyelenggarakan Festival Melayu ini bisa merangkul yayasan Dunia Melayu Dunia Islam, juga Kedutaan Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam sebagai sponsor untuk beberapa acara yang akan menyemarakkan Festival Melayu.

Festival Melayu akan dibuka dengan Festival Tari Melayu yang akan menyajikan berbagai tari Melayu dari:

  • Aceh ,
  • Sumatera Utara,
  • Riau,
  • Riau Kepulauan,
  • Sumatera Barat,
  • Jambi,
  • Sumatera Selatan,
  • Bangka Belitung,
  • Lampung,
  • Kalimantan Barat,
  • Negara Singapura,
  • Negara Malaysia,
  • Negara Brunei Darussalam,
  • Negara Filipina, dan
  • Kerajaan Thailand.

Festival Tari Melayu ini bertempat di Pelataran Benteng Kuto Besak, dilanjutkan di minggu-minggu setelahnya berupa acara:

  • Seminar Budaya Melayu di Asia tenggara dan Dunia, bertempat di Museum Balaputra Dewa, kerjasama antara Museum Balaputra dengan Museum Nasional, Kedubes Singapura dan Malaysia,
  • Festival Gurindam, bertempat di Pelataran Museum SMB II, kerjasama antara Museum SMB II dengan kedubes Malaysia,
  • Festival Teater Melayu, digelar di Pelataran Benteng Kuto Besak, kerjasama antara Dewan Kesenian Kota Palembang dengan Dewan Kesenian dari berbagai provinsi,
  • Seminar Bahasa Melayu, digelar di Museum Balaputra Dewa, kerjasama antara Balai Bahasa Palembang dengan Dewan Bahasa Malaysia dan Dewan Bahasa Brunei,
  • Seminar Parameswara sang Bapak Para Sultan Melayu, bertempat di Museum Balaputra Dewa, kerjasama antara Museum Balaputra Dewa dengan Kedubes Malaysia dan Singapura,
  • Seminar Palembang Kuno, bertempat di TPKS, kerjasama antara TPKS dengan Balai Arkeologi Palembang, Balai Arkeologi Nasional, dan BMKG,
  • Festival Kuliner Melayu, bertempat di pelataran Benteng Kuto Besak, kerjasama antara Pemkot Palembang dengan berbagai Pemkot di sumatera dan Kalimantan, dan Kedubes Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina,
  • Pawai Budaya Melayu, sebagai acara puncak Festival Melayu, diselenggarakan di Kantor Walikota Palembang sampai Pelataran Benteng Kuto Besak.

Inilah beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan selama Festival Melayu yang merangkul Kedubes Negara-negara dengan penduduk Melayu dan yayasan Dunia Melayu Dunia Islam.

Deretan acara ini belum termasuk berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh komunitas-komunitas yang ada di kota Palembang.

Warga Palembang dan Pelaku Usaha di Kota Palembang selama Festival Melayu berlangsung dapat melakukan:

  • Menawarkan jasa City Tour kepada peserta dan pengunjung Festival Melayu, terutama paket tur yang mengunjungi tempat-tempat wisata yang berkaitan dengan Sejarah Melayu di Palembang,
  • Menawarkan Merchandise khas Palembang dan SumSel kepada peserta dan pengunjung Festival Melayu,
  • Menyediakan Jasa Home Stay bagi para Pelancong yang hendak menghadiri Festival Melayu, terutama bagi warga kampong Firma dan Kampung Kemas,
  • Menyediakan jasa sewa kendaraan bagi para peserta dan pengunjung Festival Melayu.

Namun selama itu tentu saja warga dan pelaku usaha harus melakukan:

  • Segenap anggota ASITA dan PHRI Menawarkan paket wisata festival Melayu ini ke rekan usaha di luar kota dan luar negeri, terutama di KSA, Qatar, UEA , Pakistan, dan Turki,
  • PHRI dan ASITA mewajibkan para anggotanya untuk melengkapi Frontliners mereka dengan aksesoris bertema Melayu selama melayani tamu,
  • Warga Palembang mempromosikan Festival Melayu kepada rekan-rekan mereka di Luar kota melalui media sosial,
  • Maskapai Penerbangan menyediakan tariff khusus untuk penerbangan menuju Palembang dari Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina selama Festival Melayu berlangsung.

Setelah 4 bulan Festival Melayu, Festival ditutup seiring berakhirnya tahun 2017, dan Sumatera Selatan bersiap memasuki tahun yang baru, tahun olahraga, tahun 2018, dimana Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sudah menyiapkan kalender wisata catur wulan untuk memperkuat branding Palembang sebagai Kota Olahraga dan menyemarakkan  Asian Games 2018 yaitu Festival Permainan Tradisional, Festival Olahraga Ekstrim, dan Festival Olahraga Air.

Demikianlah tulisan ini dibuat agar pariwisata Sumatera Selatan makin semarak.

Orang-orang bisa berkunjung ke museum tiga kali dalam setahun, mereka datang setiap pergantian tema pameran.

Turis bisa datang tiga kali setahun ke Palembang, datang untuk melihat tema terbaru wisata Palembang.

Agar kunjungan wisata terus berlangsung sepanjang tahun.

Agar warga Palembang bisa memanfaatkan peluang usaha minimal tiga kali dalam setahun, peluang usaha tiap kali turis datang.

Dan pada akhirnya, saya bisa duduk kembali bersama teman dari ibukota, di pojok sebuah kedai milik orang India dan menanti dia memberikan saran bagus lain sambil menyantap roti canai, lalu membayangkan, orang-orang dari India datang ke Palembang karena ingin tahu bagaimana kebudayaan yang mereka banggakan bisa hidup di negeri seberang lautan.

Pelesiran Palembang

Perut kenyang setelah lebaran yang penuh makanan baiknya memang diajak jalan-jalan, supaya tidak terlalu buncit, atau jika perut buncit setidaknya jantungnya sehat, ya, cita-citanya begitu.

Sabtu pagi itu saya sudah sarapan mie ayam di dekat Museum Balaputradewa, ini dilakukan demi jantung sehat di dalam perut buncit, dan juga untuk menyambut teman-teman pejalan dari jakarta, yang juga, buncit.

Tiba di Museum Balaputradewa, kami langsung disambut oleh para wanita cantik yang mengalungkan semacam Phasmina yang terbuat dari kain jumputan, kain khas Sumatera Selatan. Lalu kami dibawa berjalan-jalan keliling Museum, melihat berbagai arca, megalit, dan prasasti yang ditemukan di Sumatera Selatan, melihat masa purba di Sumatera Selatan, lalu ke masa pra-Sriwijaya, masa Sriwijaya, masa kolonial Belanda, dan masa kemerdekaan RI.

Berkeliling museum Balaputradewa ini membuat saya kagum atas kekayaan sejarah Sumatera Selatan, yang seharusnya bisa membuat warganya bangga lalu melestarikannya, dan terlebih lagi, ini adalah modal yang sangat besar untuk bersaing dalam dunia pariwisata.

Pelesiran di Museum Balaputradewa diakhiri di rumah Limas yang berada di bagian belakang lingkungan museum, rumah yang ada di dalam uang kertas 10.000, rumah besar yang terbuat dari kayu dengan berbagai ukiran menghiasi bagian dalamnya, disertai perabot antik dari masa kolonial Belanda, dan tidak lupa, sebuah meja makan yang penuh pempek.

IMG20160716101900

Rumah Limas di Lingkungan Museum Bala Putra Dewa

 

Bangunan lain yang menarik di Museum Balaputradewa adalah rumah khas penduduk pedalaman Sumatera Selatan, letaknya ada di sisi timur rumah Limas. Rumah ini terbuat dari kayu yang bagian lantainya adalah potongan bambu yang disusun renggang di atas kerangka kayu yang ditopang oleh beberapa kayu bulat utuh sepanjang sekitar 15 meter, kayu-kayu ini diletakkan melintang di atas beberapa tonggak kayu yang juga terbuat dari kayu bulat utuh setinggi sekitar 1,5 meter, dan tonggak kayu ini tidk langsung menyentuh tanah, melainkan ditegakkan di atas tatakan yang terbuat dari batu cadas.

IMG20160418160454.jpg

Ukiran Pada Rumah Talang, Tiang Penopang Rumah ditegakkan di atas Batu.

 

Teknik pembangunan seperti ini membuat rumah kayu ini menjadi tahan guncangan gempa. Luar biasa!

ini yang namanya kearifan lokal.

Perjalanan selanjutnya dimulai dari jalan Sekanak, sebelah barat Benteng Kuto Besak, jalanan ini dipenuhi bangunan tua, seperti bangunan kayu yang merupakan pertokoan Cina dari awal abad 20, saat Palembang masih diurus oleh Belanda, masa yang sama juga mewariskan banyak bangunan batu di sepanjang jalan Sekanak yang gaya arsitekturnya serupa dengan bangunan semasa dari kota Singapura, Malaka, dan Georgetown, bila di tiga tempat itu bangunan tua yang serupa bisa dijadikan objek wisata, seharusnya bangunan-bangunan di Sekanak juga bisa.

Dari tempat kami memarkirkan kendaraan di dekat kantor PT Hok Tong, kami berjalan menuju pasar Sekanak yang sedang ramai oleh pekerja angkut yang mengeluarkan buah kelapa kering dari kapal kayu besar yang membawanya dari pesisir timur Sumatera Selatan, daerah yang banyak terdapat perkebunan kelapa.

Inilah denyut nadi kota Palembang yang asli, perdagangan di pasar di tepi sungai Musi, yang berlangsung sejak awal berdirinya kota Palembang, seperti yang pernah dikunjungi oleh I-Tsing pada tahun 671 M, seperti Palembang yang dikunjungi pedagang India, Arab, dan Persia sejak 1.400 tahun yang lalu, seperti pasar Sekanak ini sekarang, yang ada sejak awal tahun 1900-an, semoga denyut nadi ini terus berlangsung.

Sekanak dengan jalannya yang lebar dan termasuk sepi, harus kami tinggalkan untuk segera menuju pulau Kemaro. Pulau Kemaro dengan Pagodanya yang terkenal adalah tempat yang indah, tapi, perjalanan menyusuri sungai menuju ke pulau Kemaro tidak kalah serunya. Dari atas perahu kayu yang bergerak pelan dan mengayun setiap terkena gelombang, mata yang menjadi berat ini memperhatikan gerak kehidupan di tepian Musi, orang-orang yang memperbaiki perahu, yang menjala ikan, yang berjualan solar untuk motor perahu, anak-anak yang mandi sambil bermain di air, sampai ke acara hajatan yang digelar di atas kapal tongkang, luarbiasa! Aktif sekali!

IMG20160717123348

Kios di Rumah Rakit di Sungai Musi

IMG20160717123453

Memperbaiki Jala

IMG20160717123925

Hajatan di Kapal Tongkang

IMG20160717124054

Anak-anak Bermain di Sungai Musi

 

Dari pulau Kemaro kami menyeberang ke kampung Arab al-Munawar, untuk menyaksikan kebudayaan Arab yang berpadu dengan budaya Palembang yang melayu. Al-Munawar dipenuhi dengan bangunan tua yang anggun, tempat yang cocok sekali untuk mereka yang mencari lokasi berfoto dengan nuansa masa lalu yang megah. Wah.

IMG20160601160037

Salah Satu Rumah Besar yang tua di Kampung Arab Al-Munawar

 

Saat kami tiba disana ternyata sedang ada acara pernikahan berlangsung, sehingga kami sempat menyaksikan sendiri kejadian penting itu, menyenangkan, ramai, penuh kesibukan, disertai dengan hiruk pikuk tetabuhan, seru.

Di ujung acara, kami diajak makan oleh pihak tuan rumah, tentu saja makan dengan cara Arab, satu nampan besar berisi nasi minyak dengan topping sepotong besar daging kambing bakar dan goreng, makan besar ya Allah. Ini adalah suasana makan bersama yang berkesan sekali, ramai-ramai bersama-sama, mengambil nasi di nampan yang sama, berebut lauk, berbagi daging kambing bakar, senang sekali, sampai-sampai teman-teman dari Jakarta berniat mengulang lagi makan seperti ini, mantap!

IMG20160717135748

Makan Enak di Kampung Arab Al-Munawar

 

Tujuan selanjutnya adalah kota olahraga Jakabaring, yang lebih dikenal dengan sebutan JSC, kependekan Jakabaring Sport City. JSC adalah daerah olahraga terpadu yang terdiri dari berbagai venue untuk berbagai olahraga, ada kolam renang, lapangan sepak bola, lapangan atletik, lapangan tenis, beladiri, menembak, sampai danau buatan untuk pertandingan kano.

Setelah sempat berkeliling ke arena menembak, danau buatan dan kolam renang, akhirnya kami tiba di stadion sepakbola, bangunan terbesar di lingkungan JSC, sekaligus yang paling dikenal karena menjadi markas klub sepakbola Sriwijaya FC. Disana kami diajak memasuki ruang konferensi pers yang baru dibangun, ruang khusus bagi insan pers yang hendak meliput pertandingan sepakbola di JSC.

Ruangan yang khusus dibangun untuk pers di lingkungan stadion seperti ini adalah yang pertama ada di Indonesia, ruangan pers biasanya ruangan biasa yang dipakai hanya menjelang pertandingan dilaksanakan, tapi di JSC berbeda, ruangan pers dibuat khusus dan hanya dipakai oleh insan pers, salut!

IMG20160718110249

Ruang Pers di Stadion Gelora Sriwijaya

 

Ruangannya memiliki AC, beberapa baris kursi untuk wartawan yang dilapisi kulit dengan bordir logo SFC, barisan kursi untuk tim yang bertanding, dan semua kursi dilengkapi dengan mikrofon, ditambah dengan lantai yang memakai rumput sintetis, suasana sepakbola-nya terasa sekali dalam ruangan ini.

Setelah puas menikmati suasana ruang pers, kami diajak melihat ruang ganti pemain, Ruangannya luas dilengkapi dengan loker untuk masing-masing pemain, lalu ada wastafel dan kamar mandi. Ruang ganti pemain ini ada empat buah, sehingga bila ada dua pertandingan berurutan maka masing-masing tim punya Ruangannya sendiri tanpa perlu buru-buru berberes untuk bergantian memakai ruang ganti. Dari ruang ganti kami menuju ke lapangan sepakbola, dan iya, lapangannya luas dan ada banyak rumput dan dikelilingi tribun, berdiri di tengah lapangan dan memandang sekeliling, terasa ada aura megah yang membuncah dalam hati yang terdalam, tsahh.

Setelah puas berkeliling di JSC, kami yang kelelahan dan kelaparan ini akhirnya menuju ke sebuah rumah makan yang menjual pindang, makan enak sudah di depan mata, setibanya disana kami memesan berbagai jenis pindang, termasuk pindang telur ikan gabus dan pindang udang, dan saat semua pindang telah tersaji, kami semua tidak bisa lagi menahan diri, langsung saja kami memotret semua makanan itu, semuanya!

Seperti kata mbak Chika, “Blogger itu makan makanan dingin”, karena saat makanan datang dalam keadaan hangat, mereka sibuk foto-foto.

Tapi, makanan enak tetap saja enak, mau hangat atau dingin, karena itu setelah puas foto-foto kami langsung menyantap pindang dan pempek yang terhidang, kenyang!

Saat perut kenyang dan mata mulai berat, kami segera bergegas sebelum tertidur, menuju ke daerah Kambang Iwak untuk mengikuti Pawai Budaya yang merupakan acara pertama dalam rangkaian acara pembukaan Festival Sriwijaya 2016. Setibanya disana, kami langsung disambut dengan barisan anak muda dalam berbagai kostum warna Warni yang meriah. Pesta akan segera dimulai!

Malamnya kami semua berkumpul di pelataran Benteng Kuto Besak untuk menghadiri acara puncak pembukaan Festival Sriwijaya 2016, acara ini dibuka langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan, disaksikan oleh segenap kepala daerah tingkat II yang diundang. Sebuah acara pembukaan yang indah, dibelakang panggung yang warna warni oleh lampu, ada jembatan Ampera yang megah dengan cahaya lampu yang warna warni pula, sungguh-sungguh malam yang penuh warna. Megah.

Dalam sambutan pembukaannya, bapak gubernur Sumatera Selatan menyampaikan beberapa kemajuan yang telah dicapai Sumatera Selatan, juga mengingatkan kepada warga Sumatera Selatan mengenai keagungan sejarah Sumatera Selatan, yang paling menarik adalah saat beliau mengatakan bahwa Candi Buddha terbesar di Asia Tenggara dibangun oleh Sriwijaya, iya benar, Candi Borobudur dibangun oleh dinasti Syailendra dari Kedatuan Sriwijaya.

Dalam kemeriahan pesta pembukaan itu, diantara orang-orang yang menikmati keriuhan, saya menatap jembatan Ampera, menatap Benteng Kuto Besak, menatap Kampung Kapitan dari kejauhan, saya bersyukur telah lahir dan besar di tempat seperti ini, tempat yang mewariskan sejarah panjang peradaban manusia, warisan yang sangat beharga, kepada penduduknya sekarang.

Semoga kami bisa terus menjaga harta beharga ini, terus menghidupi kebudayaan agung ini, dan mewariskannya kepada anak cucu kami nanti.

RT 71

Ada RT 71, dan mereka memiliki arisan bulanan, hari ini arisan digelar di rumah pak Joyo, semua tetangga sudah hadir di rumah pak Joyo, pak RT sudah membuka acara, tapi pak Joyo tidak ada di rumah, sehingga arisan RT di rumah pak Joyo dilaksanakan tanpa kehadiran pak Joyo si pemilik rumah.

Canggung.

Tahun ini Festival Sriwijaya digelar di kota Palembang dan dibuka tanpa dihadiri tuan kota. Festival Sriwijaya adalah kegiatan yang menghibur warga kota Palembang, yang menggerakkan ekonomi kota Palembang, yang membuat orang berkunjung ke kota Palembang, Palembang tidak mengeluarkan uang, dan walikota Palembang tidak hadir di pembukaannya.

Besar sekali rasa bersyukur yang ditunjukkan oleh walikota Palembang.

Setelah memperhatikan tujuan wisata yang ada di kota Palembang, semuanya tampak menyedihkan, banyak sampah, dan orang-orangnya tidak siap melayani pengunjung. Pemimpin mencerminkan masyarakat yang mereka pimpin.

Tanggung jawab kita bersama untuk mendidik masyarakat agar menjadi lebih baik sehingga bisa menghasilkan pemimpin yang lebih baik.

Untuk Palembang Jaya.

Palembang dan Melayu

“Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan… setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Shih-li-fo-shih”

Kutipan diatas diambil dari catatan perjalanan seorang pendeta Buddha dari Cina yang hendak menuju India, namanya I-tsing, dan negeri shih-li-fo-shih yang dia maksud adalah Sriwijaya, sekarang dikenal sebagai Palembang, kota luarbiasa di tepi sungai Musi yang hebat.

Sejak saat itu Sriwijaya terus berkembang, menaklukan berbagai pelabuhan lain di sisi barat dan timur selat malaka, menguasai kota pelabuhan yang makmur seperti Melayu dan Kedah, dan membuat Sriwijaya menjadi satu-satunya kekuatan pengendali perdagangan di selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Sriwijaya juga menjadi pihak yang bertanggung jawab atas penyebaran kebudayaan Melayu di segenap wilayah yang dia kuasai, dari Semenanjung Melayu sampai ke Jawa bagian tengah.

Kebudayaan Melayu sendiri terbentuk jauh sebelum Sriwijaya, merupakan percampuran berbagai budaya yang terlibat dalam perdagangan di selat Malaka dan laut Cina Selatan selama bertahun-tahun. Bahasa Melayu menjadi bahasa perdagangan di pelabuhan-pelabuhan itu, termasuk di pelabuhan Sriwijaya, dan saat Sriwijaya melakukan perluasan wilayah, mereka membawa bahasa dan budaya Melayu bersama mereka.

Pada pertengahan abad ke-12 Sriwijaya Memudar, pelabuhan Melayu di Jambi sedang bersinar, sayang untuk masa yang sebentar karena kerajaan Melayu memindahkan ibukota mereka ke pedalaman, menjauhi pesisir yang ramai dengan perdagangan.

Sriwijaya runtuh, pamor Palembang memudar untuk sesaat sebelum bangkit lagi, posisi pelabuhan Palembang yang strategis, terlindung dengan baik dan dekat dengan jalur perdagangan laut yang ramai membuatnya menjadi tempat yang sempurna bagi pusat operasi para bajak laut.

Lambat laun pelabuhan Palembang kembali ramai dikunjungi kapal dagang, banyak pedagang Cina dan Arab yang menetap di Palembang. Palembang kembali menjadi salah satu pusat perdagangan di Sumatera.

1397 M, Palembang dilanda huru-hara besar, seorang pangeran keturunan raja-raja Sriwijaya terpaksa melarikan diri dari Palembang menuju tumasik, sempat menetap dan berkuasa disana sebelum akhirnya mengungsi lagi ke pesisir barat semenanjung melayu, di tempat yang sekarang bernama Malaka.

Bersama dirinya, sang Pangeran Palembang membawa kebudayaan melayu kemanapun dia pergi, dan menurunkan trah melayu ke berbagai raja dan sultan di dua tepi selat malaka dan laut Cina selatan.

Pada tahun 1403 M Armada Kekaisaran Cina tiba di laut Cina selatan, Laksamana Cheng Ho yang memimpin Armada tersebut nyaris menjadi korban bajak laut yang bermarkas dan mengendalikan Palembang, membuat dia memimpin operasi untuk menangkap si bajak laut dan membawanya ke hadapan kaisar, disana si bajak laut dijatuhi hukuman mati pada tahun 1407 M.

Kekaisaran Cina lalu menunjuk seorang Cina Palembang yang membantu Laksamana Cheng Ho sebagai wakil resmi Kekaisaran Cina di Palembang pada tahun 1407 M, tugas utamanya mengurusi perdagangan yang dilakukan oleh warga Cina di Palembang.

Tahun 1411 M Laksamana Cheng Ho memboyong raja Malaka, Pangeran Palembang, ke Cina untuk menghadap Kaisar dan menerima pengakuan sebagai raja Malaka.

Dalam sejarah, dua kali Palembang menjadi titik tolak penyebaran budaya melayu, pada Sriwijaya dan Parameswara. Dalam sejarah pula Palembang menunjukkan ketangguhannya untuk selalu bangkit dari keterpurukan, selalu menjadi pusat bagi wilayah di sekitarnya.

Mungkin sudah saatnya pula kini Palembang bangkit dan memimpin dunia melayu, mungkin sudah tiba waktunya Palembang menjadi pusat kebudayaan melayu sedunia.

Sriwijaya dan Parameswara berasal dari Palembang, tiada yang mampu membantah, kita memang pusat dunia melayu, itu sebabnya keluarga kesultanan di Malaysia selalu berziarah ke Palembang,karena mereka tahu, melayu itu di Palembang, melayu adalah Palembang.

Jika Yogyakarta bisa mengaku sebagai pusat budaya jawa, maka sangat layak bila Palembang mengaku sebagai pusat budaya Melayu, sedunia.

Dalam melayu semua budaya berpadu, membuatnya kaya, membuatnya bangga.

Palembang Pusat Dunia Melayu.

Sabtu Seru Main Banyu

Hari yang menyenangkan adalah hari di akhir pekan yang dimulai dengan cahaya matahari pagi yang menerangi bumi dengan sedikit awan yang menghalangi sambil bercengkrama bersama teman-teman di tempat yang modern tapi sejuk seperti di Citra Grand City.

Ya, sabtu yang cerah itu dimulai dengan berkumpul bersama teman-teman sesame netizen yang memenuhi undangan kumpul bareng dari Manajemen Citra Grand City. Tiba di perumahan Citra Grand City yang dipenuhi pepohonan besar, kami disambut dengan ramah oleh tuan rumah, lalu acara dimulai dengan pemutaran video profil perusahaan Ciputra sebagai pengembang Citra Grand City.

IMG20160430092916

Suasana Perkenalan Netizen dan Sambutan dari CGC

 

Video itu menunjukkan konsep eco culture yang diusung oleh Ciputra yang nampaknya diterapkan dengan baik di Citra Grand City, karena jalan utama di perumahan ini dihiasi banyak pohon besar yang membuat suasana menjadi nyaman karena teduh dan udaranya sejuk, cocok sekali untuk yang hendak jogging dan bersepeda, atau sekedar berjalan kaki sambil menghirup udara segar.

Berbeda dengan di kambang iwak yang dipenuhi pedagang sehingga membuat mereka yang hendak berolahraga terdesak dan yang hendak mencari udara segar kecewa karena banyaknya asap kendaraan, anda akan bisa berolahraga dengan tenang di Citra Grand City (selanjutnya disebut CGC) dan tentu saja, karena bukan jalan umum, tidak banyak kendaraan yang mengeluarkan CO2 berkeliaran disini.

Sempurna.

Setelah pemutaran video dan Sambutan dari Bapak Gunadi Wirawan sebagai Project Director CGC dan bapak Asa Perkasa sebagai Sekjen IMA Chapter Palembang, netizen digiring menuju tempat pengelolaan sampah dan perawatan lingkungan milik CGC, nama tempatnya adalah ‘Rumah Kompos dan Nursery’.

IMG20160430103104

Rumah Kompos dan Nursery di CGC

 

Di Rumah Kompos kami diberi penjelasan mengenai cara CGC mengelola sampah mereka yang setelah melalui serangkaian proses akan menghasilkan produk akhir yang berguna, yaitu pupuk dan pupuk ini dijual kepada warga yang berminat, dan karena ini adalah pupuk alami, pupuk ini layak anda beli. Tanpa zat kimia loh!

Rumah Kompos dan Nursery ini menjadi bukti kedua bahwa visi eco culture diterapkan di CGC.

IMG20160430104048

Penanaman Bibit Pohon Oleh Netizen Palembang

 

Saat di Rumah Kompos dan Nursey ini para Netizen diajak untuk menanam bibit pohon, ini mungkin akan menjadi andil kami dalam mendukung dan menyukseskan penerapan visi Eco Culture di CGC.

 

Dari Rumah Kompos dan Nursery, kami bergerak ke tujuan terakhir, yaitu, Amanzi Waterpark, tidak bisa diragukan, ini adalah wahana permainan air yang terbaik yang ada di kota Palembang saat ini, sangat menyenangkan bisa menutup acara yang bermanfaat ini dengan pesta air yang seru di Amanzi Waterpark.

IMG20160430111758

Amanzi Waterpark, Yeay!

 

Saya bisa menulis banyak hal keren tentang amanzi ini tapi tidak akan bisa mengalahkan pengalaman anda sendiri bila mencoba datang kesini, sehingga saya sarankan anda untuk datang main air ke Amanzi, jika kuatir akan ramai orang di akhir pekan, anda bisa datang di hari kerja agar maksimal dalam menikmati wahana air disini.

Tapi anda tidak bisa datang hari senin karena amanzi melakukan pembersihan wahana setiap hari senin, bahkan walaupun anda datang dengan niat hendak membantu bersih-bersih, tetap saja tidak boleh, datang hari selasa saja ya.

Demikianlah hari yang meyenangkan ini diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan ditutup dengan acara yang seru.

Puas. Kerja bagus dari Tuan Rumah CGC.

5 Hari 5 Malam 5 Tempat

1 Januari 1947 adalah hari pertama perang semesta yang melibatkan seluruh warga Palembang melawan pasukan pendudukan Belanda, bahkan bukan hanya warga kota Palembang, perang ini juga mengundang ratusan pejuang dan tentara dari bagian lain sumatera Selatan, seperti Lahat, Prabumulih, bahkan dari kota Lampung.
Berikut ini adalah 5 Tempat yang harus anda kunjungi karena inilah tempat dimana kejadian penting selama perang berlangsung.

Bundaran Air Mancur
Lokasinya berada di dekat mesjid Agung Palembang, saat perang berlangsung kolam air Mancur ini belum ada, tempatnya dahulu hanya berupa jalan lebar yang di beberapa bagiannya dijadikan pos jaga oleh TRI (Tentara Republik Indonesia) dan laskar-laskar rakyat. Pada tanggal 1 Januari 1947, beberapa tentara Belanda yang baru saja selesai merayakan pesta tahun baru mengemudikan jip dalam keadaan mabuk dan melaju keluar markas mereka di dalam Benteng Kuto Besak menuju ke arah Mesjid Agung, disana mereka mengeluarkan tembakan yang dibalas oleh anggota laskar yang sedang bertugas menjaga pos, ini lah awal dari perang selama 5 hari 5 malam di Palembang.

Pasar Cinde
1 km ke arah utara Mesjid Agung Palembang, terdapat pasar Cinde, pada masa perang 5 Hari 5 Malam, pasar Cinde masih berupa pasar kecil yang merupakan bagian dari Terminal angkutan luar kota, pasar yang lebih besar disitu adalah pasar Lingkis. Pada hari kedua pertempuran, pasukan Belanda dari Benteng Kuto Besak hendak menerobos kepungan pasukan TRI dan laskar atas Rumah Sakit Charitas (yang saat itu dijadikan markas pasukan elit Belanda), Belanda berhasil menerobos barikade di dekat mesjid Agung Palembang dan dekat IP sebelum akhirnya tertahan di pasar Lingkis, namun Belanda berhasil melalui hadangan TRI dan laskar dan sampai ke RS Charitas walaupun satu truk mereka terbakar dan beberapa tentara tewas.
Di hari berikutnya, pasukan Belanda dari Charitas keluar menaiki tank panser dan menyerang posisi pasukan TRI dan laskar di pasar Lingkis, lagi-lagi berusaha untuk menghancurkan posisi pengepungan, namun TRI dan laskar berhasil bertahan, dalam hujan peluru dari tank dan panser mereka bersembunyi di balik puluhan makam keluarga Sultan Palembang yang berada di dekat pasar Lingkis, perang yang terjadi sangat dekat sampai-sampai anggota laskar bisa menaiki panser dan melemparkan bom molotov. Pasukan Belanda akhirnya mundur, masuk kembali ke markas mereka di RS Charitas. Mereka gagal.

image

RS Charitas
Rumah sakit Charitas didirikan pada tanggal  9 Juli 1926 oleh Konggregasi Suster Santo Fransiskus Charitas Roosendaal dari Negeri Belanda, saat pasukan Belanda kembali masuk ke Palembang, mereka mengambil alih pengelolaan RS dan mengubahnya menjadi markas pasukan Gajah Merah yang merupakan pasukan komando Belanda yang disegani.
Selama perang 5 hari 5 malam, rumah sakit Charitas selalu dalam keadaan terkepung, pasukan bantuan TRI dari Prabumulih yang dipimpin oleh Mayor Dani Effendi secara khusus ditugasi untuk mengepung Charitas dibantu oleh pasukan TRI lain dan laskar-laskar. Pada hari keempat pasukan Belanda di RS Charitas telah kehabisan amunisi dan akhirnya mengibarkan bendera putih. Ini menjadi satu-satunya posisi pasukan Belanda yang mengibarkan bendera putih selama perang 5 hari 5 malam. Kemenangan besar bagi pasukan TRI dan laskar.

Bagus Kuning
Bagus Kuning adalah perumahan para pekerja perusahaan minyak yang diubah menjadi markas pasukan Belanda, pada hari ketiga, pasukan TRI dibantu dengan berbagai laskar melakukan serangan umum dan berhasil mengusir pasukan Belanda. Pasukan Belanda lari ke atas kapal mereka dan menuju ke tengah sungai Musi, menjauh dari jarak tembak senjata pasukan TRI.
Peristiwa ini adalah kemenangan yang sangat penting selama perang 5 hari 5 malam di Palembang, berita kemenangan ini menyebar ke semua pasukan yang sedang bertempur habis-habisan dibawah bombardier angkatan udara dan angkatan laut Belanda dan berhasil membangkitkan kembali semangat mereka.

Plaju
Pada tahun 1930, BPM yang merupakan anak perusahaan minyak asal Belanda, Shell, mendapat izin mendirikan kilang minyak di Plaju, membuat Plaju menjadi tempat yang penting dalam perang selama tahun 1930-1945 di Asia Tenggara, bukan hanya karena minyak adalah komoditas perdagangan yang penting namun juga karena minyak sangat diperlukan untuk menjalankan mesin perang seperti jet serbu dan tank panser.
Pada saat berlangsungnya perang 5 hari 5 malam di Palembang, Belanda telah memperkuat pertahanan mereka di sekitar kilang minyak dan perumahan karyawan BPM, sehingga membuat pasukan TRI dan laskar yang mengepung kesulitan untuk masuk. Komandan pasukan TRI yang mengepung Plaju lalu melaksanakan serbuan umum, Letnan Satu Abdullah memimpin sendiri pasukan gabungan TRI dan laskar, dia berada di garis terdepan pertempuran, menjadi contoh bagi para prajurit yang dia pimpin, serangan nampaknya akan berhasil menerobos garis pertahanan musuh sampai saat peluru sniper Belanda mengenai tubuh Letnan Satu Abdullah, tubuhnya terkapar saat hendak berlari maju memimpin pasukannya menyelinap di dekat gereja Plaju, tubuhnya jatuh di tempat terbuka, sehingga anak buahnya tidak bisa langsung menyelamatkan karena rentan ditembak pasukan Belanda. Setelah beberapa saat, dibawah tembakan perlindungan yang bertubi-tubi akhirnya jenazah letnan satu Abdullah berhasil diselamatkan, dia lalu dimakamkan di sekitar pertigaan simpang Kayu Agung, Plaju. Sebagai penghormatan atas aksi heroiknya, pangkat Letnan satu Abdullah dinaikkan setingkat menjadi Kapten dan namanya diabadikan sebagai nama jalan yang menuju ke kilang minyak Plaju.

image

Prasasti Mengenang Gugurnya Letnan Satu Abdullah

Inilah 5 Tempat yang wajib dikunjungi bagi teman-teman yang ingin tahu mengenai sejarah pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang.

Seru kan? Ayo kunjungi!

Museum Bahari Sriwijaya

“saya pernah kerja di Cina, waktu mau pindah ke Palembang, teman-teman langsung googling tentang Palembang, mereka bilang Palembang itu ndak ada apa-apa, kotanya disebut ciu-cang, kota markas bajak laut”

Tawa saya nyaris meledak setelah mendengar kalimat ini, kalimat ini lucu karena disampaikan dengan jujur, kejujuran yang pahit, dan saya menertawakan itu, tawa getir.

Palembang memang pernah dikelola oleh bajak laut dan Cheng Ho mampir ke Palembang salah satunya dalam rangka membersihkan jalur dagang di selat malaka dari gangguan para bajak laut yang saat itu bermarkas di… yak betul, Palembang.

Namun jauh sebelum Cheng Ho mampir ke Palembang dan menangkap perompak bernama Chen Zu Yi pada tahun 1407, pada tahun 1349 kronik Cina telah mencatat laporan dari para pedagang yang baru pulang dari Palembang bahwa kota itu dikuasai oleh seorang perompak dari Guang Zhou, bernama Liang Dao Ming,

Setelah pembersihan oleh Cheng Ho, pada tahun 1560 kronik Cina mencatat mengenai seorang penjahat asal Guandong yang pensiun dari dunia kejahatan di Guandong lalu menetap di Palembang, di Palembang dia menjadi pedagang kaya raya dan diangkat menjadi kapitan.

Namanya Zhang Lian, apakah dia juga kepala perompak? Belum diketahui, tapi masa dia di Palembang berdekatan dengan masa pendirian kerajaan Palembang pada tahun 1547 oleh Pangeran Sido Ing Lautan (imigran dari Jawa tengah) bersama Dipati Karang Widara, anak keturunan Demang Lebar Daun, penguasa lokal Palembang saat itu.

Saat itu Palembang mulai kembali menjadi pusat perdagangan di kawasan selatan pulau Sumatera, terimaksih kepada Lada dari Bangka dan dari pedalaman Sumatera, daerah di hulu sungai musi, ulu musi, yang membuat perdagangan di Palembang kembali bergairah dan mendatangkan kekayaan sehingga menarik perhatian penguasa lain untuk menguasai Palembang, pada tahun 1596 Banten datang menyerang dan berhasil dikalahkan, selanjutnya pada tahun 1658 Cornelius Ockerse memimpin armada VOC dari Batavia menyerang Palembang, dan seperti Banten, mereka pun gagal.

Khusus untuk Belanda, mereka melakukan serangan ke Palembang pada tahun 1658, 1659, dua kali pada tahun 1819, dan sekali pada 1821, pada serangan terakhir barulah Belanda mampu menaklukan Palembang.

Kemampuan Palembang untuk mempertahankan diri dari serangan armada laut bangsa lain ini mungkin Karena warga Palembang memiliki kemampuan mumpuni dalam pertempuran di atas air, sebuah bakat besar yang pada abad ketujuh membuat orang-orang Palembang mampu mengendalikan perairan yang luas di selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Lalu saat Sriwjaya bubar, masyarakat yang mahir bertempur di atas air ini masih meneruskan keseharian mereka seperti di masa Sriwijaya, mengatur lalu lintas perairan selat Malaka dan menarik pajak dari berbagai kapal yang lalu lalang, namun bedanya sekarang tidak lagi membawa panji Sriwijaya, hanya panji-panji perorangan atau kelompok, sehingga sekarang mereka disebut bajak laut.

Memiliki bakat yang hebat diatas air adalah suatu anugerah yang luar biasa, apalagi telah dibuktikan penggunaannya sehingga mampu mendirikan kekaisaran seluas Sriwijaya dan kesultanan Palembang Darussalam, tidak ada yang bisa membantahnya dan membuat orang Palembang memiliki identitas yang berbeda dari lingkungan sekitarnya, ini adalah sesuatu yang layak dibanggakan, dirayakan dan dikenang, dan kenangan itu bentuk terbaiknya adalah berupa Museum Bahari Sriwijaya.

Museum Bahari Sriwijaya akan berisi 4 bagian, yaitu bagian Sriwijaya, bagian bajak Laut, Bagian Palembang Darussalam, yang ketiganya focus pada sejarah dan bagian Bahari Musi yang isinya berkaitan dengan budaya, menjelaskan mengenai bagaimana sungai Musi selama 1300 tahun telah membentuk kebudayaan manusia-manusia yang hidup dari dirinya, agar anak muda Palembang paham mengapa sungai Musi disebut laut dan lauk pauk selalu disebut ‘iwak’.

Penasarankan? Sama.

Mari berdoa dan berusaha bagi Museum Bahari Sriwijaya.

(Tulisan kedua dari tiga bagian)